Hari ini, tanggal 1 Oktober, 24 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2002, saya menghadiri peluncuran sebuah buku di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI), di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Kedatangan saya ke tempat itu karena diundang. Saat itu saya menjadi redaktur di sebuah koran nasional yang membawahi rubrik pustaka.
Sebetulnya, bukan saya yang diundang oleh mereka, melainkan media tempat saya berkiprah yang diundang. Mereka berharap acara peluncuran buku itu bisa dimuat di media yang saya garap.
Namun, seusai acara itu, saya tidak tertarik menulis laporan tentang peluncuran buku tersebut. Saya tidak tertarik dengan bukunya, tidak juga tertarik dengan penulisnya. Sebagai jurnalis, saya hanya penasaran ingin melihat seberapa banyak orang yang ikut acara peluncuran buku itu. Siapa saja tokoh yang hadir, dan seperti apa suasananya.
Saat masuk ke ruang aula tempat buku itu diluncurkan, saya cukup kaget. Saya taksir, lebih dari 500 orang sudah berkumpul di ruangan itu. Ada orang tua, namun kebanyakan anak-anak muda. Ada juga sejumlah tokoh, bahkan mereka yang disebut-sebut "kiai" juga hadir.
Buku yang diluncurkan itu berjudul "Aku Bangga Jadi Anak PKI." Penulisnya, Ribka Tjiptaning Proletariyati, seorang dokter yang kemudian menjadi anggota legislatif tingkat pusat dari PDI-P.
Saat peluncuran itu, Ribka bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah seorang anak PKI --sebagaimana yang ia tulis dalam bukunya-- yang lulus dari fakultas kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Saya pun tak pernah mendengar nama dia disebut-sebut sebelumnya.
Tapi, yang membuat saya kaget, dua tahun kemudian, tepatnya pada Pemilu Legislatif 2004, Ribka berhasil melenggang ke Senayan setelah didukung oleh lebih dari 28 ribu masyarakat Jawa Barat. Apakah buku kontroversial itu telah mengangkat namanya dan mendulang simpati masyarakat? Terus terang, saya tidak tahu!
Hari itu, 1 Oktober 2002, adalah juga Hari Kesaktian Pancasila. Hari ketika bangsa Indonesia memperingati kegagalan PKI melancarkan pemberontakan kepada negara, atau disebut juga dengan Gerakan 30 September (G30S). Mereka menculik dan menyiksa tujuh perwira TNI Angkatan Darat. Namun, hari itu, 61 tahun yang lalu, aksi mereka digagalkan oleh tentara.
Di hari ini, hari yang sama, mari kita merenung sejenak! Merenung tentang PKI, tentang orang-orang yang bangga menjadi anak PKI, juga orang-orang yang hari ini bangga menganut ideologi komunis.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat