Kita pernah membahas fenomena Qorun yang bakhil dan tamak, padahal awalnya ia gemar beribadah. Tak ada penjelasan yang lebih masuk akal untuk menjelaskan fenomena ini selain ia kalah melawan hawa nafsunya. Mengapa?
Islam tak melarang seorang Muslim menjadi kaya. Banyak sahabat Rasulullah SAW yang kaya raya. Yang dikhawatirkan oleh Islam adalah apabila kekayaan yang ia dapatkan justru membuat ia menuruti hawa nafsunya. Itulah yang terjadi dengan Qorun. Ia gagal mengendalikan keinginannya terhadap kekayaan, kebanggaan diri, dan kedudukan.
Hawa nafsu cendrung kepada keburukan. Hal ini difirmankan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur'an, “Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu mendorong kepada keburukan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf [12]: 53).
Itu berarti nafsu yang tak bisa dikendalikan akan menimbulkan penyakit hati. Semakin tak terkendali, semakin parahlah penyakitnya. Misal, seseorang yang sangat mencintai harta bisa jadi akan menjadi kikir, sombong, bahkan tega mengambil hak orang lain. Begitu pula seseorang yang sangat ingin memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat boleh jadi akan merendahkan orang lain.
Perlu dicatat bahwa bukanlah setiap keinginan manusia itu buruk. Yang menjadi persoalan adalah hawa nafsu yang mendorong seseorang kepada keburukan dan menguasai dirinya hingga mengabaikan petunjuk Allah Ta'ala.
Memang, mengendalikan hawa nafsu bukan perkara mudah. Ia butuh usaha. Allah Ta'ala berfirman, “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi‘at [79]: 40–41).
Kata naha dalam ayat tersebut berarti mencegah atau melarang. Ungkapan ini menggambarkan adanya usaha aktif untuk menahan diri dari keinginan yang dapat menjerumuskan kepada kemaksiatan. Artinya, seseorang tidak selalu bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh dirinya. Selalu ada dorongan yang harus dilawan dan dikendalikan.
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang melawan dirinya sendiri.” (Riwayat Imam at-Tirmidzi dalam Jāmi‘ at-Tirmidzi).
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa perjuangan seorang Muslim bukan hanya menghadapi tantangan dari luar, tetapi juga menghadapi dirinya sendiri. Itulah hawa nafsu. Misalnya, seseorang mengetahui bahwa berbohong itu dosa, namun ketika kejujuran berisiko membuatnya kehilangan keuntungan, ia tergoda untuk berbohong.
Allah Ta'ala berfirman, “Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya ...” (Al-Jatsiyah [45]: 23).
Ayat ini menggambarkan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai penentu utama dalam hidupnya. Ketika hawa nafsu menjadi ukuran, seseorang cenderung menerima sesuatu yang menguntungkan dirinya dan menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, meskipun kebenaran telah jelas baginya.
Di sinilah penyakit hati dapat menjadi semakin serius. Kesombongan, misalnya, bukan hanya membuat seseorang merasa lebih hebat, tetapi juga dapat membuatnya sulit menerima nasihat. Demikian pula iri hati dapat membuat seseorang sulit mengakui kelebihan orang lain.
Dengan demikian, hawa nafsu bukan hanya dapat melahirkan perilaku buruk, melainkan juga dapat menghalangi seseorang untuk menyadari dan memperbaiki keburukan dalam dirinya.
Lalu apa yang harus dilakukan agar kita bisa mengendalikan hawa nafsu? Jawabnya, peliharalah iman! Jangan biarkan iman kita turun. Pertahankan iman dengan senantiasa ber-iqra', yakni membaca ayat-ayat Allah Ta'ala, baik ayat kauniyah maupun kauliyah.
Selain itu, iman bisa terjaga bila kita saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Artinya, kita tak boleh bersendirian. Kita harus berada bersama-sama orang yang bersedia memberi nasehat kebaikan kepada kita.
Dan, yang paling penting, mintalah selalu kepada Allah Ta'ala untuk menjaga hati agar tetap berada dalam keadaan iman. Hanya Dia yang mampu membolak-balikkan hati kita. *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat