Dalam halaqah bersama anak-anak muda belum lama ini, saya mengajak mereka berdiskusi tentang sebuah pertanyaan: mengapa seseorang memutuskan menjadi atheis?
Kita pernah membahas fenomena Qorun yang bakhil dan tamak, padahal awalnya ia gemar beribadah. Tak ada penjelasan yang lebih masuk akal untuk menjelaskan fenomena ini selain ia kalah melawan hawa nafsunya. Mengapa?
Hari ini, tanggal 1 Oktober, 24 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2002, saya menghadiri peluncuran sebuah buku di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI), di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Bayangkan bila suatu ketika ada seorang remaja putri bertanya kepadamu, "Mengapa Islam tak menghendaki wajah wanita dipajang di media sosial, sedang wajah laki-laki boleh? Apakah karena khawatir laki-laki yang melihat wajah wanita tersebut akan tergoda?"
Ketika Anda shalat sendirian di rumah, pernahkah Anda tergoda untuk cepat-cepat menyelesaikannya tanpa tuma'ninah, bahkan mengenakan pakaian seadanya sebagaimana Anda kenakan saat tidur?
Di dalam al-Qur'an surat Al-Hajj [22] ayat 11 Allah Ta'ala berfirman, "Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi. Maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata."
Adakalanya ketika kita berada di posisi atas, lalu mencoba melihat ke bawah, muncul perasaan, "Aku lebih hebat dari orang-orang yang berada di bawah sana." Dalam hal capaian, realitasnya mungkin benar. Bukankah fakta soal prestasi, kedudukan, atau jumlah harta, tak bisa dibohongi?
Tak lama lagi Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Sudah 81 tahun kita merdeka, bebas dari kungkungan Belanda, Jepang, dan Sekutu. Kita bisa berdaulat di negeri kita sendiri. Kita bisa melakukan banyak hal dengan aman, tanpa rasa cemas, tanpa ketakutan.
Awal Juli 2026 kita dikejutkan sebuah kabar dari Singapura. Di negara tersebut, menurut data Departemen Statistik Singapura (SingStat), satu dari empat penduduk mengaku tak memeluk agama apa pun. Data ini diperoleh dari hasil Survei Rumah Tangga Umum sepanjang 2025 yang dirilis pada Selasa (30 Juni 2026).
Coba periksa hatimu, apakah engkau pernah merasa bangga dengan ilmu yang engkau miliki? Jika ya, maka hati-hatilah! Perasaan bangga tersebut boleh jadi menipumu. Engkau akan menganggap dirimu hebat, lebih hebat dari kebanyakan orang, lalu engkau terlena. Engkau tak mau mendengar pendapat orang lain.
Cepat belum tentu baik. Apalagi bila kita memaksakan diri untuk menyelesaikan tugas secara cepat agar segera memperoleh hasil, lantas bertindak tergesa-gesa atau terburu-buru.
Telah kita bahas sebelumnya bahwa terdapat banyak penyakit hati yang perlu diwaspadai, bahkan oleh aktivis dakwah. Kita akan bahas beberapa di antaranya, dan kita awali dengan futur.
Jika Anda ditanya, "Apakah engkau yakin bahwa kelak Islam akan memenangkan pertarungan atas semua agama dan ideologi di muka bumi ini?" Apa jawab Anda?
Hasan al-Banna, pendiri harakah Ikhwanul Muslimin, menjelaskan tugas harakah Islamiyyah secara global dengan kata-katanya, sebagaimana dikutip oleh Fathi Yakan dalam bukunya Komitmen Muslim Kepada Harakah Islamiyyah:
Kita telah bahas dalam artikel sebelumnya bahwa proses iqro’ atau "membaca" ada baiknya dimulai dari “bertanya”. Proses bertanya merupakan reaksi awal setelah kita membaca ayat-ayat Allah Ta’ala. Bahkan adakalanya proses bertanya mendahului proses iqro’.
Suatu ketika disebuah grup WhatsApp (WA), seorang anggota grup bertanya kepada anggota lainnya, "Mengapa kamu tidak berkurban tahun ini?" Secara berkelakar, anggota grup yang ditanya memberi jawaban seperti ini, "Saya sudah berkurban kok, kurban perasaan."
Kita telah bahas sebelumnya bahwa seharusnya semua manusia merindukan "pulang ke kampung halamannya" di surga. Namun, kita juga tahu bahwa tak semua orang mengimani adanya "kampung halaman" itu.
Ada banyak nasehat kepada kita agar tidak makan sampai kekenyangan karena hal itu tidak disukai oleh Allah Ta'ala dan bisa berakibat buruk bagi kita. Di antara banyak nasehat itu, mari kita kupas dua nasehat saja, yang diambil dari buku berjudul Terapi Mental Aktivis Harakah karya Dr Sayyid Muhammad Nuh.