Tak lama lagi Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Sudah 81 tahun kita merdeka, bebas dari kungkungan Belanda, Jepang, dan Sekutu. Kita bisa berdaulat di negeri kita sendiri. Kita bisa melakukan banyak hal dengan aman, tanpa rasa cemas, tanpa ketakutan.
Kemerdekaan yang kita raih ini sesungguhnya adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada suatu negara, sehingga rakyat di negara tersebut merasakan aman, dan pemerintahannya dapat leluasa mengatur rakyatnya kepada hal yang bermaslahat bagi mereka.
Kita akan semakin merasakan besarnya nikmat tersebut manakala kita menyaksikan negara-negara yang masih dijajah, bagaimana mereka merasa terancam dan tertekan, tak bisa tidur dengan tenang, selalu dihantu perasaan takut, kekayaan alam dirampas, hak-hak rakyat diambil, dan roda pemerintahan dikendalikan oleh penjajah.
Dengan demikian sejatinya keamanan dan kemerdekaan yang kita rasakan sekarang adalah nikmat yang sangat besar sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا
“Barang siapa yang di pagi harinya aman, sehat badannya, dan memiliki makanan pada hari itu, maka seakan-akan dunia beserta segala isinya diperuntukkan baginya.” (Riwayat Tirmidzi)
Bahkan Allah Ta'ala bersumpah demi kota yang aman dari ketakutan, yakni Makkah al-Mukarramah. Hal ini difirman oleh Allah Ta'ala dalam awal surat at Tin [95]: Wat-Tin, wazzaituun, watuurisiniin, wahazal baladil amiin (Demi tin dan zaitun, dan demi Gunung Sinai, dan demi negeri yang aman).
Oleh karena kemerdekaan adalah nikmat besar yang diberikan Allah Ta'ala kepada kita, Bangsa Indonesia, maka sudah sepatutnya kita syukuri agar nikmat itu tetap bersama kita dan tidak Allah cabu. Bahkan jika kita mensyukurinya, maka Allah akan tambahkan lagi nikmat tersebut untuk kita.
Hal ini secara jelas telah Allah Ta'ala firmankan dalam al-Qur'an surat Ibrahim [14] ayat 7: La'in syakartum la'azīdannakum wa la'in kafartum inna ‘ażābī lasyadīd (Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras).
Lalu seperti apa bentuk rasa syukur kita atas nikmat kemerdekaan itu?
Syukur adalah mengakui bahwa nikmat yang diperoleh berasal dari Allah Azza wa Jalla, menyebut-Nya dan memuji-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya, serta menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya, bukan untuk kemaksiatan.
Bagaimana mungkin dikatakan bersyukur jika sebagian kita memperingati kemerdekaan dengan mendirikan panggung-panggung hiburan, lalu digelar konser-konser musik dengan suara yang keras dan mengganggu warga sekitar, para wanita tampil bernyanyi sambil memamerkan aurat, para pria juga ikut menari dan terus berlangsung hingga larut malam sehingga banyak orang meninggalkan shalat Subuh keesokan harinya?
Bagaimana mungkin dikatakan bersyukur jika kemerdekaan ini disi dengan tindakan tercela dan tidak terpuji seperti merebaknya korupsi, kriminalitas, perzinaan, LGBT, ketidakadilan, dan tindakan kezaliman lainnya, baik kepada diri sendiri maupun orang lain?
Bagaimana pula disebut bersyukur jika kita malas bekerja, malas berpikir, dan malas berkorban, padahal Allah Ta'ala secara tegas menyatakan di dalam al-Qur'an surat Ar Ra’d [13] ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Ayat ini secara jelas mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan kita yang tadinya berada dalam kenikmatan, menggantinya dan kesengsaraan, kecuali jika muncul dari mereka kemaksiatan dan kerusakan.
Menurut Al Khazin, seorang mufasiir yang hidup pada abad ke-14, ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum yang berada dalam keselamatan, keamananan, dan kenikmatan, sebagaimana kita rasakan sekarang, sampai penduduknya mengubah keadaan diri mereka sendiri dari sebelumnya baik, kepada kemaksiatan dan pengingkaran atas nikmat-nikmat Allah Ta'ala. Ketika itu terjadi maka turunlah siksa-Nya kepada negeri tersebut.
Dan, bagaimana pula disebut bersyukur bila kita memahami kemerdekaan sebagai kebebasan secara mutlak. Bebas berbuat apa saja tanpa aturan, sebagaimana dianut oleh kaum liberalis. Ini adalah batil. Bahkan bebas dalam arti tidak mau diatur oleh ketentuan agama ibarat orang yang berkendara di jalan umum tapi tidak mau mengindahkan peraturan lalu lintas.
Padahal peraturan dibuat untuk kebaikan pengguna jalan. Jika peraturan tersebut diabaikan, maka yang terjadi adalah kemacetan, kecelakaan, dan kekacauan. Hidup tanpa aturan seperti hewan, di mana yang kuat menindas yang lemah, dan yang lemah tidak bisa dibela. Maka aturan dibuat untuk kebaikan manusia, dan tidak ada aturan yang terbaik melebih aturan yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa, Allah Ta'ala, dan disampaikan oleh Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.
Jadi, jika kita ingin negeri yang kita cintai ini tetap aman, damai, dan sejahtera, tak ada jalan lain kecuali taat kepada perintah Allah dan jauhi segala larangan-Nya, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an surat Al A’raaf ayat 96:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.
Jika kemerdekaan ini tidak menjadikan kita semakin taat kepada Allah Ta'ala, kebaikan tidak menjadi karakter kita sehari-hari, justru kemalasan dan tindakan tercela kita pelihara, maka tunggulah, ketentuan Allah akan berlaku pada diri kita.
Mungkin karena itu pula maka Allah Ta'ala, selain bersumpah demi negeri yang aman dalam surat at-Tin, juga bersumpah demi negeri yang selalu bergejolak, yakni Negeri Syam yang banyak ditumbuhi oleh tin dan zaitun.
Kita meminta kepada Allah agar Dia membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya, memberi taufik kepada kita untuk dapat menempuhnya, memberikan kepada kita istiqamah, dan mengaruniakan kepada kita husnul khatimah. Aamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat