Senin, 31 Agustus 2026

Tidak Masuk Surga Orang yang Takabbur Meski Seberat Dzarrah

Adakalanya ketika kita berada di posisi atas, lalu mencoba melihat ke bawah, muncul perasaan, "Aku lebih hebat dari orang-orang yang berada di bawah sana." Dalam hal capaian, realitasnya mungkin benar. Bukankah fakta soal prestasi, kedudukan, atau jumlah harta, tak bisa dibohongi?



Namun, ketika sikap "lebih hebat" ini membuat kita bangga dengan diri kita sendiri, maka berhati-hatilah! Boleh jadi, tanpa sadar, kita mulai melenceng pada jalan yang bengkok, jalan yang justru harus kita hindari.

Perasaan diri lebih tinggi, lebih hebat, lebih penting, dan menimbulkan sikap angkuh adalah ciri orang yang sombong. Dulu, ketika Allah Ta'ala menciptakan Adam AS dari tanah, iblis pernah berkata, "Aku lebih baik daripada dia. Engkau telah menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (Al-A‘raf [7]: 12).

Yang lebih berbahaya apabila sikap sombong ini disertai dengan sikap merendahkan orang lain dan tak mau mendengar nasehatnya, apalagi tunduk kepadanya. Ini pula yang terjadi dengan iblis. Dalam ayat tadi dikisahkan pula bahwa iblis menolak perintah Allah Ta'ala untuk sujud kepada Adam AS.

Kemudian, dalam lanjutan ayat tersebut Allah Ta'ala berfirman, “Turunlah kamu darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (Al-A'raf [7]: 13).

Sikap merasa diri lebih tinggi dan lebih hebat dari orang lain disertai sikap merendahkan mereka dan enggan untuk mendengarkan nasehat atau tunduk kepada mereka dinamakan takabbur.

Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits, mengatakan, "Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya ada penyakit kibr (takabbur) meskipun hanya seberat dzarrah." (Riwayat Muslim dalam Shahihnya: Kitabul Iman).

Di dalam al-Qur'an, makna takabbur cukup banyak disebutkan. Selain di surat al-A'raf [7] ayat 12, juga di ayat 146, "Akan Aku palingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang takabbur di muka dengan tidak haq..." Maksudnya, mereka menganggap diri mereka lebih utama daripada orang lain, dan bahwa mereka memiliki hak yang tidak dimiliki orang lain." (Lisaanul Arab 5:129, bahasan "kabura")

Namun, menurut DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah Atas Penyakit Mental dan Sosial Kontemporer Para Dai, takabbur berbeda dengan izzah. Takabbur berarti merasa tinggi dengan batil, sedang 'izzah ialah merasa tinggi dengan benar. Atau, takabbur itu mengingkari nikmat, dan 'izzah itu mengakui nikmat. Bila takabbur dilarang, maka sebaliknya, memiliki izzah justru dianjurkan dalam Islam.

Seringkali, sikap takabbur bersarang pada diri kita tanpa kita sadari. Bahkan, sikap tawadhu' orang lain yang berlebihan pun bisa membawa rasa takabbur pada diri kita. Ketika kita melihat seseorang yang berlebihan dalam tawadhu', tak mau berhias dan mengenakan pakaian bagus, tak mau peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang dirinya, bahkan mereka menolak tampil ke depan untuk memikul amanat dan tanggung jawab, maka muncullah kesan negatif pada dirinya.

Orang yang tidak mengetahui hakikat masalah yang sebenarnya akan mudah terpedaya oleh bisikan setan bahwa orang tersebut tidak menghiasi diri, tidak mengenakan pakaian yang bagus, dan tidak pernah tampil ke gelanggang untuk mengurusi umat semata-mata karena miskin dan tidak punya kemampuan.

Anggapannya ini kemudian berkembang dengan sikap memandang rendah dan hina orang tersebut. Sebaliknya, ia menganggap dirinya lebih besar, lebih hebat, dan lebih agung. Inilah dia penyakit takabbur.

Memang, tidak menampakkan nikmat yang diberikan Allah kepadanya bukanlah perkara yang dibenarkan. Allah Ta'ala berfirman, "Adapun nikmat Rabb-mu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan mensyukurinya)." (Dhuha: 11). Namun, merendahkan orang-orang seperti ini, jelas keliru.

Hal lain yang bisa mengundang datangnya sikap takabbur adalah rusaknya tolok ukur kemuliaan manusia. Saat ini ukuran kemulian seseorang telah bergeser. Seseorang dianggap mulia dan terhormat bila memiliki harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, atau prestasi dunia yang cemerlang, meskipun sesungguhnya dia ahli maksiat.

Sebaliknya, kebanyakan orang memandang rendah kepada mereka yang miskin, tak memiliki kedudukan apa-apa, dan prestasi dunianya juga tidak menonjol, meskipun ia seorang yang taat kepada Allah.

Orang-orang yang hidup pada masa ketika kemuliaan itu telah bergeser, akan mudah memandang rendah orang yang keliru. Padahal, al-Qur'an sudah sejak lama mengajarkan tolok ukur kemuliaan yang benar, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar." (Al-Mu'minun: 55-56).

Jadi, berhati-hatilah dengan sifat takabbur. Setan mudah sekali menggelincirkan manusia lewat sifat ini! ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat