Hasan al-Banna, pendiri harakah Ikhwanul Muslimin, menjelaskan tugas harakah Islamiyyah secara global dengan kata-katanya, sebagaimana dikutip oleh Fathi Yakan dalam bukunya Komitmen Muslim Kepada Harakah Islamiyyah:
Kita telah bahas dalam artikel sebelumnya bahwa proses iqro’ atau "membaca" ada baiknya dimulai dari “bertanya”. Proses bertanya merupakan reaksi awal setelah kita membaca ayat-ayat Allah Ta’ala. Bahkan adakalanya proses bertanya mendahului proses iqro’.
Suatu ketika disebuah grup WhatsApp (WA), seorang anggota grup bertanya kepada anggota lainnya, "Mengapa kamu tidak berkurban tahun ini?" Secara berkelakar, anggota grup yang ditanya memberi jawaban seperti ini, "Saya sudah berkurban kok, kurban perasaan."
Kita telah bahas sebelumnya bahwa seharusnya semua manusia merindukan "pulang ke kampung halamannya" di surga. Namun, kita juga tahu bahwa tak semua orang mengimani adanya "kampung halaman" itu.
Awalnya, tugas seorang wartawan adalah memberikan informasi tentang apa yang ia lihat dan ia dengar. Dari informasi inilah masyarakat yang semula tidak tahu menjadi tahu.
Pernahkah Anda berpikir mengapa ada istilah kawasan Timur Tengah, sedang istilah Barat Tengah tidak pernah kita dengar? Jawabnya sederhana. Sebab, istilah “Timur Tengah” atau Middle East bukan istilah geografis murni, melainkan istilah geopolitik dan historis yang lahir dari sudut pandang Eropa.
Ada banyak nasehat kepada kita agar tidak makan sampai kekenyangan karena hal itu tidak disukai oleh Allah Ta'ala dan bisa berakibat buruk bagi kita. Di antara banyak nasehat itu, mari kita kupas dua nasehat saja, yang diambil dari buku berjudul Terapi Mental Aktivis Harakah karya Dr Sayyid Muhammad Nuh.