"Lelaki Terakhir." Begitu judul novel yang diluncurkan hari ini, Sabtu (19/9/2026), di Perpustakaan Nyi Ageng Serang, Jakarta. Saya ikut diundang oleh sang penerbit, Pustaka al-Kautsar, dalam peluncuran tersebut.
Saya tertarik hadir karena setting cerita dalam novel tersebut adalah Suku Togutil, suku pedalaman di Halmahera, Maluku Utara, yang pernah saya kunjungi.
Perjalanan saya menuju kediaman suku tersebut tentu tidak mudah. Saya dan tim harus berlayar dari Ternate ke Pulau Halmahera, lalu berlayar kembali menuju Maba Utara. Di pedalaman Maba inilah kami bertemu suku Togutil.
BACA JUGA; Sebuah Kampung Untuk Suku Togutil
Yang menarik, saat kami berlayar menyisir Pulau Halmahera, beberapa kali kami berpapasan dengan kapal pengangkut barang. Kapal-kapal berkapasitas besar tersebut tidak sebagaimana kapal penyeberangan ferry. Bentuk seperti lempengan pipih, ada kotak tertutup di atasnya.
Saya tak bisa melihat barang apa yang di bawa oleh kapal-kapal itu. Menurut nelayan yang mengantar kami, kapal-kapal itu milik perusahaan tambang. Jadi, besar kemungkinan isinya adalah bahan-bahan tambang hasil pengerukan tanah Halmahera.
Saya tak tahu pasti ada berapa banyak perusahaan tambang yang beroperasi di sana dan hasil tambang apa yang diangkut oleh kapal-kapal itu. Sebab, lawatan saya ke sana bukan untuk menginvestigasi perusahaan-perusahaan itu. Saya ke ujung Pulau Halmahera semata untuk melihat kehidupan Suku Togutil.
Tapi, dalam novel ini, justru barang-barang tambang itulah yang menjadi alasan utama sang penulis, Zaynul Ridwan, menulis karyanya. "Saya sudah lama tertarik dengan isu lingkungan," jelasnya ketika saya tanya apa yang mendasari ia menulis novel tersebut.
Ia tahu kalau eksploitasi barang-barang tambang itu akan merusak lingkungan. Dan, ketika lingkungan sudah rusak, maka masyarakatlah yang akan menerima dampaknya, termasuk suku primitif yang masih tinggal di hutan-hutan.
"Saya kemudian mencari-cari suku apa yang benar-benar mengalami dampak dari pencemaran akibat tambang?" ceritanya lagi. Jawaban yang ia temukan adalah Suku Togutil.
Dalam novel ini, Zaynur Ridwan tak sekadar berhasil menggambarkan kehidupan masyarakat adat yang tinggal di pedalaman, tapi juga memadukan unsur sejarah, ilmu pengetahuan, ekologi, kedokteran, hukum, dan tentu saja kelestarian lingkungan.
Sangat tepat bila saat peluncuran buku ini, sang penerbit memilih tema Selamatkan Bumi dengan Sastra. Sebab, lewat novel ini, kita semua diajak untuk gelisah, sebagaimana gelisahnya Andi Tenri, sang pemeran utama dalam cerita ini, dokter muda yang datang ke hutan Halmahera dengan membawa ilmu dan rasa ingin tahu yang dalam tentang ancaman kepunahan Suku Togutil akibat pencemaran limbah.
Kok bisa limbah berdampak menghabisi satu generasi suku pedalaman? Jika Anda penasaran, silahkan Anda baca sendiri buku tersebut. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat