Jumat, 13 November 2015

Bangunan yang Belum Selesai

“Indonesia laksana susunan bata merah yang belum selesai.” Perumpamaan itu disampaikan Ustadz Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah, di hadapan para Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah se-Indonesia pada acara Rapat Koordinasi Nasional di Batu, Malang, Jawa Timur, Januari 2015 lalu.

Batu merah yang bersusun rapi, menyambung satu dengan yang lain, kata Ustadz Abdurrahman Muhammad lagi, sejatinya akan mebentuk sebuah bangunan yang indah dan nyaman untuk ditempati.

Namun, susunan bata merah itu belum selesai. Masih ada yang harus ditambah, diganti, atau dipindahkan karena posisinya tak tepat. Jika keadaan ini terus dibiarkan maka bangunan tersebut tak akan terasa nyaman ditempati. Kita akan merasa bangunan tersebut belum sempurna.

“Tugas kita, kader Hidayatullah, menyempurnakan susunan bata merah tersebut. Kita harus menuntaskan apa yang telah dibangun para pejuang bangsa ini. Kita harus membangun bangsa ini menjadi bangsa yang berperadaban Rabbani,” kata Ustadz Abdurrahman Muhammad.

Satu bulan sebelumnya, tepatnya pada Desember 2014, Majelis Syura Hidayatullah, dewan tertinggi yang ada di organisasi tersebut telah berkumpul di Batam, Kepulauan Riau, untuk membahas tentang Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut disimpulkan bahwa Indonesia adalah darul murakkabah. Istilah ini sebenarnya diperkenalkan pertama kali oleh Ibnu Taimiyyah pada zamannya. Ketika itu, Ibnu Taimiyyah ditanya status wilayah Mardin, sebuah propinsi di Turki, apakah termasuk negeri Islam atau negeri kafir. Ibnu Taimiyyah memahami realitas saat itu bahwa ada wilayah-wilayah tertentu yang tidak bisa dihukumi dengan salah satu hukum yang populer, yakni darul Islam dan darul kufar. Beliau lalu membuat istilah murakkabah.

Jadi, jelas Ustadz Abdurrahman Muhammad, dalam pandangan Hidayatullah, Indonesia bukan negara kafir yang harus diperangi, dan belum pula tepat disebut negara Islam. “Indonesia adalah negara dakwah dan tarbiyah. Perjuangan kita sekarang ini hanyalah mata rantai dari perjuangan para ulama pendahulu kita,” tegas Ustadz Abdurrahman lagi.

Atas alasan itu pula Hidayatullah tidak memproklamasikan dirinya sebagai pergerakan yang ekslusif. Hidayatullah, kata Ustadz Abdurrahman Muhammad, hanyalah satu di antara sekian banyak jamaah Islam di negeri ini yang sama-sama berjuang membangun Indonesia berperadaban Islam. Hidayatullah adalah Jama’atun minal Muslimin.

Sabar dalam Berjuang

Hanya saja, proses menuju cita-cita bersama membangun peradaban Islam tak akan berjalan mudah. Berbagai persoalan begitu banyak menghadang. Belum selesai satu persoalan, sudah muncul persoalan yang lain.

“Semua persoalan terasa begitu dekat dengan kita. Berkelebat secara cepat, bahkan lebih cepat dari kedipan mata. Begitu kita mengedip, sudah ada masalah baru yang muncul,” tutur Ustadz Abdurrahman Muhammad.

Jadi, cita-cita membangun peradaban Islam tak akan terwujud tanpa landasan spiritual yang baik. “Semua kader Hidayatullah harus betul-betul mengimani bahwa akhirat itu ada, surga itu ada, neraka itu ada, ganjaran untuk manusia itu ada. Kader Hidayatullah juga harus mengimani bahwa siapa saja yang menolong agama Allah maka Allah juga akan menolongnya,” katanya.

Ketika berbicara di hadapan para pemimpin wilayah Hidayatullah di Batam, awal Oktober 2015, Ustadz Abdurrahman Muhammad menyitir cerita tentang seorang wanita tua yang tinggal bersama binatang ternaknya di dekat sebuah kerajaan milik raja yang zalim.

Suatu hari, kata pria murah senyum ini, wanita tua tersebut bermaksud pergi ke luar kota untuk satu keperluan. Karena tak ada yang menjaga hewan ternaknya, maka wanita tua itu berdoa kepada Allah SWT agar berkenan menjaga rumah dan binatang ternaknya dari raja yang zalim tersebut.

Namun, betapa terkejutnya wanita tua itu ketika pulang kembali ke lahan ternaknya. Ia mendapati rumah dan hewan ternaknya sudah tak ada lagi. Ia kecewa karena Allah SWT tak sudi menolongnya, padahal siang dan malam ia telah beribadah kepada Allah SWT. Bukankah seharusnya raja zalim itulah yang harus dibinasakan, bukan dirinya yang lemah?  Bukankah Allah SWT Maha Melihat dan Maha Perkasa?

Ustadz Abdurrahman Muhammad berhenti sejenak bercerita dan menghela nafasnya lalu bersuara lirih. “Boleh jadi kita juga seperti wanita tua itu. Kita tak yakin dengan pertolongan Allah dan terus menerus memprotes takdir-Nya. Kita ingin segala sesuatu berjalan cepat. Ingin segera melihat hasil yang kita perjuangkan. Kita tak mau bersabar dalam berjuang. Kita tak kuat dengan cobaan,” paparnya.

Tawaran Jadi Tawanan

Perjalanan Hidayatullah ini, Ustadz Abdurrahman Muhammad melanjutkan nasihatnya, masih amat singkat. Usia Hidayatullah baru setengah abad. Bandingkan dengan Muhammadiyah yang telah mencapai satu abad lebih, atau Nahdlatul Ulama yang kini berusia hampir 90 tahun. Bahkan, bila lahirnya Hidayatullah dihitung sejak organisasi ini bermetamorfosis menjadi organisasi massa Islam, maka usianya hanya 15 tahun saja.

Jadi, masih banyak yang harus dilakukan kader-kader Hidayatullah un­tuk mencapai cita-citanya mem­ba­ngun peradaban Islam di negeri ini.

Menurutnya, kalaupun ada di antara kader Hidayatullah yang berhasil membangun Hidayatullah secara fisik berupa kampus-kampus yang luas atau gedung-gedung sekolah yang bertingkat-tingkat, justru semua itu perlu diwaspadai.  “Sebab, banyak tawaran yang justru menjadikan kita tawanan. Kita terperangkap oleh tujuan jangka pendek,” tegasnya.

Lebih celaka lagi, kata Ustadz Abdurrahman Muhammad, jika kader-kader Hidayatullah terperangkap oleh kerumitan yang melalaikan. Perbedaan-perbedaan yang sifatnya cabang (furu) seringkali menimbulkan perdebatan yang menyita banyak waktu.

Perjalanan menuju visi terhenti gara-gara kerumitan tersebut. Padahal, tak boleh berhenti sejenak pun dari mencapai visi besar. Hidayatullah harus tetap kokoh dalam berjamaah, dan bersyariah.

Mujahid Dakwah

Kata-kata mujahid dakwah diungkap oleh Ustadz Abdurrahman Muhammad saat memberi tausiyah pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional di Batu Malang, Jawa Timur, awal 2015 lalu. Ia bercerita bah­wa beberapa hari sebelum meng­hadiri rapat koordinasi ter­se­but, ia diserang sakit parah. Darah semat keluar dari tubuhnya akibat sakit yang dideritanya.

Namun, ia tetap bersikeras berangkat ke Batu, Malang, untuk bertemu para pimpinan wilayah Hidayatullah yang sedang bermusyawarah. ”Sebetulnya, sakit saya sudah cukup menjadi alasan saya tidak menghadiri rapat ini. Tapi kita ini mujahid dakwah. Kita ini pejuang di atas rata-rata. Pantang bagi seorang mujahid dakwah untuk mencari-cari alasan menolak tugas. Jika ma­sih mencari-cari alasan, itu na­manya pejuang rata-rata,” katanya.

Kemudian, Ustadz Abdurrahman Muhammad menukil kembali al-Qur’an surat Yusuf [12] ayat 108, “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin.”

Ayat tersebut adalah gambaran bahwa Allah SWT telah menyediakan jalan bagi manusia untuk mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW. “Kita telah memilih jalan tersebut dengan segala konsekuensinya,” kata Ustadz Abdurrahman Muhammad.

Jalan yang disediakan tersebut bukan tanpa halangan. Para nabi dan rasul yang memilih jalan tersebut juga menemui halangan yang tak ringan. Lantas senjata apa yang kita gunakan untuk menangkis seluruh halangan tersebut?

Senjata itu, kata Ustadz Abdurrahman  Muhammad dalam kesempatan yang berbeda, adalah kalimat La ilaaha illallah.  Allah SWT telah berkata dalam al-Qur’an bahwa siapa pun yang mengatakan La ilaaha illallah, maka mereka akan menang. Senjata itulah yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa AS ketika disuruh menghadapi Raja Fir’aun, orang paling sombong di atas muka bumi.

Maka, dengan keyakinan yang te­guh berpegang kepada kalimat tadi, Nabi Musa AS mampu menyam­paikan risalah kebenaran ke­pada Fir’aun meskipun setelah itu ia dan kaumnya harus berlari-lari menghindari kejaran pasukan Fir’aun hingga ke tepi Laut Merah. Janji Allah SWT kemudian datang. Fir’aun bersama bala tentaranya ditenggelamkan oleh Allah SWT di dasar Laut Merah.

“Kader Hidayatullah juga harus meyakini hal ini. Dengan kalimat La ilaaha illallah, kita pasti menang,” kata Ustadz Abdurrahman Muhammad.  ***



(Baca kisah sebelumnya pada artikel berjudul Bukan Sekadar Pesantren Biasa dan Mengenal Hidayatullah Lewat Kisah Dua Pemimpin)

(Diterbitkan oleh Majalah Suara Hidayatullah edisi Nopember 2015)