Seorang pria tampak serius di depan layar monitor, di sebuah sudut ruangan rumah di daerah Jakagarsa, Jakarta Selatan. Saat yang bersamaan, sekitar tujuh juta umat Islam tengah berkumpul dalam Aksi Bela Islam 212 di Lapangan Monas.
![]() |
| Wawancara di kediaman Ismail Fahmi |
“Saya mengamati peristiwa aksi umat Islam dari media sosial. Saya melihat data yang menarik berisi informasi peristiwa tersebut,” jelas pria berkacamata ini.
Saat tengah asyik mengamati data, pria bernama Ismail Fahmi ini menyaksikan ada orang yang sengaja buat kacau dengan memasukkan informasi salah di media sosial (medsos). “Dia menggunakan proxy untuk membuat kacau. Informasi itu terbaca di mesin saya,” terangnya.
Salah satu informasi yang disebarkan adalah kabar dua orang meninggal dunia saat aksi itu berlangsung. “Setelah saya teliti, ternyata itu adalah kejadian beberapa hari sebelum terjadinya aksi,” jelas Ismail.
Lebih lanjut ia menjelaskan, si penyebar informasi menggunakan sebuah teknologi agar kabar tersebut dapat tersebar semakin luas. “Dia menggunakan robot untuk mengamplifikasi sehingga orang menjadi bingung, karena informasi sudah tersebar luas di medsos, seperti Twitter dan beberapa koran.”
Melihat fenomena itu, Ismail yang mengetahui data sesungguhnya merasa ingin berbagi informasi kepada publik. “Ini tidak benar, dan publik tidak tahu data sesungguhnya. Saya harus menyampaikannya,” aku Ismail.
Ismail kemudian berpikir, bagaimana caranya menyampaikan kepada publik. Ia sendiri tidak mau memunculkan nama perusahaan media yang dikelolanya. “Saya mau pakai nama yang lucu-lucu saja,” ulasnya.
Ismail membayangkan, dirinya dapat memantau aksi itu menggunakan pesawat kecil tanpa awak yang dikendalikan jarak jauh, biasa disebut drone. “Hanya saja saya memantaunya dari Twitter yang logonya berbentuk burung emprit. Akhirnya, saya namakan Drone Emprit.”
Jadi, Drone Emprit adalah suatu alat yang bisa memonitor apa yang terjadi menggunakan medsos Twitter. “Di situ kita bisa melihat bagaimana berita bohong (hoaks) menyebar, asal muasal, dan siapa yang menyebarkan. Dari alat itu bisa kelihatan semuanya dan mudah dibaca,” papar Ismail.
Salah satunya, Ismail mencontohkan saat menganalisis pro kontra di Twitter soal Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu lalu. Muncul tagar #BubarkanMUI yang seolah sangat besar di medsos.
“Padahal, kalau kita lihat big data, bisa kelihatan petanya. Justru #DukungMUI sepuluh kali lipat lebih besar daripada yang menuntut pembubaran,” ulas Wakil Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI ini.
Berdasarkan data Drone Emprit, dukungan terhadap MUI bahkan muncul dari banyak kalangan. Sehingga, MUI sudah benar ketika menghadapi hal itu tidak perlu serius. “Apalagi sampai membuat tim buzzer, itu tidak penting. Dan, memang sejak lama MUI berpendapat bahwa buzzer hukumnya haram,” tegasnya.
MUI saat ini tengah getol mencetak kader mujahid digital. Ismail menjadi satu pematerinya. Program ini bekerja sama dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi, guna membentuk anak muda yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan dakwah di dunia internet.
“Kita harapkan mujahid digital ini muncul dari anak-anak muda, karena kalau kiainya sudah tidak sempat lagi untuk mengurusi soal teknologi,” kata Ismail yang mengisi kegiatan tersebut di Pontianak, Sorong, Medan, dan beberapa tempat lainnya.
Akhir bulan November 2021, pria kelahiran Bojonegoro (Jatim) ini berbincang dengan dua wartawan Mahladi Murni, Ahmad Damanik, dan seorang fotografer Azim Arrasyid, tentang teknologi Drone Emprit dan kiprahnya dalam mencetak kader mujahid digital. Berikut petikannya:
Bagaimana ceritanya teknologi Drone Emprit ini Anda buat?
Kuliah S-2 dan S-3 saya (di Belanda) tentang teknologi bahasa. Jadi belajar subjek, predikat, dan objek. Saya sempat agak down, karena tidak sesuai dengan minat saya saat masih S-1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) mendalami jaringan internet, big data, dan perpustakaan digital. Bahkan, menjalani enam bulan kuliah S-3, saya merasa galau seperti salah jurusan.
Sampai suatu saat saya mengikuti konferensi di Amsterdam, dan berjumpa dengan orang-orang dari Google yang menyampaikan presentasi pada konferensi tersebut. Saat makan siang, saya bertanya kepada mereka, “Apa sih ilmu di balik perkembangan Google?”
Apa jawaban mereka?
Mereka bilang, rahasianya adalah teknologi bahasa. Makanya, Google bisa melakukan terjemah, memberikan rekomendasi, mengolah dokumen berbagai bahasa, dan lain-lain. Saya kaget, lho itu semua kan justru yang saya pelajari selama S-2 dan S-3.
Bagaimana perasaan Anda saat tahu hal itu?
Sejak itu saya makin semangat belajar. Ternyata saya mempelajari satu ilmu yang awalnya tidak saya sukai, tapi sangat penting. Saya yakin belum banyak orang Indonesia yang menguasai hal ini.
Lalu, apa yang Anda lakukan?
Tahun 2009, lulus kuliah S-3 saya bekerja di perusahaan big data di Belanda. Bersamaan dengan itu, setiap malam saya melakukan coding (pemrograman). Saya merasa sudah punya ilmu, dan saya harus membuat sesuatu sebelum pulang ke Indonesia. Pekerjaan coding itu saya lakukan sampai tahun 2012.
Apa yang saat itu Anda buat?
Awalnya saya belum tahu akan model seperti apa, intinya hanya ingin membuat seperti Google. Akhirnya, dari coding itu jadilah sebuah portal yang dapat mengetahui berita-berita di Indonesia, siapa tokohnya, apa yang dibicarakan, bahkan bisa membandingkan pernyataan antara tokoh. Sayangnya, portal itu tidak bertahan lama, karena ada sedikit masalah.
Lalu, saya buat yang disebut Osometric. Itu menggabungkan antara teknologi pencarian berita media online dengan medsos, sehingga bisa menjadi media monitoring.
Teknologi itu untuk apa?
Klien besar saya waktu itu digunakan oleh Presiden RI, Pak SBY. Teknologi itu membantu untuk melakukan penyusunan strategi media yang ketika itu mulai diserang oleh buzzer. Sehingga, saya banyak melengkapi fitur-fitur teknologi osometric tadi. Pak SBY selesai, dan berganti presiden, teknologi saya sempat juga dipakai oleh KPK.
Nah, masuk tahun 2015, saya melihat data kok ada situasi yang tidak sehat. Isu di medsos makin terasa perang.
Masuk tahun 2016, sudah banyak perang fitnah yang terlempar dari dua kubu. Saya merasa harus membuka data. Ketika itu saya sudah punya perusahaan sendiri bernama Media Kernels, yang belakangan saya beri nama lain Drone Emprit.
Isu apa yang pernah dibongkar Drone Emprit?
Beberapa hari setelah aksi 212, ada spanduk berisi penolakan pemutaran wayang kulit yang digelar oleh salah satu pasangan calon Gubernur DKI Jakarta. Spanduk itu mengatasnamakan Forum Umat Islam Jakarta Timur. Hal itu ramai di Twitter.
Setelah saya melihat data Drone Emprit, didapatkan peta yang menggambarkan bahwa isu tentang spanduk itu hanya beredar di orang tertentu yang anti terhadap kelompok Islam. Seolah ingin membenturkan antara umat Islam dan tradisi Jawa dengan Betawi. Ini bahaya, ingin membenturkan agama dan kesukuan. Drone Emprit bongkar peta itu sebagai kampanye hitam yang berasal dari klaster tertentu. Walhasil, mereka marah-marah.
Hal yang sama terjadi belakangan ini pada isu bubarkan MUI.
Bisa dijelaskan tentang isu bubarkan dan dukung MUI?
Kita jadi tahu bahwa isu yang digulirkan soal pembubaran MUI berasal dari sekelompok orang yang jumlahnya tidak besar, dibandingkan orang-orang yang mendukung MUI. Sehingga, MUI tetap fokus saja dengan tugas. Jika ada sebuah fakta, cukup MUI membuat klarifikasinya dan taruh saja di website. Soal isu pembubaran MUI, anggap itu sebagai masukan. Itu pendekatan yang lebih tepat. Tidak terpancing dengan ulah buzzer yang konotasinya cenderung menyerang.
Jadi, penggunaan big data Drone Emprit ini meyakinkan MUI dan juga umat mampu mengetahui bagaimana petanya, siapa yang mengkritik, dan apa narasinya. Dengan demikian, kita bisa menentukan strategi bagaimana menghadapinya.
Sebenarnya dari mana sumber isu itu?
Sudah clear (jelas), dari peta tersebut bisa kelihatan berasal dari pendukung pemerintah, serta buzzer yang mendukung kebijakan pemerintah. Tapi itu semua sudah dihadapi oleh kelompok opisisi yang cenderung mendukung MUI, dan jumlahnya lebih banyak.
Jumlah mereka lebih sedikit, tapi mengapa bisa lebih “berisik”?
Di medsos memang begitu, secara jumlah nggak penting. Ketika dia bisa bikin narasi sensasional dan kontroversial, seperti bubarkan MUI itu menjadi sangat menarik. Apalagi lembaga yang disasar MUI. Mungkin satu atau dua buzzer membuat status sudah bisa ke mana-mana. Ditambah lagi ada perlawanan dari oposisi, maka terjadilah pro kontra. Dan, media berita sangat senang mengangkat hal yang sifatnya sensasional, kontroversi, menimbulkan pro kontra, perpecahan, bahkan perkelahian.
Ini jadi pelajaran agar tidak perlu reaktif terhadap sebuah isu?
Iya betul, makanya MUI pun jangan terlalu reaktif. Biarkan saja, kecuali kalau netizen sudah ramai, barulah kita respons. Memang yang diperlukan edukasi kepada umat dan lembaga Islam agar hati-hati ketika merespons, jangan sampai respons yang kita buat malah membuat sesuatu menjadi lebih besar lagi.
Edukasi seperti apa yang perlu dilakukan?
Pertama, jangan reaktif dulu dengan isu yang berkembang. Sebab, kalau kita tidak tepat merespons, maka akan dimanfaatkan oleh media.
Kedua, seringkali hoaks itu beredar di kalangan umat Islam melalui pengajian, kumpulan alumni, dan lainnya. Bahkan, setiap minggu selalu ada hoaks yang baru. Banyak sekali narasi, terus dikasih data-data yang seolah benar dan masuk akal, tapi sebetulnya nggak benar.
Kabarnya Anda tengah giat mencetak kader “Mujahid Digital”. Seperti apa gambarannya?
Banyak orang masih takut tentang kata “jihad”. Kami mengangkatnya dengan menggunakan istilah “mujahid digital”, yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di sini, dilatih orang-orang yang bisa memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan dakwah di internet, khususnya medsos. Bukan kiainya yang mengurusi soal ini, karena mereka sudah tak ada waktu lagi. Makanya, yang disasar adalah anak-anak muda.
Seperti apa pelatihannya?
Mereka belajar jurnalistik, fotografi, bikin video pendek, dan menganalisis medsos. Sehingga nantinya mereka bisa menarasikan informasi dalam bentuk video yang disebarkan di daerah masing-masing dengan bahasa lokal. Nanti yang bicara ustadz-ustadz di daerah tersebut.
Dengan teknologi Drone Emprit, akhirnya banyak “makar” di medsos terbongkar. Apakah ada yang sampai menegur Anda?
Ya ada, karena pada akhirnya mereka terbaca semua. Tapi saya selalu bilang begini, “Drone Emprit hanya menyampaikan data saja ya, tidak saya analisis lebih dalam.”
Pernah juga saya mendapatkan masalah ketika kontestasi politik. Saya bongkar pola mereka, dan mereka tidak suka. Akhirnya, server saya diretas. Itu bagian dari risiko, tapi saya biarkan saja agar tidak jadi ramai.
Menurut Anda apakah motif ekonomi ini juga terdapat pada kasus-kasus politik?
Di dalam politik juga sama. Mereka membuat konten yang mendiskreditkan orang, membuat black campaign, hoaks tentang seseorang. Itu semua karena ada bayaran.
Termasuk juga perang pengaruh antara pendukung lawan politik. Mereka berusaha yang satu pengaruhnya bagus, sementara lawannya tidak bagus. Seperti ini disebut pasukan cyber, tugasnya memang terus-menerus membuat hoaks. Dari situ mereka akan dibayar.
Namun, tidak bisa dipungkiri ada yang mungkin natural, yang membela dan mendukung karena keyakinan. Dia lakukan sendiri tanpa dibayar.
Apa yang mendorong Anda untuk memberikan kontribusi terhadap umat melalui teknologi?
Sekarang ini zaman informasi, sangat memungkin orang untuk menyebarkan disinformasi (informasi palsu yang disebarkan untuk menipu -red). Salah satu sarana penyebaran yang dahsyat soal hoaks ini yaitu media, baik media online atau media sosial.
Yang memainkan siapa? Ya media, untuk kepentingan clickbait, ada buzzer, pro kontra, kepentingan politik, dan lain-lain. Umat kita sudah termakan itu semua. Padahal Allah sudah menjelaskan dalam Surat Al-Hujurat ayat 6. Untuk orang beriman, tolong dikoreksi ketika ada berita.
Buat saya pribadi, saya bisa mengaku iman kalau melakukan klarifikasi ketika saya punya datanya. Membantu publik ketika mereka tidak tahu.
Dan, Anda memang memiliki data itu melalui teknologi?
Ya, setidaknya memang harus ada satu yang membongkar ketika ada percakapan, ketika ada perang narasi, ketika ada disinformasi, atau ketika perang kontestasi politik. Saya punya data semua itu, bahkan saya lihat setiap hari.
Bagaimana pertanggungjawaban saya kepada Allah SWT suatu saat nanti! Itu yang menjadi motivasi saya.
Apakah ini menjadi jalan jihad Anda?
Iya, saya usaha saja. Saya merasa dikasih Allah teknologi dan data. Saya share, selebihnya adalah konsekuensi. Terserah Allah mau bagaimana.
Menurut Anda, bagaimana tingkat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap perkembangan digital saat ini?
Dibanding dengan Malaysia dan lainnya, Indonesia paling rendah dalam digital competitiveness (daya saing digital). Iya, kita memang sangat kreatif, ada coding dan lain sebagainya. Tapi begitu masuk dalam dunia digital, publik kita hanya fokus menjadi youtuber. Padahal kita masih perlu lebih banyak lagi yang membuat data sains, software, dan sebagainya. Bahkan yang lebih dasar lagi, kita masih sangat kurang dalam hal literasi media.
Mengapa kita kurang dalam hal literasi media?
Karena memang tidak ada pendidikannya. Salah satunya tidak ada kurikulum yang menyiapkan anak-anak didik untuk menggunakan media digital. Padahal hal itu bisa didapatkan jika digital citizenship curriculum dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.
Mengapa itu penting diterapkan di Indonesia?
Sudah banyak negara yang menerapkan. Saya pun sudah menjelaskan ini kepada Kemenko PMK, Kemenkominfo, dan Kemendikbud. Yang menarik, siswa kita sudah akrab menggunakan media digital, namun mereka tidak dibimbing bagaimana menggunakan media digital yang aman dan sehat.
Dalam kurikulum tersebut, anak-anak diajari menyikapi konten dalam internet seperti traffic light (lampu lalu lintas). Kalau ada yang tidak pantas, maka diibaratkan seperti lampu merah. Anak-anak tak boleh melanjutkan. Jadi, mereka diajari bagaimana mengidentifikasi konten merah, kuning, dan hijau.
Kurikulum ini sedang diuji coba diterapkan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah.
Anda sendiri bagaimana menerapkan konsep ini kepada anak-anak dan keluarga?
Ada dua hal yang kami terapkan, agar anak-anak terhindar dari pengaruh media digital, yakni pembatasan dan memahami soal bullying atau pelecehan. Anak-anak dibatasi waktu dalam menggunakan televisi (screen time), karena dulu belum ada smartphone. Selebihnya dimanfaatkan untuk belajar dan bermain di rumah.
Soal bullying, anak-anak diajarkan bagaimana sikap jika dibuli, bagaimana jika melihat orang dibuli, dan apa-apa saja yang termasuk tindakan membuli.
Bagaimana menjelaskan tentang konsep lampu lalu lintas tadi dalam penggunaan internet?
Kami mengajarkan anak-anak jika melihat konten dewasa, maka itu artinya lampu merah, berarti tidak boleh dilihat. Dengan itu kami selalu komunikasi dengan anak-anak jika mereka selesai menggunakan internet, “Kamu lihat apa tadi?”
Kami menjelaskan, kalau kamu melihat konten dewasa, nanti dada kamu akan deg-degan. Terus nanti otakmu menjadi rusak. Jadi jika nanti ketemu itu harus dihindari. Tapi, pernah suatu saat anak-anak terpergok melihat konten tidak pantas.
Lalu, bagaimana tindakan Anda?
Kami tahu bahwa anak saya itu tidak sengaja melihatnya di Youtube. Dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Kami pun tidak langsung memarahinya. Kami biarkan dulu. Beberapa saat kemudian baru kami panggil. Dia pun ketakutan, karena merasa bersalah. Di situlah kami menjelaskan bahwa hal itu akan mengganggu otaknya.*
(Diterbitkan oleh Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2022)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat