Kamis, 17 September 2020

Alangkah Mengerikan Jahannam Itu!

Allah Ta'ala banyak memberikan gambaran tentang neraka di dalam al-Quran. Pada beberapa ayat, neraka digambarkan sebagai api yang bergejolak dan mampu mengelupaskan kulit kepala (al-Maarij [70]:15-16 dan al-Muddassir [74]: 29). Pada ayat lain neraka digambarkan sebagai api yang sangat panas (al-Qoriah [101]:11) dan menyala-nyala (al-Mulk [67]:5).

Senin, 14 September 2020

Titian, Langkah, dan Petunjuk

Jika iman diibaratkan sebagai titian atau jalan, dan amal diibaratkan sebagai langkah, maka kita masih perlu satu hal lagi agar bisa sampai kepada tujuan. Satu hal tersebut adalah ilmu.

Kamis, 10 September 2020

Iman, Amal, dan Jalan yang Lurus

Islam adalah jalan keselamatan, jalan lurus yang akan mengantarkan manusia ke kampung halamannya di surga. Rasulullah SAW saat berkirim surat kepada Raja Romawi, Heraklius, dengan tegas menulis, Masuk Islam-lah, niscaya dirimu akan selamat,” (Riwayat Bukhari).

Rabu, 09 September 2020

Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam

[VIDEO] Majid adalah miniatur peradaban Islam. Membangun peradaban Islam selayaknya dimulai dari masjid. Untuk mengetahui lebih jauh hubungan mashid dan peradaban Islam berikut bincang saya dengan Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah, Dr Tasyrif Amin.

Senin, 07 September 2020

Kembali ke Kampung Surga

“Pulang kampung” adalah istilah yang akrab bagi para perantau. Mereka ingin sekali pulang karena rindu dengan tempat asalnya.

Surga adalah tempat asal manusia. Awalnya, Adam Alaihissalam (AS), nenak moyang manusia, ditempatkan oleh Allah Ta’ala di surga bersama sang istri, Hawa.

Wahai Adam!,” kata Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat Al Baqarah [2] ayat 35, “Tinggallah engkau dan isterimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini. Nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Rupanya, setelah berdiam di surga, Adam AS lalai. Akibatnya, beliau berdua diusir dari kampung halamannya, “pergi merantau” ke dunia.

Semua manusia di muka bumi ini adalah anak keturunan Adam AS. Mereka banyak memperoleh cerita tentang indahnya “kampung halaman” nenek moyang mereka dari mulut para Nabi dan para penerus risalah Nabi.

Tentang keindahan dan kenikmatan tersebut, Allah Ta’ala menggambarkan dalam Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, “Aku (Allah) telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh suatu balasan (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga , dan belum pernah terlintas di dalam hati” (Riwayat Bukhari).

Luas surga seluas langit dan bumi, sebagaimana diterangkan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat Ali Imron [3] ayat 133. Di dalamnya mengalir sungai dengan berbagai jenis air. Ada sungai dengan air jernih yang tidak berubah rasa dan baunya. Ada juga sungai susu yang juga tidak berubah rasanya. Ada sungai anggur (khamar) yang sangat lezat dan tidak memabukkan. Dan, ada sungai madu yang airnya terdiri atas madu murni yang disaring. Semua tergambar dalam al-Qur’an surat Muhammad [47] ayat 15.

Para penghuni surga benar-benarakan dimanjakan. Mereka mengenakan pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal. Mereka juga mengenakan gelang dari perak (Al Insan [76]:21), atau perhiasan yang terbuat dari emas dan mutiara (Fathir [35]: 33).

Makanan dan minuman beraneka macam selalu tersaji dalam piring dan gelas dari emas. Mereka bebas menikmatinya sesuka hati (Az-Zukhruf [43]:71). Mereka dilayani oleh pelayan-pelayan muda bagai mutiara yang bertaburan (Al Insan [76]:19).

Di dalam surga, tidak ada lagi permusuhan dan rasa dengki antara sesama penghuni. Mereka hidup rukun dan damai bagaikan saudara kandung. Mereka tak pernah merasa penat, lelah, atau letih. Mereka selalu merasa aman (Al-Hijr [15]:46-48).

Begitulah keadaan kampung halaman kita. Tak inginkah kita kembali ke sana? Logikanya, jelas ingin! Hanya saja, sebagian dari kita tidak benar-benar mengimaninya, sehingga tak sungguh-sungguh berusaha untuk pulang ke “kampung halaman” tersebut.

Sebagian lagi malah menganggap “kampung halaman” tersebut tidak ada. Atau, mereka menganggap ada, namun tidak mau mengimani jalan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW untuk menuju ke sana. Mereka enggan untuk taat.

Fenomena ini pernah diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (SAW) kepada para sahabatnya. Pada suatu hari, Rasulullah SAW berkata kepada mereka, “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.”

Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah (orang) yang enggan (masuk surga)?”

Rasulullah SAW menjawab, “Barang siapa yang taat kepadaku, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang tidak menaatiku berarti ia telah enggan (masuk surga).”

Dialog sederhana yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah ini memberi petunjuk kepada kita tentang jalan yang lurus dan jalan yang bengkok. Jalan yang lurus adalah jalan ketaatan kepada ajaran Rasulullah SAW, yang juga berarti taat kepada Allah Ta’ala. Sedangkan jalan yang begkok adalah jalan keingkaran kepada ajaran Rasulullah SAW.

Jalan yang lurus tentu saja berakhir di kampung halaman kita, tempat segala kenikmatan terkumpul di sana. Sedang jalan yang bengkok adalah jalan kesesatan yang akan berakhir di neraka, tempat segala penderitaan terkumpul di sana.

Wallahu a’lam ***

Kamis, 03 September 2020

Kunci Surga Ada Pada Taat

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (SAW) berkata kepada para sahabatnya, “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.”

Rabu, 02 September 2020

Munas V Hidayatullah Bakal Berlangsung Online

[VIDEO] Musyawarah Nasional ke V Hidayatullah yang akan berlangsung pada penghujung Oktober 2020 akan dilaksanakan secara virtual. Bagaimana teknis pelaksanaannya, berikut bincang saya dengan Ketua Panitia Munas V Hidayatullah, Wahyu Rahman. Selamat mengikuti.

Senin, 31 Agustus 2020

Tebarkan Dakwah kepada Semua

Awalnya, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam (SAW) berdakwah secara sembunyi-sembunyi kepada orang-orang terdekatnya. Strategi ini tentu karena kondisi ketika itu memang tak memungkinkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Sebagian besar ulama telah bersepakat bahwa apabila kaum Muslim berada pada posisi lemah (minoritas), maka keselamatan jiwa menjadi penting untuk diprioritaskan.

Kamis, 27 Agustus 2020

Jadilah Manusia yang Beruntung

Kewajiban berdakwah, menurut Ibnu Taimiyah, bersifat fardhu kifayah. Artinya, jika sebagian telah melakukannya maka yang lain gugurlah kewajibannya. Begitu pula sebaliknya, jika tak ada yang melakukannya, maka berdosalah seluruhnya.

Rabu, 26 Agustus 2020

Kiprah Hidayatullah Melayani Masyarakat

[VIDEO] Organisasi Islam Hidayatullah dari hari ke hari terus berkembang. Jumlah cabang di berbagai propinsi di Indonesia terus bertambah. Lantas bagaimana kiprah Hidayatullah melayani masyarakat di berbagai daerah tersebut? Berikut wawancara saya dengan Drg Fathul Adhim, M.KM, Ketua Bidang Pelayanan Umat DPP Hidayatullah.