Senin, 22 Juni 2026

Ghurur, Penyakit Hati yang Menjangkit Diam-diam

Coba periksa hatimu, apakah engkau pernah merasa bangga dengan ilmu yang engkau miliki? Jika ya, maka hati-hatilah! Perasaan bangga tersebut boleh jadi menipumu. Engkau akan menganggap dirimu hebat, lebih hebat dari kebanyakan orang, lalu engkau terlena. Engkau tak mau mendengar pendapat orang lain. 


Inilah ghurur, satu dari beberapa sifat yang bisa membelokkan seseorang dari jalan yang lurus. Kata ghurur, menurut Kamus Bahasa Arab Klasik Lisaan al-Arab, berarti sesuatu yang menipu atau memperdaya. Di dalam al-Qur'an, Allah Ta'ala menyebut kata ghurur dengan makna seperti ini. "(Setan) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong mereka. Padahal, setan tidak menjanjikan kepada mereka, kecuali tipuan belaka (ghurur)." (An-Nisa' [4]: 120)

Dalam pengertian yang lebih sederhana, ghurur berarti keadaan di mana seseorang tertipu oleh hawa nafsu, dunia, setan, atau bahkan amalnya sendiri, sehingga menyangka dirinya berada di jalan yang benar, padahal tidak demikian. 

Beberapa contoh ghurur ---selain menganggap dirinya hebat sebagaimana diungkakan di atas--- adalah merasa dirinya kaya dan punya segalanya sehingga tak butuh lagi pertolongan Allah Ta'ala, merasa telah banyak berbuat baik sehingga yakin akan masuk surga, atau merasa dirinya masih muda sehingga menunda taubat.

Kadang kala --walaupun tidak selalu-- ghurur ini disertai dengan merendahkan orang lain. Ini yang lebih berbahaya. Perasaan bangga (i'jab) atas capaiannya menyebabkan ia meremehkan segala sesuatu yang timbul dari orang lain. Jika sudah begini, maka penyakit ghurur tersebut telah melahirkan penyakit baru bernama takabbur

Lantas, apa yang menyebabkan seseorang terjangkiti penyakit ghurur?

Biasanya, perasaan bangga terhadap diri-sendiri muncul karena kita berlebih-lebihan dalam berbuat sesuatu, seperti mempelajari ilmu. Kita banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari hal-hal yang sulit, njelimet, rumit, sedang orang lain tidak. Lalu pelan-pelan muncullah perasaan bahwa orang lain tidak memiliki kelebihan seperti dirinya. Lama-lama, ia pun mulai merendahkan orang lain dan tak mau mendengar pendapat mereka. 

Sebab lainnya adalah enggan melakukan introspeksi diri (muhasabah). Kita jarang memeriksa hati, sehingga tak sadar bahwa rasa bangga pada diri sendiri perlahan tumbuh. Padahal, Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr [59]: 18).

Cara yang ampuh untuk menghindari ghurur adalah perkuat iman. Orang-orang yang imannya kuat tentu sadar sesadar-sadarnya bahwa kelak, ketika tiba hari di mana kita tak bisa lagi kembali ke dunia untuk menghapus segala kesalahan dan kekeliruan, maka yang ada hanyalah penyesalan.

Allah Ta'ala berfirman, "Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." (Al-Mu'minun [23]: 99-100).

Iman yang kuat akan menimbulkan perasaan takut pada dosa dan kesalahan. Perasaan takut tersebut menyebabkan ia senantiasa berhati-hati agar tidak tergelincir. Ia selalu memeriksa hatinya dan memastikan bahwa jalan yang ia tempuh masih lurus menuju surga. ***


BACA JUGA:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat