Jika hari ini kita melihat hubungan Iran dan Amerika Serikat plus Israel sedang berada pada puncak ketegangan, maka itu tak terjadi secara tiba-tiba. Hubungan ketiga negara itu sebetulnya penuh dinamika dan banyak faktor yang mempengaruhi. Mulai dari perbedaan ideologi, kepentingan geopolitik, hingga persaingan di kawasan.
Kita bisa mulai meneropongnya sejak era tahun 1950-an, tepatnya pada Agustus 1953, di mana ketika itu AS membantu penguasa monarki Iran, Shah Mohammad Reza Pahlavi, untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mosaddegh.
Penggulingan Mosaddegh dilakukan lewat operasi rahasia bernama Ajax, dipimpin oleh CIA (AS) dengan dukungan MI6 (dinas intelijen Inggris). Shah Reza Pahlavi yang pro-Barat akhirnya berhasil menguasai Iran secara otoriter meskipun bentuk negara tetap monarki konstitusional. Itulah realitas politik di Iran setelah Pahlavi berkuasa. Kekuasaan raja sangat dominan, oposisi politik dibatasi secara ketat, dan arah kebijakan menjadi pro-Barat sekaligus anti-komunis.
Lalu mengapa AS sangat mendukung --bahkan menjadi operator-- penggulingan Mosaddegh? Jawabnya, karena saat itu AS takut Iran akan mendekat ke Uni Soviet dan menguasai minyaknya sendiri. Peta geopolitik global ketika itu memang
Peristiwa tahun 1953 ini menjadi awal ketidakpercayaan besar masyarakat Iran kepada AS. Dan, puncak ketidakpercayaan ini terjadi pada tahun 1979 lewat sebuah revolusi yang digerakkan oleh Ayatullah Khomeini. Dalam revolusi tersebut, Shah Pahlavi berhasil digulingkan dan sistem pemerintahan diubah menjadi Republik Islam Iran.
Pemerintah baru ini sangat anti-Barat. Bahkan, mereka melihat AS sebagai kekuatan yang mencoba mengendalikan Iran dan wilayah Muslim. Ini sangat berbeda dengan pemerintahan sebelumnya yang sangat pro AS.
Di sisi lain, pemerintah AS memandang Iran sebagai ancaman karena mendukung kelompok atau milisi yang melawan sekutu AS di Timur Tengah, utamanya Israel. Bahkan, secara umum, bisa disimpulkan bahwa Iran dan Israel menjadi dua kekuatan besar yang mewakili kelompok pro AS dan anti AS di kawasan Timur Tengah.
Dan, ini membuat AS bernafsu untuk meruntuhkan Iran dan menjadikan sekutunya, Israel, sebagai kekuatan utama di kawasan Timur Tengah.
Lantas, apa kepentingan AS di kawasan ini? Jawabnya akan kita paparkan dalam lanjutan artikel ini di kemudian hari. Ikuti terus ya! *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat