Mari kita bayangkan ketika ada seseorang membawa sesuatu yang baru kepada kita dan mengajak kita untuk memilikinya. Namun, kita ragu-ragu untuk menerima tawaran tersebut.
Kita sebetulnya paham bahwa apa yang dibawa oleh orang tersebut adalah baik, bahkan bermanfaat untuk kita di masa depan. Namun, karena sesuatu hal, kita tetap tidak mau menerimanya.
Lalu kita saksikan sejumah orang mulai tertarik untuk memiliki sesuatu yang tadi ditawarkan kepada kita. Alasannya tentu karena tahu bahwa itu baik. Lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita akan tetap bersikukuh dengan sikap penolakan kita?
BACA JUGA: Bermain-main dengan Keragu-raguan
Ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada kita. Kemungkinan pertama, kita akhirnya luluh, lalu mulai mencari informsi lebih banyak tentang sesuatu yang ditawarkan tadi. Setelah itu, kita akhirnya menerimanya dengan lapang dada.
Kemungkinan kedua, kita tetap tak tertarik. Mengapa? Sebab, setelah kita menimbang-nimbang, ternyata tidak memiliki sesuatu itu lebih menguntungkan ketimbang memilikinya. Boleh jadi, sesuatu tersebut bakal menghalangi kita melakukan banyak hal yang kita suka, atau memiliki banyak hal yang kita senangi.
Keadaan ini diperparah dengan informasi-informasi keliru tentang sesuatu tersebut. Ini semua membuat kita menutup mata, menutup telinga, dan menutup hati kepada sesuatu yang tadi ditawarkan kepada kita. Bahkan, tidak sekadar itu, kita mengubah rasa tidak suka menjadi benci dan permusuhan!
Begitulah Islam dengan konsep tauhid dan syariatnya. Siapa pun yang mau berpikir, merenung, mengkaji lebih dalam tentang Islam, pasti tak akan bisa membantah bahwa ini agama yang benar. Sebab, Islam adalah agama fitrah. Tak ada sedikit pun ajaran Islam yang menyelisihi fitrah manusia.
Namun, sebagian manusia tak mau mempelajarinya, enggan mendalaminya, malas mengkajinya. Sebagian yang lain paham bahwa Islam adalah agama fitrah, namun menolak untuk memeluknya, atau tak mau menjalankan syariatnya.
Mereka takut Islam akan membatasi banyak hal. Islam akan melarangnya melakukan ini dan itu, atau menyuruhnya melakukan ini dan itu. Padahal, banyak dari apa yang dilarang Islam justru mereka suka, dan apa yang disuruh Islam, justru mereka malas melaksanakannya.
Singkatnya, mereka masih ingin bebas. Tak mau disuruh, tak suka dilarang. Uniknya, jumlah manusia seperti ini tidak sedikit. Lalu bagaimana dengan kita?
Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat