Senin, 22 Juni 2026

Ghurur, Penyakit Hati yang Menjangkit Diam-diam

Kata ghurur, menurut Kamus Bahasa Arab Klasik Lisaan al-Arab berarti sesuatu yang memperdaya atau menipu. baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, atau keduanya (diri sendiri dan orang lain).


Di dalam al-Qur'an, Allah Ta'ala menyebut kata ghurur dengan makna seperti ini. Allah Ta'ala berfirman, "(Setan) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong mereka. Padahal, setan tidak menjanjikan kepada mereka, kecuali tipuan belaka." (An-Nisa' [4]: 120)

Arti lainnya adalah memperdayakan atau melenakan. Ahli bahasa Arab klasik, Ismail bin Hammad al-Jauhari, menyatakan dalam kamusnya, al-Shihah fi al-Lughah, bahwa al-ghurÅ«r —dengan dhammah pada huruf ghain—sebagai kesenangan atau kekayaan dunia yang menipu.

Di dalam al-Qur'an, Allah Ta'ala juga menyebut kata ghurur dengan makna seperti ini. Allah Ta'ala berfirman, "Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah," (Fathir [35]: 5).

Ghurur bisa pula dimaknai sebagai perasaan bangga (i'jab) terhadap diri sendiri dengan merendahkan dan meremehkan segala sesuatu yang timbul dari orang lain, tetapi tidak sampai merendahkan orangnya. Orang yang seperti ini jelas telah tertipu.

Sebab-sebab Ghurur

Apabila penyakit ghurur muncul karena seseorang telah terjangkiti penyakit i'jab bin nafsi (berbangga diri) yang amat sangat, maka sebab-sebab yang menimbulkan ghurur ini ialah sebab-sebab yang menimbulkan i'jab bin-nafsi. 

Salah satu contoh penyebab ini adalah enggan melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap diri sendiri.dan kerap memandang rendah dan hina segala sesuatu yang dilakukan orang lain. Orang seperti ini jelas telah tertipu.  

Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr [59]: 18)

Penyakit ini juga sering muncul karena berlebihan dalam beragama. Dalam diri aktivis yang berlebihan seperti ini seringkali muncul perasaan dirinya lebih baik dibanding orang lain. Apalagi bila ia melihat beberapa aktivis biasa-biasa saja dalam menjalankan manhajnya. Ia lantas menduga orang lain sangat kurang dalam menerapkan manhaj. Lantas muncul perasaan merendahkan dan meremehkan sikap yang dilakukan orang lain itu.

Begitu juga bila seseorang berlebih-lebihan dalam mendalami suatu ilmu. Apalagi bila ia juga mendalami hal-hal tak biasa, rumit, njelimet, dan tak dilakukan aktivis lain.

Kemudian ia mengemukakan apa yang didalaminya kepada orang lain yang pengetahuannya tidak sampai kepada masalah tersebut. Karena orang lain ini tidak dapat merepon apa yang dibicarakannya maka ia menganggap pengetahuan orang itu dangkal. Anggapan ini terus merayap dalam hatinya hingga akhirnya ia meremehkan dan merendahkan orang lain. Inilah penyakit ghurur.

Cara Mengobati Ghurur

Cara paling ampuh mengobati ghurur adalah selalu mengingat pentingnya sikap moderat (tengah-tengah). Artinya, kita perlu seimbang dalam segala hal, apalagi masalah yang mubah. Jangan berlebih-lebihan dan selalu periksa hati kita apakah sudah berjangkit perasaan ujub (berbangga diri)? Jika sudah ada gejala, hati-hatilah! 

Cara lain adalah dengan selalu memperhatikan dampak dan akibat buruk yang ditimbulkan oleh ghurur. Ini untuk menyadarkan dan menggugah hati kita untuk selalu berusaha membebaskan diri dari penyakit tersebut. Sadarkan diri kita bahwa kelak, ketika tiba hari di mana kita tak bisa lagi kembali ke dunia untuk menghapus segala kesalahan dan kekeliruan, maka yang ada hanyalah penyesalan.

Allah Ta'ala berfirman, "Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (Al-Mu'minun [23]: 99-100)." (Al-Mu'minun: 99-100).

BACA JUGA:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat