Suatu ketika disebuah grup WhatsApp (WA), seorang anggota grup bertanya kepada anggota lainnya, "Mengapa kamu tidak berkurban tahun ini?" Secara berkelakar, anggota grup yang ditanya memberi jawaban seperti ini, "Saya sudah berkurban kok, kurban perasaan."
Candaan seperti ini kerap kita temui menjelang Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Tentu saja jawaban tersebut tidak serius, hanya lucu-lucuan saja. Namun, boleh jadi di antara kita --juga anggota grup WA tadi-- belum paham apakah kurban dan korban itu berbeda. Apa bedanya? Nah, mari kita kupas!
Kurban berasal dari bahasa Arab. Jika dilihat dari akar katanya, kata kurban berasal dari qo, ro, dan ba. Arti dari akar kata tersebut adalah dekat. Ia memiliki akar kata yang sama dengan kata muqorrobin, dan qarib (yang kemudian dibahasa-Indonesiakan dengan karib).
Jadi, kurban atau qurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri kepada Allah. Kata ini khusus digunakan dalam istilah agama Islam, dan berkaitan dengan peristiwa penyembelihan Ismail AS oleh ayahnya sendiri, Ibrahim AS, atas perintah Allah Ta'ala.
Dalam peristiwa tersebut Allah Ta'ala kemudian mengganti Ismail dengan seekor kibas atau domba jantan. Dalam al-Qur'an surat as-Saffat ayat 107, hewan ini disebutkan dengan istilah "sembelihan yang besar" (dzibhin aziim).
Selain berkenaan dengan peristiwa Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, istilah kurban juga berkenaan dengan kisah dua putra Adam AS, yakni Qobil dan Habil. Ini digambarkan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur'an surat al-Maidah ayat 27: ... iz qorrobaa qurbaanang fa tuqubbila min ahadihimaa ... (... ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima ...)
Adapun korban, dalam bahasa Indonesia berarti pihak yang terdampak.
Lalu apa hubungan antara kurban dan korban? Rupanya, untuk bisa berkurban, seseorang perlu berkorban. Lihatlan Nabi, Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk menyembelih putra kesayangannya sendiri sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Ta'ala. Ini tentu pengorbanan yang luar biasa.
Demikian halnya dengan Nabi Ismail AS, harus rela mengorbankan dirinya sendiri untuk disembelih oleh ayahnya. Ini juga pengorbanan yang tidak main-main
Kaum Muslim juga diminta pengorbanannya oleh Allah Ta'ala, yakni dengan menyembelih kambing, domba, atau sapi, untuk dibagi-bagikan di Hari Raya Idul Adha. Pengorbanan yang dituntut kepada kita, kaum Muslim, tentu amat jauh dibanding pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun, realitanya, masih banyak yang berat untuk melakukannya meskipun mereka berkecukupan.
Jadi secara etimologi kedua kata ini --kurban dan korban-- berkaitan. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat