Selasa, 12 Juli 2022

Lika-Liku Dakwah di Lau Gedang

Kampung Lau Gedang sebuah daerah terpencil di Sumatera Utara. Jaraknya hanya sekitar 67 km dari Medan, ibu kota Sumatera Utara. Meski demikian, sinyal telepon nyaris belum menyapa masyarakat di sini.

Kampung Lau Gedang di kaki Gunung Sebayak.

Syukurnya, kampung yang berada di kaki Gunung Sibayak ini telah tersapa dengan syiar dakwah Islam. Ustadz Habib menyapa masyarakat dengan “kehangatan” Islam. Pria bernama lengkap Ulil Albab Habibullah Lubis ini tak sekedar mengajarkan al-Qur’an, dia juga mengajarkan baca tulis latin.

Ia juga menggerakkan masyarakat untuk membenahi kampung nan subur itu. Kehadirannya ditunggu, dan ketika pada akhirnya dia harus meninggalkan kampung itu, masyarakat mendambakannya.

Penulis tiba di Lau Gedang pada Senin, 11 April 2022 atas undangan PosDai Hidayatullah. Laporan kali ini mencoba memotret lika-liku dakwah di Kampung Lau Gedang. Selamat membaca. ***


Merajut Hidayah di Kaki Sibayak

Lau Gedang adalah nama sebuah kampung kecil di kaki Gunung Sibayak, Sumatera Utara. Kampung ini terletak di Dusun 11 Sembekan Dua, Desa Suka Makmur, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang.

Selain Gunung Sibayak, ada dua gunung lain yang berada dekat kampung ini, yakni Gunung Sinabung (2.460 m dpl) yang beberapa kali meletus sejak 2010, dan Gunung Sibuaten (2.457 mdpl) yang tertinggi di Sumatera Utara. Karenanya, berada di Kampung Lau Gedang seakan berada di tengah cekungan piring raksasa.

Lau Gedang dikelilingi oleh banyak gunung dan bukit.

Kampung ini terletak pada ketinggian sekitar 1.350 m dpl, atau setengah dari ketinggian Gunung Sibayak. Udara di sana sangatlah dingin. Hembusan angin yang menusuk kulit akan terasa sampai ke tulang.

Kampung Lau Gedang berada di zona Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan, kawasan pelestarian alam di Sumatera Utara. Karena berada di zona tahura, seharusnya kawasan ini tak boleh dihuni, apalagi didirikan bangunan permanen. Namun faktanya di kawasan ini sudah berdiam sekitar 70 keluarga. Mereka membuka ladang, membangun rumah-rumah permanen dan semi permanen, hingga terbentuk sebuah kampung kecil di sana.

Menurut Aripin Barus, salah seorang warga Lau Gedang yang telah lama menetap di kampung tersebut, kawasan ini awalnya dijadikan tempat pelarian atau persembunyian. “Dulu, orang orang yang datang ke kawasan ini adalah orang-orang yang bermasalah,” kata Aripin kepada penulis saat ditemui di Lau Gedang pada awal April 2022.

Namun, setelah berlangsung lama, kawasan ini tak lagi dijadikan tempat persembunyian. Karena lahannya yang subur, banyak pendatang yang tertarik tinggal di kawasan ini, termasuk Aripin dan istrinya. Mereka pindah ke Lau Gedang pada tahun 2013. “Saat itu belum banyak yang tinggal di kampung ini. Hanya ada sebelas rumah,” jelas Aripin.

Ia membuka lahan untuk ditanami kopi dan sayur-sayuran. Harga kopi saat itu sedang tinggi, Rp 40 ribu per kg. Hal tersebut membuat Aripin dan istrinya betah tinggal di Kampung Lau Gedang.

Seluruh masyarakat yang tinggal di Lau Gedang memang bekerja sebagai peladang. Ada yang menanam kopi, cabai, tomat, sawi putih, dan terong Belanda. Dari semua jenis tanaman tersebut, kopi menjadi primadona.

Kopi Lau Gedang berjenis arabika. Masyarakat Kota Medan mengenal baik kopi ini. Kualitasnya dinilai bagus. Tak heran jika harganya lumayan tinggi. Inilah sumber penghasilan terbesar masyarakat Lau Gedang.

Dinas Kehutanan Sumatera Utara bukan tak tahu tentang keberadaan hunian di kawasan tahura ini. Seorang pegawai instansi tersebut menjelaskan, kini instansinya menggunakan pendekatan yang lebih manusiawi kepada penduduk. Tidak seperti dulu ketika mereka kerap melakukan pengusiran secara paksa kepada peladang. Sekarang mereka mempersilahkan penduduk Lau Gedang berladang di kawasan itu asalkan mau bergabung dalam kelompok tani yang mereka bina.

Lagi pula, kawasan tahura memang memiliki beberapa fungsi. Di antaranya, sebagai kawasan pemanfaatan. Di kawasan ini, masyarakat boleh memanfaatkannya sebagai lahan pertanian, namun harus dalam koordinasi Dinas Kehutanan. Begitu juga tentang bangunan, ada beberapa wilayah yang boleh didirikan bangunan, ada juga yang tidak.

Sebenarnya Kampung Lau Gedang tak terlalu jauh dari Kota Medan. Menurut Google Map, jaraknya dari ibu kota Sumatera Utara itu hanya sekitar 67 km. Namun karena kondisi jalan kurang baik, butuh waktu lama untuk mencapainya.

Jalan menuju Lau Gedang

Untuk menuju Lau Gedang, penulis terbang dari Jakarta ke Medan, kemudian lanjut dengan mobil sekitar 3 jam menuju Kota Berastagi, Kabupaten Karo. Sampai di kota wisata itu, berganti kendaraan dengan mobil yang lebih tangguh. Sebab, jalanan menuju kampung Lau Gedang tidak rata. Banyak batubatu besar. Sebagian jalanan masih berupa tanah keras yang berlubang-lubang. Jika tak hatihati, ban mobil bisa terperosok.

Perjalanan 10 km dari Berastagi ke Lau Gedang sempat terjeda di tengah jalan, karena kendaraan terhalang sebatang pohon yang tumbang dan melintang di tengah jalan. Perlu waktu sejenak untuk menyingkirkan batang pohon itu.

Menjelang sore, penulis  tiba di Lau Gedang. Ketika itu gerimis sedang turun. Udara terasa dingin. Sinyal ponsel tak ada. Komunikasi dengan “dunia luar” praktis terputus.

Begitu memasuki kampung, tampak dari kejauhan sebuah masjid berlantai dua. Masjid berwarna hijau dengan kombinasi warna kuning tersebut bernama Nurul Yaqin. Tampak kokoh dengan menara di salah satu sudut bagian depan.

Masjid Nurul Yaqin baru selesai dibangun. Awalnya, masjid tersebut amat sederhana. Hanya terbuat dari kayu dan papan. Lalu Allah Ta’ala menggerakkan hati sejumlah muhsinin, termasuk warga setempat, untuk membiayai pemugaran masjid tersebut. Alhamdulillah!

Di masjid itulah masyarakat Lau Gedang menegakkan shalat berjamaah. Di sana juga anakanak belajar mengaji. Sang guru adalah seorang dai muda yang diutus oleh Persaudaraan Dai Hidayatullah (PosDai) bekerja sama dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara. Nama sang guru tersebut adalah Ulil Albab Habibullah Lubis, atau biasa disapa Ustadz Habib.

Setengah dari penduduk Lau Gedang beragama Islam, dan sebagian dari masyarakat Muslim tersebut berstatus muhtadin (orang-orang yang mendapat hidayah), yakni mereka yang beralih menjadi Muslim setelah meninggalkan agama non Islam. 

Tentu pada mulanya mereka belum pandai membaca Qur`an. Anak-anak mereka bahkan tak sekadar kesulitan membaca Qur`an tapi juga tak dapat membaca huruf Latin. Karena itu kedatangan Habib ke kampung itu sangat disyukuri oleh warga. Habib tak sekadar mengajar mengaji, tapi juga menggerakkan masyarakat untuk membenahi kampung yang terpencil tersebut.

Bagaimana lika-liku kisah Habib mendidik masyarakat dan anak-anak muhtadin di Kampung Lau Gedang ini? Mari kita lanjutkan kisah dakwahnya di kaki Gunung Sibayak ini. ***


Habib Datang, Kampung Berkembang

Pada awalnya, pembinaan masyarakat Lau Gedang dilakukan oleh Ibnu Rusydi Sinaga, saat menjabat sebagai Ketua Persaudaraan Dai Hidayatullah (PosDai) Sumatera Utara. Setiap hari Kamis ustadz ini datang ke Lau Gedang, lalu kembali ke Medan pada hari Ahad. Saat itu ada 20 kepala keluarga Muslim di Lau Gedang yang ia bina. Sebagian besar mereka muhtadin.

Penulis (tengah) bersama Habin (kiri) dan Ibnu Rusydi (kanan)

Kegiatan dakwahnya di kampung terpencil itu disokong Yayasan Baitul Maal PT Perusahaan Listrik Negara (YBM PLN). Pihak YBM PLN menyediakan dana pembinaan, sedangkan PosDai menyediakan dai yang bersedia membina masyarakat di sana.

Setelah berlangsung tiga bulan Rusydi, merasa berdakwah bolak balik seperti itu tidak efektif. Pembinaan tidak bisa maksimal. Masyarakat Lau Gedang perlu didampingi setiap hari. Maka Rusydi memutuskan untuk mencari dai yang bersedia menetap di Lau Gedang.

Setelah bermusyawarah dengan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara yang saat itu dijabat oleh Lukman Hakim, Rusydi menjatuhkan pilihan jatuh pada seorang kader muda bernama Ulil Albab Habibullah Lubis, yang biasa disapa Habib.

Pada September 2018 Rusydi mengajak Habib berkunjung ke Lau Gedang. Maka berangkatlah keduanya ke sana bersama istri masing-masing. Saat tiba di Lau Gedang, Habib terpana. Kondisinya sangat kontras dengan kehidupan dia selama ini di kampus Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, di pinggiran Kota Medan. Di kampung terpencil itu jangankan sekolah, listrik pun tak ada.

Dai kelahiran tahun 1992 ini ragu apakah istrinya mau tinggal di sana. “Istri saya saat itu sibuk mengajar di sekolah Hidayatullah di Tanjung Morawa dan sedang menyelesaikan kuliahnya di Medan.”

Tapi ternyata sang istri bersedia hijrah ke kampung terpencil itu. “Ummi akan ikut ke mana pun Abi pergi,” kata sang istri. Maka pada awal tahun 2019, berangkatlah Habib bersama istri serta seorang anak mereka yang masih kecil ke Lau Gedang.

Habib tinggal di sebuah rumah sederhana di kampung itu. Rumah itu ia sewa atas sokongan dana dari YBM PLN. Di rumah itulah Habib dan istrinya mengajar membaca dan menulis.

“Saya mendapati hampir semua warga di kampung ini tidak bisa membaca. Membaca huruf Latin pun tak bisa, apalagi membaca Qur`an,” kata Habib. Maka pemberantasan buta huruf Qur`an dan Latin menjadi program dakwah pertama yang dilakukan Habib dan istrinya.

Kegiatan belajar dan mengajar berlangsung setiap pagi. Para murid tak cuma anak-anak, juga ada orang dewasa. Bahkan tak hanya warga Muslim, juga warga non-Muslim. Jumlahnya mencapai 60 orang.

Alhamdulillah, sejak kedatangan Habib, jumlah warga Muslim di Lau Gedang telah bertambah, dari semula hanya 20 keluarga, kini menjadi 45 keluarga.

Di balik tantangan dakwah di daerah terpencil, ada kenikmatan baru yang dirasakan Habib dan istrinya. Di tempat barunya itu hubungan mereka berdua menjadi kian dekat.

“Dulu (sewaktu bertugas di Tanjung Morawa), saya dan istri jarang sekali punya waktu bersama-sama di rumah. Semua sibuk mengajar. Pada malam hari kami berdua sudah capek. Masing-masing ingin segera beristirahat,” kenang Habib.

Setelah tinggal di Lau Gedang, Habib jadi punya sisa waktu untuk membantu istrinya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Habib merasa hubungannya dengan sang istri tambah harmonis.

Saat Habib tiba di kampung itu telah ada masjid bernama Nurul Yaqin yang dibangun oleh masyarakat setempat beberapa tahun sebelumnya. Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu dan papan. Kapasitasnya juga tak banyak, hanya sekitar cukup untuk 30 orang saja. Di masjid itulah Habib mulai menghidupkan shalat lima waktu berjamaah dan mengajar anak-anak mengaji.

Pada tahun 2020 masyarakat bersepakat untuk memugar Masjid Nurul Yaqin. Mereka bahu membahu mengumpulkan dana dan bahan bangunan. Ada juga muhsinin dari luar kampung yang ikut menyumbang dana dalam jumlah lumayan besar.

Di bawah koordinasi Habib, pemugaran berlangsung selesai pada September 2021. Setelah dipugar, Masjid Nurul Yaqin tampil gagah berupa bangunan kokoh berlantai dua. Menaranya menjulang tinggi.

Setelah beberapa bulan Habib tinggal di Lau Gedang, datang pemberitahuan sekaligus tawaran dari pihak YBM PLN sehubungan dengan berakhirnya kontrak kerja sama PosDai dengan yayasan tersebut. Pihak YBM meminta Habib untuk` pindah berdakwah ke kaki Gunung Sinabung, sesuai program mereka. Pihak YBM berjanji akan memenuhi segala kebutuhan Habib dan keluarga dengan jumlah yang memadai jika bersedia pindah tugas ke tempat yang baru.

Habib menolak secara halus tawaran tersebut. Penolakan tersebut berkonsekuensi terhadap terputusnya bantuan dari YBM untuk menunjang dakwah Habib, termasuk perpanjangan biaya sewa rumahnya.

Ketika Habib sedang mencari solusi untuk memperpanjang sewa rumahnya, seorang muhsinin tiba-tiba mendatanginya. Dia menawarkan sebidang tanah di Lau Gedang untuk diwakafkan. Luasnya sekitar 7 ribu meter per segi. Habib menyambut tawarannya dengan segera mendirikan sebuah rumah kayu di lahan wakaf itu.

Pesantren Hidayatullah di Lau Gedang

Meskipun Habib tinggal di tanah wakaf di pinggiran kampung, namun pembinaan kepada masyarakat tetap ia jalankan. Bahkan belakangan ia berhasil menghimpun dana untuk membeli generator set (genset), yakni mesin pembangkit tenaga listrik, berkapasitas besar untuk menerangi seisi kampung. Masing-masing warga diminta partisipasinya membayar sebesar Rp 120 ribu per bulan.

Setelah listrik menyala, kampung pun menjadi terang. Suasana kampung kian semarak, termasuk di Pesantren Hidayatullah Lau Gedang. Rumah tempat Habib tinggal dibangun dua lantai agar bisa menampung santri lebih banyak. Sebuah mushalla sederhana terbuat dari papan sudah hampir jadi, berdiri di tengah-tengah lahan wakaf.

Habib telah menghabiskan waktu selama setahun lebih di pesantren itu. Para santrinya giat mempelajari al-Qur`an. Jumlah mereka bertambah, dari semula 3 orang menjadi 12 orang. Kebanyakan mereka anak yatim dan piatu. Di antara mereka, kata Habib, sudah ada yang hafal 4 juz.

Habib merasa masa depan dakwah di Lau Gedang sudah terlihat cerah. Ia tinggal menjaga pesantren tersebut agar bisa terus berkembang.***


Kami Akan Kembali ke Lau Gedang

Pada suatu hari di pertengahan 2021 Habib menerima sepucuk surat dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Isinya mengejutkan. “Kami diminta menghentikan proses pembangunan Pesantren Hidayatullah di Lau Gedang,” kata Habib.

Padahal, baru ada dua bangunan yang berdiri di lahan tersebut. Pertama, rumah pengasuh sekaligus tempat tinggal santri. Kedua, mushalla sederhana yang terbuat dari papan dan kayu yang belum selesai seratus persen.

Dengan datangnya surat tersebut, proses pembangunan mushalla tak bisa dilanjutkan. Impian Habib untuk membangun Pesantren Hidayatullah di Lau Gedang, untuk sementara waktu, harus ia kubur dalam-dalam.

Habib sadar, ada hal yang ia lupa selama ini, yakni lahan yang ditempati pesantren adalah kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), lahan pelestarian alam milik negara.

“Beberapa kawan menyarankan agar saya mengabaikan saja surat peringatan tersebut. Tapi saya tidak bisa begitu,” kata Ha-ib. Di sisi lain, ia juga bingung harus berbuat apa?

Pada suatu siang, istri Habib minta diantar ke Kota Berastagi, kira-kira 1 jam perjalanan mengendarai sepeda motor dari Lau Gedang. Tujuannya sekadar untuk menelepon. Maklum, di Lau Gedang tak ada sinyal sama sekali.

Habib mengantar istrinya yang saat itu sedang hamil 8 bulan dengan mengendarai sepeda motor, melewati jalan-jalan berlubang dan berbatu. Qadarullah, di tengah jalan Habib mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya jatuh terjungkal. Istrinya jatuh terpental, kakinya patah dan luka-luka.

Dalam kondisi susah payah, Habib dan istrinya melanjutkan perjalanan ke Berastagi, tidak kembali ke Lau Gedang. “Karena di Lau Gedang tidak ada dokter, tidak ada puskesmas, tidak ada bidan,” tutur Habib.

Tiba di Kota Berastagi, Habib bingung harus menemui siapa. Uang di tangan hanya Rp 200 ribu, sementara hari semakin sore. Istrinya terus merintih kesakitan. Habib segera menyewa kamar di sebuah penginapan. Ia ingin istrinya segera istirahat.

Uang di tangan tinggal Rp 50 ribu. Habib semakin bingung, bagaimana dia bisa membawa istrinya ke dokter dengan uang sebesar itu? “Saya telepon beberapa teman, tak ada satu pun yang mengangkat,” kenang Habib.

Dalam kondisi seperti itu, tak ada tempat mengadu paling baik kecuali kepada Yang Maha Mengatur Hidup manusia. Hanya Dia yang bisa membantu ketika semua jalan terasa sudah tertutup.

Habib mendatangi Masjid Istihrar yang berada tak jauh dari tempat mereka menginap. Di masjid itu, Habib mengadukan seluruh persoalannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sekaligus memohon agar diberi petunjuk dan jalan keluar.

Pertolongan Allah Ta’ala datang melalui seseorang yang menghampiri Habib, menepuk pundaknya, lalu bertanya tentang masalah yang sedang ia hadapi.

Setelah Habib menceritakan persoalannya, orang tersebut mengajak Habib mendatangi dokter Purba. Inilah awal berlakunya takdir Allah Ta’ala untuk Habib. Dr. Purba tak sekadar membantu mengobati istri Habib, tapi juga menawarkan untuk mengelola panti asuhan miliknya yang selama ini kosong dan tak terurus.

Bukan main girang hati Habib. Rasanya ia ingin segera pulang ke Lau Gedang dan bercerita kepada para santrinya tentang “rumah baru” yang akan mereka tempati nanti.

Singkat cerita, Habib bersama 12 santrinya akhirnya hijrah dari Lau Gedang ke Berastagi. Kepergian Habib tentu membuat masyarakat di kaki Gunung Sibayak itu sedih. Mereka merasa sangat kehilangan dai yang selama ini sabar membimbing mereka.

Di Berastagi, Habib dan istrinya mulai mengembangkan panti asuhan yang diamanahkan kepadanya. Panti asuhan tersebut ia ubah menjadi Pesantren Hidayatullah, tempat anak-anak belajar al-Qur`an. Jumlah santrinya semakin lama semakin bertambah hingga menjadi 60-an anak.

Beberapa santri yang belajar di pesantren ini berasal dari Lau Gedang. Mereka berasal dari keluarga muhtadin. Seorang santri bahkan sengaja dititipkan oleh ayahnya sebelum beliau meninggal dunia, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu dipanggil oleh Yang Kuasa.

Ada juga santri yang dititipkan dalam kondisi sakit. Sebagian dari wajahnya mengalami pembengkakan. Ia dititipkan kepada Habib karena orangtuanya tak lagi sanggup membiayai hidup anaknya.

Meskipun sudah tinggal di Berastagi, Habib masih sering datang ke Lau Gedang untuk membina masyarakat di sana. Ia juga sempatkan menengok pesantren yang telah ia tinggalkan dan kini hanya ditempati oleh Bolang dan istrinya.

Sebenarnya masyarakat Lau Gedang ingin Habib kembali ke kampung mereka. “Kembalilah ke kampung ini, Ustadz, supaya kampung ini ada yang membina,” kata Aripin Barus, salah seorang tokoh Lau Gedang, kepada Habib.

Namun Habib belum dapat memenuhi keinginan mereka. “Saya sudah punya amanah menjaga para santri di Berastagi, Pak. Jumlah santri saya di sana 60 orang. Mereka tidak mungkin saya tinggalkan atau saya bawa ke sini. Lagi pula saya kan sering datang ke sini.”

Saat mengantar penulis kembali ke Medan, Habib menyampaikan tekadnya untuk kembali mengembangkan dakwah di Lau Gedang, melalui santri asal kampung itu yang telah selesai mengenyam pendidikan di Pesantren Hidayatullah Berastagi. “Kelak merekalah yang akan mendirikan Rumah Qur`an di Lau Gedang, juga di daerah-daerah kaki gunung lainnya,” jelas Habib.

Adapun lahan pesantren seluas 7 ribu meter persegi di Lau Gedang –yang kemudian bertambah menjadi 2,5 hektar—akan dijadikan areal perkebunan, bekerja sama dengan Perhutani untuk menopang biaya belajar di Rumah Qur`an Lau Gedang.Lalu bagaimana dengan Habib?

Ia akan mengembangkan dakwah di Kabupaten Karo dan sekitarnya. Ia akan mendidik dai-dai muda di pesantren yang ia kelola, lalu menyebarkan mereka ke berbagai wilayah dakwah. Semoga Allah Ta’ala mudahkan. Wallahu a’lam. *

(Artikel ini dimuat di Majalah Suara Hidayatullah edisi Juni 2022)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat