Minggu, 22 Februari 2026

Bagaimana Sebaiknya Menulis Kutipan dalam Berita?

Dalam sebuah media online yang terbit pada 18 Februari 2026 terdapat sebuah kutipan menarik yang perlu kita kaji. 


Kutipan ini diambil dari ucapan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Solo (Jawa Tengah) bernama Beni Supartono. Kutipan tersebut berbunyi:

"Itu kan kalau kejadiannya kan sebenarnya kan artinya kejadian kalau melihat dibuat story itu kan pernikahan Mas Rio, artinya tidak saat dekat-dekat ini."

Terus terang saja, kening saya langsung berkerut membaca kutipan tersebut. Bahkan, tak sekadar itu, saya perlu membacanya beberapa kali untuk bisa mencerna apa maksudnya.

Kutipan tersebut jelas kurang bagus. Sebab, kalimat yang bagus adalah kalimat yang bersahabat dengan pembaca. Artinya, mudah dimengerti, tak perlu mengerutkan kening untuk bisa dipahami. 

Namun, apakah kutipan itu keliru? Jawabnya tidak. Kutipan itu sudah benar. Sebab, kaidah mengutip adalah menulis sesuai dengan apa yang diucapkan oleh narasumber.

Mungkin kita akan bertanya, mengapa harus sama dengan apa yang diucapkan? Bagaimana kalau narasumber itu sering bicara belepotan? Bukankah lebih baik diedit dulu oleh penulis sehingga gampang dipahami atau bersahabat dengan pembaca?

Nah, di sini letak persoalannya. Setiap orang memiliki kekhasan ketika berbicara. Ada yang sering menyebut  frase atau ungkapan tertentu setiap kali ia berbicara, seperti "apa namanya itu", "katakanlah", atau "ya kan?" Ada pula yang kerap menyebutkan "eeee" atau "hmmm". Semua itu menjadi ciri khas sang penutur yang sering dijadikan penanda oleh pendengarnya. 

Di sisi lain, cara seseorang mengungkapkan sesuatu sangat dipengaruhi oleh keadaan orang tersebut saat berbicara. Ketika ia sedang marah tentu berbeda dengan ketika ia sedang santai. 

Nah, jika kutipan dalam berita yang kita tulis diedit terlebih dahulu sebelum tayang agar mudah dipahami dan tidak terkesan bertele-tela, maka besar kemungkinan kita akan kehilangan kekhasan sang narasumber, atau gambaran perasaan sang narasumber saat ia sedang diwawancarai. Tak tergambar lagi suasana kemarahan atau kesedihan, atau kebiasaannya. Singkatnya, laporang kita menjadi kurang hidup.

Bahkan, penggunaan imbuhan pada kata kerja akan mempengaruhi kesan pembaca pada sang narasumber.  Misal, seorang narasumber berkata, "Cicipi saja, jangan sungkan." Lalu, kita edit menjadi, "Silahkan mencicipi, jangan sungkan." 

Kedua kalimat tersebut jelas mengandung kesan yang berbeda. Kalimat pertama terkesan santai dan cair, sedang kalimat kedua terkesan formal.

Lalu bagaimana menulis kutipan agar mudah dipahami pembaca namun tidak mengubah bunyi kutipan tersebut? Nah, kita akan teruskan pembahasan ini di lain waktu ya. Silahkan ikuti terus artikel ini. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat