Kamis, 30 Juli 2026

Mengapa Seseorang Memutuskan Ragu Untuk Meyakini Adanya Tuhan?

Awal Juli 2026 kita dikejutkan sebuah kabar dari Singapura. Di negara tersebut, menurut data Departemen Statistik Singapura (SingStat), satu dari empat penduduk mengaku tak memeluk agama apa pun. Data ini diperoleh dari hasil Survei Rumah Tangga Umum sepanjang 2025 yang dirilis pada Selasa (30 Juni 2026).


Yang menarik, mereka yang memilih tak mau memeluk satu pun agama ini cenderung berusia muda. Selain itu, peningkatan jumlah penduduk yang mengaku tidak beragama ini paling banyak dialami oleh warga Tionghoa. Sekitar tahun 2020, sekitar satu dari empat warga Tionghoa di negara itu mengaku tak memeluk satu agama pun. Sedang pada tahun 2025, angka itu naik menjadi satu dari tiga warga. 

Sedangkan secara keseluruhan di Singapura, juga mengalami kenaikan. Pada tahun 2020, satu dari lima warga mengaku tak memeluk satu agama pun, sedang tahun 2025, satu dari empat warga.

Lalu apa yang menyebabkan mereka ragu kepada adanya Tuhan? Sayangnya, berbagai berita yang merilis laporan tersebut tak menyebutkan hal itu. Mungkin saja survei tersebut memang tak sampai pada pertanyaan itu. Namun, kita bisa menduga kuat penyebabnya ada dua.

Pertama, mereka menemukan banyak kejanggalan pada agama yang mereka anut sebelumnya. Mana mungkin seseorang akan mengimani ajaran agamanya sendiri bila semakin ia pelajari, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan.

Kedua, mereka tak menemukan solusi yang ditawarkan agama yang mereka peluk atas semua permasalahan yang mereka hadapi. Agama berada tinggi di langit, sedang realitas kehidupan terhampar di muka bumi. Mereka sebenarnya berharap setidaknya agama bisa membuat hati lebih tentram. Namun, jika itu saja tak mereka dapatkan, ya untuk apa beragama?

Andai kita mau jujur, kedua penyebab ini tak ditemukan dalam Islam. Bukankah dari dulu sampai sekarang, tak ada seorang pun yang menemukan kejanggalan dalam ajaran Islam? Kalau pun awalnya ada, bukankah pada akhirnya semua bisa diluruskan? 

Bahkan, ajaran pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah seruan agar manusia "membaca" (iqra'). Artinya, kesempurnaan Islam akan terlihat jika kita banyak membaca. Bukan sebaliknya, semkain banyak dipelajari, semakin banyak pula terlihat kejanggalannya.

Selain itu, Islam adalah sistem hidup, tuntunan yang lengkap, baik pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Karena itu, jika Islam dijalankan secara utuh maka ia menjadi solusi atas seluruh persoalan hidup yang dihadapi manusia. Islam memberikan harapan bahwa semua akan baik-baik saja. 

Lalu mengapa satu dari empat warga Singapura tadi tidak memeluk Islam saja, malah memilih tak beragama? Jawabnya, pertama, boleh jadi karena mereka sudah terlanjur kecewa dan tidak mau lagi melakukan iqra' kepada agama mana pun. Kedua, mereka tak mau hidupnya diatur oleh agama. Mereka ingin bebas. Bebas sebebas-bebasnya.

Ketiga ---ini yang paling penting-- Allah Ta'ala belum berkenan memberi mereka hidayah. Mungkin saja, pada akhirnya, hidayah itu akan turun seiring kehidupan mereka yang kian jauh dari ketenangan. Mereka akan menyadari bahwa kebebasan yang mereka inginkan justru kian menjauhkan mereka pada fitrah, dan ini menyebabkan mereka tak bahagia.

Celakalah bagi mereka yang tak juga mendapat hidayah sementara perjalanan hidup telah sampai pada ujung. Na'udzubillahi min dzalik. Sebaliknya, berbahagialah mereka yang mendapat hidayah dari Allah Ta'ala sebelum ajal datang menjemput.  

Allah Ta'ala berfirman, "Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (Al-An'am [6]: 125). ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat