Rabu, 04 Agustus 2021

Dari Syanggit ke Balikpapan

Tulisan pertama dari lima artikel |

Syanggit adalah sebuah desa yang terletak di tengah-tengah Benua Afrika, sebelah selatan Kota Tripoli (Libya). Perjalanan ke sana dari Kairo, Mesir, memakan waktu 6 hari enam malam lebih 3,5 jam bila menggunakan unta.

Jamaah Masjid ar-Riyadh, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak,Kalimantan Timur, tengah khusuk mendengarkan ceramah.

Dari desa inilah kita memulai cerita panjang tentang sebuah organisasi pergerakan bernama Hidayatullah. Pada 1 Muharram 1443 Hijriah atau bertepatan dengan 10 Agustus 2021, harokah yang lahir pada 1 Muharam 1393 H ini genap berusia setengah abad.

Desa Syanggit menjadi inspirasi awal bagi Ustad Abdullah Said, sang pendiri Hidayatullah, untuk membangun sebuah kampung peradaban Islam yang sekarang berdiri di Desa Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Seperti apa gambaran Desa Syanggit? KH Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang hidup pada kurun 1896-1946 M, pernah mengunjungi desa tersebut saat beliau belajar di Mesir, lalu menuliskannya dalam buku kumpulan tulisannya berjudul Mutu Manikam. Buku ini yang kemudian dibaca oleh Mukhsin Kahar, nama asli Abdullah Said ketika ia masih muda.

Desa Syanggit dipimpin seorang ulama bernama Sheikh Sidi Abdullah. Desa ini dihuni oleh 5 ribu santri. Mereka tinggal di sebuah asrama besar yang terdiri atas 100 kamar yang luas. 


Kegiatan para santri dimulai pukul 04.00, sebelum azan shubuh berkumandang. Santri-santri ini bangun, bersiap diri menjalankan shalat Subuh. Shalat diimami langsung oleh Sheikh Sidi.

Setelah shalat Subuh, para santri masuk ke kamarnya masing-masing. Biasanya mereka tak tidur lagi. Mereka mengulang-ulang pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya, kemudian mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran di kelas.

Pukul 07.00 pelajaran dimulai hingga pukul 10.00. Selama tiga jam ini  mereka berada di ruang kelas. Setelah itu mereka diperbolehkan belajar di luar kelas. Ada yang pergi ke tepi sungai, ada juga yang duduk di bawah pohon. Mereka membawa buku pelajarannya masing-masing. Kegiatan di luar kelas ini berlangsung hingga tiba waktu zuhur.

Setelah shalat zuhur, mereka makan siang. Setelah itu  mereka tidur hingga pukul 15.30. Usai shalat ashar mereka latihan pidato dan berdebat. 

Antara shalat maghrib dan Isya mereka diberi kebebasan untuk beribadah sendiri-sendiri. Ada yang tadarrus al-Qur'an, wirid, tafakkur, berdiskusi tentang hadits, ada juga yang menulis. 

Ba'da Isya mereka mengikuti pelajaran akhlak hingga pukul 23.00. Setelah itu, santri-santri shalat tahajjud  hingga pukul 24.00.  Usai shalat tahajjud barulah santri-santri diperkenankan  masuk kamar masing-masing untuk tidur. 

Demikian kegiatan penghuni desa ini setiap hari. Khusus pada hari Jumat mereka berolah raga: menunggang kuda, berenang, dan latihan perang-perangan.

Di tengah desa terdapat sebuah sungai. Di sekitar sungai itu penuh tanaman kurma dan tin. Ada juga ladang gandum. 

Desa Syanggit memiliki  100 ekor sapi dan 250 ekor kambing peliharaan. Ada juga beberapa ekor unta dan kuda. Itu semua milik Syeikh Sidi. 

Santri-santri setiap pagi mendapat suguhan segelas susu sapi. Pada tengah hari mereka mendapat lagi satu gelas susu sapi dengan satu potong roti, keju, serta zaitun.  


Ba'da ashar santri-santri tersebut mendapat gorengan kurma beserta secangkir susu kambing. Ba'da Isya  mereka mendapat lagi suguhan setengah potong roti, tiga buah tin, dan setengah gelas susu sapi. 

Lama belajar di pondok ini sekitar 5 tahun. Di antara 5 ribu santri, ada 500 orang penghafal Qur'an, dan hampir 1.000 orang yang menghafal kitab Muwatta' karangan Imam Malik.

Gedung perpustakaannya cukup besar, tapi tidak ada buku filsafat. Kitab Ihya Ulumuddin  juga tidak didapati pada deretan buku-buku di perpustakaan itu.  

Kalau ada santri yang sakit dikeluarkan dari pondok untuk ditempatkan di ruang  perawatan dan ditemani 2 orang yang ditunjuk oleh si sakit. 

Semua santri pandai berenang dan menunggang kuda. Dan, hebatnya lagi, tak ada satu pun penghuni pondok yang terlihat merokok. Sebab, merokok memang dilarang keras di tempat ini.

Uniknya lagi, tak seorang pun perempuan terlihat di desa itu. Bahkan, anak-anak perempuan sekali pun. Seolah-olah desa ini adalah desa laki-laki.

Kalau ada santri yang telah lulus, Syeikh Sidi mengadakan syukuran untuk menjamu seluruh santri dengan memotong  3 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Santri-santri yang lulus tersebut diantar oleh Syeikh Sidi, seluruh guru, dan para santri hingga keluar desa. Di kala akan berpisah, mereka semua meneriakkan takbir.

Inilah desa pengkaderan yang diidam-idamkan oleh Abdullah Said. Menurut penuturan Ust Mansyur Salbu, sahabat Abdullah Said, dalam bukunya berjudul Mencetak Kader, Abdullah Said berencana membangun perkampungan semacam itu di Indonesia, meskipun tidak betul-betul persis seperti itu. 

Di desa itulah para ulama dan pakar akan berkumpul dan mengajar. Mereka semua menetap di sana, dibangunkan rumah tinggal yang nyaman, dan dicukupi biaya hidup mereka. 

Di desa itu pula syariat Islam akan ditegakkan. Pergaulan antar masyarakat akan diatur, pernikahan akan dimudahkan.

Di sana juga akan disiapkan perkebunan dan peternakan kambing dan sapi. Lingkungannya akan ditata rapi sehingga penghuninya akan betah berlama-lama tinggal di sana.  (bersambung)

Silahkan baca kelanjutan artikel ini pada link Tempat Hijrah yang Menjadi Tonggak Sejarah

2 komentar:

  1. Sekedar koreksi "Syanggit" bukan di Libya dan sangatlah jauh dari Tripoli ibukota Libya. Jarak Syanggit ke Tripoli adalah 3976,7 km. "Syanggit" yang benar berada di Mauritania, jaraknya dari ibukota Nawakisyutt sekitar 523 km. Saat ini, penulisan resmi "Syanggit" adalah "Chingguetti" dan ibukota "Nawakisyutt" adalah "Nouakchott". Alm. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi pimpinan pondok Gontor terakhir ke sana tahun 2011.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksinya. Setelah redaksi memeriksa naskah buku Rangkaian Mutu Manikam karya KH Mas Mansyur, memang di situ disebutkan Syanggit dan terdapat di Libya. KH Mas Mansyur, saat mengunjungi Libya, mampir ke desa ini.

      Hapus

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat