Pertengahan 2026 lalu, sebagaimana kebiasaan saya di awal perkuliahan yang saya ampu, saya mengajukan dua pertanyaan kepada mahasiswa semester 5 jurusan komunikasi.
Pertanyaan pertama, jika rasa sangat suka ditandai dengan angka 5, dan rasa sangat tidak suka ditandai dengan angka 1, sedang angka-angka di antara keduanya melambangkan pergeseran dari rasa suka ke rasa tidak suka, maka tulislah jawaban berupa angka yang tepat menurut kalian terhadap pertanyaan: Apakah kalian suka menulis?
Pertanyaan kedua, jelaskan apa alasan jawaban pada pertanyaan nomor satu.
Pada pertanyaan pertama, sedikit sekali yang menjawab nomor 1 atau nomor 5. Maklum, ini kelas komunikasi. Para mahasiswa sudah paham bahwa menulis adalah bagian dari komunikasi.
Namun, cukup banyak yang menjawab nomor 2. Begitu pula nomor 3 dan 4. Posisi ketiganya hampir berimbang.
Yang menarik, apa alasan jika mereka mengaku tidak suka menulis padahal mereka telah memilih kuliah di jurusan komunikasi? Saya telah merangkum jawabannya seperti ini:
1. Tidak punya ide
2. Tidak paham bagaimana cara menulis yang baik, dan tidak tahu dari mana memulainya
3. Cepat bosan, apalagi dengan aktivitas yang dilakukan terus menerus. Kalau sudah begini, kata mereka, biasanya muncul perasaan malas.
4. Merangkai kata-kata itu kegiatan yang memusingkan dan ribet.
5. Menulis itu adalah bakat, sedang sebagian dari mereka mengaku tidak memiliki bakat menulis
6. Dari kecil tidak pernah dibiasakan menulis oleh lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah. Jadi, tidak ada motivasi untuk menulis.
Lantas, apa pula alasan mereka menyukai menulis? Saya juga sudah merangkumnya dan menyimpulkan enam alasan, yaitu:
1. Dengan menulis, dapat menguraikan segala hal dengan lebih terstruktur
2. Dengan menulis, hidup seperti lebih tertata
3. Menulis adalah cara menuangkan apa yang ada di dalam pikiran, menuangkan perasaan, bahkan meluapkan emosi.
4. Sebagian dari mereka mengaku tidak terbiasa bericara langsung di depan orang banyak. Mereka lebih suka mengungkapkan pikiran, gagasan, dan pendapat dalam betuk tulisan. Sebab, bisa lebih rapi dan terstruktur.
5. Menulis itu membuat otak tenang. Sebab, semua yang ada di kepala, yang tadinya terasa riuh, ketika sudah menjadi tulisan, rasanya sangat ringan.
6. Sebagian dari mereka sering menulis di buku harian. Buku harian menjadi tempat meluapkan apa yang ada di hati dan pikiran tanpa takut dijudge orang lain. Kata mereka, "Setelah menulis, saya biasanya merasa plong. Menulis seperti teman bagi saya."
Lalu bagaimana dengan Anda? ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat