Minggu, 22 Februari 2026

Menelisik Dua Nabi yang Disebut Awwāb

Apakah engkau pernah mendengar istilah awwāb? Istilah ini beberapa kali disebutkan di dalam al-Qur'an.


Secara bahasa, awwāb berarti orang yang banyak kembali. Maksudnya, orang yang selalu kembali kepada Allah Ta'ala, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Yang menarik, di dalam al-Qur'an, kata awwāb disematkan kepada dua nabi yang bertolak belakang keadaannya. Yang satu memiliki segalanya: kekayaan, kekuasaan, dan kesempurnaan fisik, sedang yang satunya, kekurangan segalanya: hartanya habis, kekuasaannya hilang, dan tubuhnya digerogoti oleh penyakit menular sehingga ia dikucilkan.

Nabi pertama adalah Sulaiman ‘alaihis-salām. Di dalam al-Qur'an surat Shad (38) ayat 30, Allah Ta'ala berfirman tentang Nabi Sulaiman, "Ni‘mal ‘abdu innahu awwāb (Dialah sebaik-baik hamba, sungguh dia awwāb)."

Ayat ini turun setelah kisah bagaimana beliau sempat lalai karena terpesona oleh kuda-kuda perang, lalu segera kembali berzikir dan mengingat Allah Ta'ala. Itu menunjukkan sifat kembali kepada Allah Ta'ala dengan cepat.

Nabi kedua adalah Ayyub ‘alaihis-salām. Dalam Surat Shad (38) ayat 44 Allah Ta'ala berfirman, "Innā wajadnāhu ṣābiran ni‘mal ‘abdu innahu awwāb (Sesungguhnya Kami mendapatinya seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh dia sangat awwāb).”

Ayat ini berkaitan dengan kesabaran beliau ketika diuji sakit dan kehilangan harta serta keluarga, namun tetap kembali kepada Allah Ta'ala dengan doa dan ketundukan.

Jika kita perhatikan, dua kisah ini difirmankan oleh Allah Ta'ala dalam satu surat (Shad) dalam jeda yang tak begitu jauh. Seakan-akan Allah Ta'ala ingin menggambarkan tipe hamba ideal yang kuat menghadapi ujian, namun ---sebagai manusia-- bisa juga tergelincir, baik dalam keadaan lapang (Nabi Sulaiman) maupun sulit (Nabi Ayyub). Hanya saja, ketika mereka tergelincir, mereka cepat kembali kepada Allah Ta'ala.   

Lalu, bagaimana dengan kita? Sebagai manusia, kita juga pernah tergelicir, bahkan mungkin sering. Ketika diberi kekayaan dan kedudukan, kita lupa diri. Namun, ketika diberi sakit dan penderitaan, kita banyak mengeluh.  

Padahal, sesungguhnya sama saja, apakah kita berada dalam keadaan lapang atau sempit, keduanya adalah ujian dari Allah Ta'ala. Mampukah kita tetap menjadikan Allah Ta'ala sebagai tujuan? Wallahu a'lam. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat