Dalam halaqah bersama anak-anak muda belum lama ini, saya mengajak mereka berdiskusi tentang sebuah pertanyaan: mengapa seseorang memutuskan menjadi atheis?
Jawaban mereka menarik! Ada yang menjawab karena rasa kecewa. Maksudnya, seseorang kecewa kepada Tuhan yang tak kunjung membantu dia mengatasi semua persoalan hidupnya, padahal ia sudah sering berdoa. Maka, pada suatu titik, ia akan memutuskan, "Jangan-jangan tuhan itu tidak ada."
Yang lain memberikan jawaban bahwa orang-orang yang tak mau ribet diatur oleh agama dan lebih suka mengisi hidup dengan kesenangan dunia cendrung menjauh dari Tuhan. Bahkan, pada satu titik, ia akan menyimpulkan, "Ah, lebih aman jika saya menganggap Tuhan itu tidak ada!"
Ada pula yang mengatakan bahwa orang-orang yang terlihat pintar terkadang menganggap agama terlalu menyederhanakan persoalan hidup. Misalnya, agama mengajarkan bahwa rezeki semua manusia sudah diatur oleh Tuhan. Akibatnya, manusia tak perlu lagi bekerja keras.
Untuk yang terakhir ini, saya ingat apa yang diungkapkan Dr Fahruddin Faiz dalam salah satu channel youtube ketika mengupas buku Madilog dan jalan berpikir Tan Malaka. Katanya, Tan Malaka ingin mengubah mindset masyarakat Indonesia yang menurutnya cenderung fatalis, pasrah, lillahi ta'ala, mistik, bahkan berbau klenik.
Di mata Tan Malaka, menurut Fahruddin, masyarakat Indonesia lebih tertarik dengan hal-hal yang ghaib ketimbang hal-hal yang nyata. "Kalau dijajah Belanda ya tenang saja, karena dunia ini hanya sementara. Cuma mampir numpang minum sebentar. Ngapain ngoyo-ngoyo (mengurus dunia). Biar saja (kita dijajah), hidup ini gak lama kok," kata Fahruddin menebak jalan berpikir Tan Malaka tentang masyarakat Indonesia ketika itu.
Sayangnya, alih-alih meluruskan pemikiran yang keliru ini, justru Tan Malaka menyodorkan konsep baru yang --jika tak memaknainya dengan benar--- juga akan menyesatkan cara berpikir masyarakat Indonesia, terutama Indonesia.
Tan Malaka mengajak masyarakat Indonesia untuk mempercayai sesuatu yang bisa diindera, bukan kepada hal-hal ghaib. Sesuatu yang bisa diindera itu disebut materi, unsur pertama dari Madilog (materi, dialektika, dan logika). Sepintas, cara berpikir seperti ini seolah-olah ada benarnya. Tapi, jika diteruskan, lama-lama manusia tak butuh lagi Tuhan.
Mungkin saja, pemahaman Islam masyarakat pada masa lampau memang sebagaimana disebutkan Tan Malaka. Mereka memaknai ibadah hanya sebatas ritual saja. Padahal, dimensi ibadah itu sangat luas. Bahkan, bekerja mencari uang pun bisa bernilai ibadah, apalagi berjuang membebaskan negara dari penjajahan.
Semua persoalan yang dikemukakan tadi, bila direnungi dengan hati yang jernih, disertai proses ber-iqra' dengan benar, insya Allah akan ditemukan jawabannya. Namun, sebagaimana penyakit fisik, dokter tak akan mampu mengobatinya tanpa tahu dulu gejala sakitnya.
Begitu juga penyakit iman, tak akan mampu kita membantu mengobatinya jika tak paham apa penyebabnya. *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat