Satu lagi perbuatan ringan namun dampaknya amat besar, yakni riya' dan sum'ah. Bahkan, dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengidentikkan perbuatan riya' dengan syirik.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada kalian semua adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya".
Riya' berasal dari kata araa (melihat) dan riya 'un (memperlihatkan). Dengan begitu riya' berarti memperlihatkan atau memamerkan amal shaleh kepada orang lain dengan maksud untuk mencari kedudukan (pamrih) di antara mereka.
Di dalam al-Qur'an, kata riya' disebutkan oleh Allah Ta'ala beberapa kali, antara lain dalam surat Al-Ma'un [107] ayat 6 dan 7, "Orang-orang berbuat riya', dan enggan membayarkan zakat."
Sedang sum'ah, menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bary juz 11, berasal dari kata sami'a yang berarti "mendengar". Jadi sum'ah bisa berarti memperdengarkan apa yang telah diamalkan, yang sebelumnya tersembunyi atau rahasia.
Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia." (Al-Baqarah [2]: 264),
Perbuatan riya' dan sum'ah bisa terjadi pada siapa saja, bahkan seorang aktivis dakwah sekalipun bisa tanpa sadar terjebak melakukannya. Beberapa sebab seseorang melakukan riya' dan sum'ah di antaranya berkawan atau bergaul dengan orang yang gemar berbuat buruk, keinginan untuk dipuji orang lain, keinginan untuk menempati posisi tertentu, ketamakan pada urusan dunia, gemar bertindak sok (over-acting) kepada orang-orang yang berada di bawahnya, mencari popularitas di masyarakat.
Adapun tanda-tanda yang harus diwaspadai seseorang telah terjangkiti penyakit riya' adalah: Pertama, bila disanjung ia akan bersemangat beramal, tapi bila dicela atau tidak ada sanjungan sama sekali, ia tidak akan beramal.
Kedua, bila ada di tengah orang, dia giat beramal. Namun, bila sendirian dia menjadi malas. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, "Tanda-tanda orang berbuat riya' adalah malas (beramal) bila dia sendirian, dan bersungguh-sungguh bila ada di tengah-tengah orang. Dia akan menambah amalannya bila dipuji, dan akan melanggar larangan bila sendirian." (Al-Ghazali dari Al-Ihya').
Ketiga, berpura-pura shaleh dan menjauhi larangan Allah bila berada di tengah-tengah orang lain, dan melanggar larangan tersebut bila sendirian. Rasulullah SAW bersabda, "Aku beritahukan tentang kaum-kaum umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan seperti gunung-gunung Makkah yang putih. Namun Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu sebagai debu yang berhamburan. Bukankah mereka saudara-saudaramu juga? Mereka akan bangun di tengah malam, sebagaimana kalian beribadat di tengah malam, akan tetapi bila mereka sendirian, mereka akan melanggar larangan Allah." (Riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab Az-Zuhd, bab: Dzikru Adz-Dzunub).
Sedang sum'ah, menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bary juz 11, berasal dari kata sami'a yang berarti "mendengar". Jadi sum'ah bisa berarti memperdengarkan apa yang telah diamalkan, yang sebelumnya tersembunyi atau rahasia.
Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia." (Al-Baqarah [2]: 264),
Perbuatan riya' dan sum'ah bisa terjadi pada siapa saja, bahkan seorang aktivis dakwah sekalipun bisa tanpa sadar terjebak melakukannya. Beberapa sebab seseorang melakukan riya' dan sum'ah di antaranya berkawan atau bergaul dengan orang yang gemar berbuat buruk, keinginan untuk dipuji orang lain, keinginan untuk menempati posisi tertentu, ketamakan pada urusan dunia, gemar bertindak sok (over-acting) kepada orang-orang yang berada di bawahnya, mencari popularitas di masyarakat.
Adapun tanda-tanda yang harus diwaspadai seseorang telah terjangkiti penyakit riya' adalah: Pertama, bila disanjung ia akan bersemangat beramal, tapi bila dicela atau tidak ada sanjungan sama sekali, ia tidak akan beramal.
Kedua, bila ada di tengah orang, dia giat beramal. Namun, bila sendirian dia menjadi malas. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, "Tanda-tanda orang berbuat riya' adalah malas (beramal) bila dia sendirian, dan bersungguh-sungguh bila ada di tengah-tengah orang. Dia akan menambah amalannya bila dipuji, dan akan melanggar larangan bila sendirian." (Al-Ghazali dari Al-Ihya').
Ketiga, berpura-pura shaleh dan menjauhi larangan Allah bila berada di tengah-tengah orang lain, dan melanggar larangan tersebut bila sendirian. Rasulullah SAW bersabda, "Aku beritahukan tentang kaum-kaum umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan seperti gunung-gunung Makkah yang putih. Namun Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu sebagai debu yang berhamburan. Bukankah mereka saudara-saudaramu juga? Mereka akan bangun di tengah malam, sebagaimana kalian beribadat di tengah malam, akan tetapi bila mereka sendirian, mereka akan melanggar larangan Allah." (Riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab Az-Zuhd, bab: Dzikru Adz-Dzunub).
Allah Ta'ala tidak akan menerima amal seseorang kecuali amal itu dilakukan dengan ikhlas, murni untuk-Nya semata. Amalnya se-mata-mata untuk mencari ridha-Nya.
Adapun orang yang berbuat riya' dan sum'ah, ketika beramal maka ia telah membagi amal tersebut menjadi dua bagian: Pertama, bagi dirinya sendiri, kedua orang lain. Bukan Lillahi Taala (bagi Allah semata). Bagaimana mungkin Allah akan menerima amaliah semacam itu, dan bagaimana mungkin pula Allah akan memberikan pahala kepadanya.
Allah Taala berfirman, "Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Maha Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman." (Thaha: 111)
Ayat tersebut mengandung pengertian, bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah. Karena itu, semua amal semestinya diniatkan secara ikhlas untuk-Nya semata. Dan sungguh merugilah orang yang riya' dan zhalim dalam amalnya. Dia akan merugi lanta-ran amalnya akan menjadi seperti abu yang berhamburan, hilang di-tiup angin atau terbawa hujan.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian ialah syirkul-ashghar." Lalu para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah syirkul-ashghar itu?" Jawab Rasulullah, "Riya,"
Allah 'Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat ketika Dia membalasi (amal) hamba-hamba-Nya: "Pergilah kalian kepada orang yang kalian pameri amal-amalmu, adakah kalian mendapat imbalan dari mereka?" (HR. Ahmad).
Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi, "Aku tidak perlu didukung oleh sekutu. Barangsiapa yang mempersekutukan Aku dalam beramal, maka Aku berlepas diri darinya. Dan amal tersebut hanya tercurah pada kesyirikan (tidak untuk-Ku)." Hadits ini dike-luarkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Az-Zuhd bab: Ar-Riya, wa As-Sum'ah
Sesungguhnya manusia yang pertama kali mendapat keputusan hukum dari Allah adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Ketika dia dihadapkan dan nikmat (mati syahid) diperlihatkan kepadanya, sehingga dia mengenalnya, lantas Allah bertanya padanya, "Apa yang telah kau perbuat (niatkan dalam hatimu)?" Orang tersebut menjawab, "Saya turut berperang karena Engkau ya Allah, sehingga saya mati syahid." Allah Taala kemudian berkata, "Dusta engkau. Sesungguhnya engkau berjuang tidak lain agar engkau disebut pemberani." Maka, Allah pun memerintahkan agar orang tersebut dilemparkan ke dalam neraka.
Adapun orang yang berbuat riya' dan sum'ah, ketika beramal maka ia telah membagi amal tersebut menjadi dua bagian: Pertama, bagi dirinya sendiri, kedua orang lain. Bukan Lillahi Taala (bagi Allah semata). Bagaimana mungkin Allah akan menerima amaliah semacam itu, dan bagaimana mungkin pula Allah akan memberikan pahala kepadanya.
Allah Taala berfirman, "Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Maha Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman." (Thaha: 111)
Ayat tersebut mengandung pengertian, bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah. Karena itu, semua amal semestinya diniatkan secara ikhlas untuk-Nya semata. Dan sungguh merugilah orang yang riya' dan zhalim dalam amalnya. Dia akan merugi lanta-ran amalnya akan menjadi seperti abu yang berhamburan, hilang di-tiup angin atau terbawa hujan.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian ialah syirkul-ashghar." Lalu para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah syirkul-ashghar itu?" Jawab Rasulullah, "Riya,"
Allah 'Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat ketika Dia membalasi (amal) hamba-hamba-Nya: "Pergilah kalian kepada orang yang kalian pameri amal-amalmu, adakah kalian mendapat imbalan dari mereka?" (HR. Ahmad).
Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi, "Aku tidak perlu didukung oleh sekutu. Barangsiapa yang mempersekutukan Aku dalam beramal, maka Aku berlepas diri darinya. Dan amal tersebut hanya tercurah pada kesyirikan (tidak untuk-Ku)." Hadits ini dike-luarkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Az-Zuhd bab: Ar-Riya, wa As-Sum'ah
Sesungguhnya manusia yang pertama kali mendapat keputusan hukum dari Allah adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Ketika dia dihadapkan dan nikmat (mati syahid) diperlihatkan kepadanya, sehingga dia mengenalnya, lantas Allah bertanya padanya, "Apa yang telah kau perbuat (niatkan dalam hatimu)?" Orang tersebut menjawab, "Saya turut berperang karena Engkau ya Allah, sehingga saya mati syahid." Allah Taala kemudian berkata, "Dusta engkau. Sesungguhnya engkau berjuang tidak lain agar engkau disebut pemberani." Maka, Allah pun memerintahkan agar orang tersebut dilemparkan ke dalam neraka.
Setelah itu orang yang mencari ilmu yang mengajarkannya dan yang suka membaca Al-Qur'an. Orang tersebut dihadapkan ke-pada Allah dan ditunjukkan kepadanya amal-amalannya. Orang itu pun mengenalnya bahwa itu amalnya sendiri.
Allah Taala bertanya kepadanya, "Untuk apa engkau melakukan itu semua?" la menjawab: "Saya melakukan amal tersebut demi Engkau Ya Allah." Allah berkata, "Dusta engkau. Dirimu mencari ilmu agar disebut sebagai alim, dan engkau membaca Al-Qur'an agar engkau disebut qari' yang baik." Maka diperintahkan oleh Allah agar dia dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian ada pula orang yang diluaskan rezekinya dan diberi berbagai macam nikmat. Maka, orang itu pun ditanya Allah, "Apa yang telah kau perbuat dengan nikmat tersebut?" Orang itu menjawab, "Hamba tidak pernah meninggalkan perbuatan baik yang Engkau sukai, kecuali aku infakkan demi (mencari ridha) Engkau." Maka kata Allah, "Dusta engkau. Engkau lakukan hal itu agar disebut dermawan." Maka Allah perintahkan agar orang tersebut dijebloskan ke dalam neraka.
Hadits di atas dikeluarkan Imam Muslim dalam shahihnya, Kitab Al-Imarah, bab: Man qatala li Ar-Riya' wa as-Sum'ah isfahaqqa an-nar dari hadits Abu Hurairah). ***
Allah Taala bertanya kepadanya, "Untuk apa engkau melakukan itu semua?" la menjawab: "Saya melakukan amal tersebut demi Engkau Ya Allah." Allah berkata, "Dusta engkau. Dirimu mencari ilmu agar disebut sebagai alim, dan engkau membaca Al-Qur'an agar engkau disebut qari' yang baik." Maka diperintahkan oleh Allah agar dia dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian ada pula orang yang diluaskan rezekinya dan diberi berbagai macam nikmat. Maka, orang itu pun ditanya Allah, "Apa yang telah kau perbuat dengan nikmat tersebut?" Orang itu menjawab, "Hamba tidak pernah meninggalkan perbuatan baik yang Engkau sukai, kecuali aku infakkan demi (mencari ridha) Engkau." Maka kata Allah, "Dusta engkau. Engkau lakukan hal itu agar disebut dermawan." Maka Allah perintahkan agar orang tersebut dijebloskan ke dalam neraka.
Hadits di atas dikeluarkan Imam Muslim dalam shahihnya, Kitab Al-Imarah, bab: Man qatala li Ar-Riya' wa as-Sum'ah isfahaqqa an-nar dari hadits Abu Hurairah). ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat