Senin, 29 Agustus 2016

Dari Bilik yang Sempit, Anak-anak Itu Semangat Mengaji

Bangunan itu hanya sebuah bilik berukuran sekitar 4x4 meter persegi. Dindingnya kombinasi antara anyaman daun kelapa dan alang-alang, papan triplek, dan batu bata. Lantainya terbuat dari semen kasar dan berdebu. Atapnya terbuat dari genteng yang berlubang-lubang.

Bilik sederhana itu terletak di Dusun Jelateng Barat, Desa Eyat Mayang, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bagian dalam bilik itu terasa sumpek. Tak ada ventilasi udara. Rasa sumpek kian bertambah apabila sang empunya rumah memasak. Sebab, kompor dan peralatan masak juga berada di dalam bilik itu.

Belum lagi sejumlah barang yang ikut teronggok di sana. Ada rak sepatu, rak piring, pakaian yang tergantung di tali yang memanjang dari satu tembok ke tembok lain, dipan di salah satu sisi bilik, plus sebuah motor terparkir di dekat tembok. 

Di bilik inilah 35 anak usia TK dan SD belajar mengaji. Mereka berasal dari kaum dhuafa. Bocah-bocah tersebut belajar setiap sore. Tak pernah berhenti. Mereka mulai belajar pukul 14.00 sampai menjelang magrib. Sementara pada pagi hari, bocah-bocah ini belajar di sekolah.

Di bilik ini mereka belajar membaca al-Qur'an, menghafal surat-surat pendek, berwudhu, dan shalat. Suara mereka lantang ketika bersama-sama membaca hafalan surat-surat pendek. Semangat belajar mereka terasa sekali dari teriakan yang terdengar jelas dari luar bilik.

Tampaknya mereka tak peduli dengan banyaknya debu yang melayang di dalam bilik tersebut karena buruknya ventilasi. Debu-debu itu terlihat jelas saat diterpa cahaya matahari yang menyelinap masuk dari lubang genteng yang bocor. 

Mereka juga tak peduli dengan cahaya yang tak begitu terang menyinari bagian dalam bilik. Lagi-lagi, ini karena tak tersedianya jendela yang memadai di bilik tersebut. Satu-satunya sumber cahaya hanya berasal dari lampu kecil yang tergantung di atap.

Adalah Nurisah, pria kelahiran 1986, si empunya bilik, sekaligus pengajar anak-anak tersebut. Ia mengajar dengan sukarela, tak mau memungut biaya dari anak-anak itu.

"Saya kasihan sama anak-anak ini. Mereka semangat sekali mengaji. Padahal sebelumnya tak ada yang bisa mengajar mereka" jelas Nurisah kepada Hidayatullah.com yang mengunjunginya pada Jumat 19/8.

Sebenarnya, Nurisah berprofesi sebagai guru honorer di sekolah yang tak jauh dari sana. Sebulan, ia hanya diupah Rp 300 ribu. 

Dengan uang sebesar itu, rasanya sulit bagi ayah dua anak ini untuk membiayai kegiatan mengaji anak-anak tersebut. Jangankan untuk anak-anak, untuk keluarganya pun tak cukup. "Saya pernah tidak punya uang sama sekali," jelas Nurisah.

Namun, dengan segala keterbatasannya, laki-laki yang akrab dengan anak-anak ini bisa mempertahankan sekolah sederhana itu hingga hampir berusia tiga tahun. 

Abdul Kholiq, petugas Baitul Mal Hidayatullah (BMH) Mataram, NTB, pernah mempertemukan Nurisah dengan seorang donatur. Ketika itu, cerita Kholiq, sang donatur memberikan bantuan Rp 1 juta. Ada juga yang memberikan bantuan karpet.

Bantuan tersebut memang patut disyukuri. Namun, kata Kholiq, jelas tak cukup untuk mewujudkan cita-cita Nurisah memugar bilik belajarnya.

Nurisah berencana membangun bilik permanen yang layak dipakai sebagai tempat belajar anak-anak. Jika cita-cita ini tercapai,  Nurisah berencana membangun bilik sederhana di dekat bilik belajar anak-anak untuk tempat tinggal keluarganya. Namun, ia sendiri masih kebingungan dari mana biaya pembangunan ia peroleh. 

Menurut Kholiq, setidaknya Nurisah membutuhkan dana sekitar Rp 25 juta untuk mewujudkan cita-citanya. Saat ini, kata Kholik, BMH tengah mengupayakan mencari bantuan untuk guru mengaji ini. 

Semoga berbahsil! *

(Dipublikasikan oleh Hidayatullah.com pada 22 Agustus 2016)