Sabtu, 04 Desember 2021

Mencari Mutiara di Kepulauan Aru

SUDAH lama saya tidak mendengar nama Alfred Russel Wallace. Terakhir kali saya mendengar nama itu pada awal era 90-an, saat mengikuti mata kuliah Biologi Laut di Institut Pertanian Bogor. Bagi para pencinta ilmu hayati, nama Wallace tentu tak asing. Sama seperti nama Charles Darwin, sang penemu teori evolusi yang banyak ditentang itu.


Wallace seorang naturalis asal Inggris. Pada sekitar tahun 1800-an ia berlayar menjelajahi gugusan pulau demi pulau yang membentang di perairan laut sebelah tenggara Benua Asia.  Tak tanggung-tanggung, 8 tahun ia menghabiskan waktu mengarungi pulau demi pulau di kawasan yang dikenal dengan nama Nusantara itu.

Yang menarik, di antara banyak pulau yang ia singgahi, ada satu gugusan pulau yang membuatnya amat terpesona. Belum pernah ia menemukan pulau seindah itu. Ia begitu kagum dengan flora dan faunanya. 

Gugusan pulau itu bernama Aru, terletak di sebelah tenggara Kota Ambon, Provinsi Maluku, berhadapan langsung dengan Laut Arafuru yang ganas di sebelah utara Benua Australia.

Menurut Wallace, Aru adalah tempat paling indah yang pernah ia temui. Dari keindahan inilah, Wallace terinspirasi untuk merumuskan teori tentang bagaimana kehidupan berevolusi di muka bumi. 

Teorinya ada kemiripan dengan teori rekannya, Charles Darwin. Hanya saja, jika Darwin terinspirasi lewat keindahan di Kepulauan Galapagos, Amerika Selatan, maka Wallace terinspirasi dari Kepulauan Aru.

Wallace tiba di Kepulauan Aru pada tahun 1857, tepatnya di kota Dobo, kota pelabuhan yang kini menjadi ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. 

Saat itu Dobo sudah menjadi kota pelabuhan yang ramai. Maklum, ketika itu Dobo sudah terhubung dengan berbagai rute perdagangan maritim dunia. Tak heran bila banyak pedagang yang datang dan pergi ke Dobo untuk mengambil benda paling berharga di kepulauan itu, yakni mutiara. 

Kepulauan Aru memang dikenal sebagai penghasil mutiara paling baik di dunia. Wajarlah bila gugusan pulau di Laut Arafuru ini disebut juga Nusa Mutiara. 

Ongki, seorang pemuda warga Dobo, saat berbincang-bincang di atas kapal dari Tual menuju Kepulauan Aru, menceritakan bahwa dulu penduduk di kepulauan ini biasa mencari mutiara dari alam. Mereka menyelam ke dasar laut. 

Sekarang, kata Ongki, mutiara dari alam sudah tidak ada lagi. Yang ada, mutiara hasil bidudaya.

Haris, pria setengah baya yang tinggal di Siwalima, Pulau-Pulau Aru, membenarkan perkataan Ongki. Mutiara dari alam saat ini sudah jarang ditemukan. 

Bahkan, Haris menduga, orang-orang sudah tidak tertarik lagi mencari mutiara alami. Mereka lebih suka budidaya. Selain jumlahnya lebih banyak, juga lebih mudah didapat. Di Kepulauan Aru, kata Haris, masih ada beberapa perusahaan budi daya kerang mutiara. 

Pada pertengahan September 2021, saya bersama tim PosDai Hidayatullah, menyambangi Kepulauan Aru. Mulanya kami berangkat dari Kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku, menuju Tual, menggunakan pesawat kecil. Lalu, setelah terbang selama 1 jam, kami meneruskan perjalanan menuju Kepulauan Aru menggunakan kapal sebagaimana dulu Wallace mendatangi kepulauan itu. Tual berada di tengah-tengah antara Ambon dan Kepulauan Aru.

Setelah berlayar selama lebih dari 12 jam, kami tiba di Pelabuhan Dobo yang ramai. Kedatangan kami di kepulauan ini untuk mencari "mutiara". 

Namun, bukan mutiara alami atau budidaya. Kami mencari mutiara yang lebih mahal dari itu.  Kami mencari dai-dai muda yang rela mewakafkan dirinya untuk membimbing masyarakat Muslim di kepulauan Aru. Bagi kami, mereka adalah mutiara yang sebenarnya. 

Jumlah para dai muda tersebut jelas tak banyak, sama seperti mutiara alami yang sekarang sudah jarang ditemukan. Sebab, bagi kebanyakan anak muda, memilih tinggal di Aru sama seperti memilih jalan sunyi. Apalagi untuk berdakwah, tak banyak yang tertarik menjalaninya. 

Jika Wallace berani mengatakan bahwa Aru adalah tempat paling indah yang pernah ia temui, maka saya pun berani mengatakan bahwa Aru adalah lahan dakwah paling menantang yang pernah saya kunjungi. 


Kabupaten Seratus Pulau

Kepulauan Aru adalah satu dari 9 kabupaten --ditambah 2 kota-- di Propinsi Maluku. Di kabupaten ini ada sekitar 187 pulau yang mendiami kawasan sekitar 185 kilometer dari utara ke selatan dan 90 kilometer dari timur ke barat. Luasnya kira-kira sama dengan dua kali luas Pulau Bali.


Dari total jumlah pulau tersebut, tidak semua berpenghuni. Hanya setengah saja yang dihuni masyarakat, tepatnya 79 pulau. Namun, jumlah itu tentu cukup banyak jika dibandingkan dengan Kepulauan Seribu yang terdapat di utara Jakarta. Di Kepulauan Seribu, hanya 11 pulau saja yang berpenghuni.

Jarak satu pulau dengan pulau yang lain di Kepulauan Aru sangat bervariasi. Ada yang dekat, ada yang sangat jauh. Perjalanan dari satu pulau ke pulau yang lain hanya bisa ditempuh dengan kapal-kapal kecil. 

Bahkan, perjalanan dari satu sisi pulau ke sisi yang lain seringkali lebih efektif jika ditempuh dengan kapal atau perahu dibanding mobil atau motor. Sebab, tak semua pulau memiliki jalan yang layak dilalui. Kebanyakan justru hanya jalan setapak saja.

Untuk menjangkau Kampung Jerukin yang terletak di Pulau Maikoor, misalnya, kami perlu berlayar selama kira-kira tiga setengah jam dengan perahu bermotor. Padahal, Jerukin bukanlah kampung terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Masih ada pulau lain yang berada lebih jauh lagi, yakni Pulau Jambu Air. 

Untuk mencapai pulau Jambu Air, kata La Ganti, salah seorang nelayan di Kampung Jerukin, butuh waktu sekitar 4 jam dari Jerukin. Sedangkan jarak Pulau Jambu AIr menuju Australia perlu waktu sekitar 6 jam lagi. 

Konon, cerita La Ganti, nelayan di Pulau Jambu AIr dan sekitarnya kerap mencari ikan di perairan Australia. Di antara mereka ada yang tertangkap polisi Australia. Tapi, lebih banyak yang berhasil kabur bila dikejar.

Ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru adalah Dobo. Letaknya di Pulau Warmar, pulau kecil dan terpisah dari pulau besar di sebelahnya, yakni Pulau Wokam. Secara keseluruhan, di Kabupaten Kepulauan Aru ada 10 kecamatan. Dari seluruh kecamatan tersebut, Dobo kota paling maju.

Dobo kota kecil yang ramai. Di sana banyak sekali kendaraan. Jalan-jalan sudah beraspal. Bangunan di sepanjang jalan sudah permanen. Sejumlah hotel --yang lebih mirip penginapan-- juga ada di Dobo. Sewa per malam berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. 

Pemukiman padat berada di daerah pantai. Rumah-rumah papan yang disanggah oleh banyak tiang berdiri rapat di sepanjang pesisir pantai. Antara satu rumah dengan rumah lainnya dihubungkan oleh jembatan papan yang sempit. Hanya muat dilewati oleh dua orang. Di bawah jembatan dan rumah-rumah bertiang tersebut terdapat genangan air laut bercampur pasir.  

Perahu-perahu nelayan tertambat di pantai di dekat perumahan penduduk. Jumlahnya banyak sekali. Masyarakat Kepulauan Aru, termasuk Dobo, memang hidup dari hasil laut, terutama ikan, udang, lobster, teripang, dan rumput laut. 

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2019, jumlah keseluruhan penduduk Kepulauan Aru sekitar 105.742 jiwa. Kepadatan rata-rata hanya 16 jiwa per kilometer persegi. Bandingkan dengan kepadatan penduduk di DKI Jakarta pada tahun yang sama sebesar hampir 17 ribu jiwa per kilometer persegi.

Jumlah penduduk Kota Dobo, menurut data tahun 2020, sebanyak 42.263 jiwa. Luas wilayah Dobo sekitar 24,56 kilo meter persegi dengan kepadatan penduduk hampir 2 ribu jiwa per kilo meter persegi. Jumlah ini memang cukup padat jika dibandingkan Kepulauan Aru secara keseluruhan. Namun, di wilayah pinggiran kota Dobo, masih sangat longgar, terlebih di wilayah yang jauh dari pantai.

Menurut Sukahar, seorang pengusaha ikan di Dobo, tahun 2016 kota ini masih sepi. "Saya masuk ke Dobo tahun 2016. Hanya ada 5 mobil pribadi di kota ini," jelas Sukahar dalam obrolan santai dengan kami di kediamannya di Dobo, Ahad (26/9).

Namun, perkembangan Dobo pada tahun-tahun berikutnya sangat pesat. Pendapatan daerah dari hasil perikanan saja, menurut pria asal Pati, Jawa Timur ini, semula hanya ratusan juta rupiah. Sekarang melonjak menjadi Rp 30 miliar.

Salah satu ikan paling mahal yang terdapat di perairan Aru adalah ikan gelembung. "Jika ada yang membawa 30 kilogram ikan gelembung ke sini, saya bisa bayar Rp 100 juta sambil tutup mata," kata Sukahar.

Masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru mayoritas beragama Kristen, yakni 69 persen. Sedangkan pemeluk Islam hanya 30 persen. Sisanya, 1 persen lagi, beragama Hindu, Budha, dan Konghucu. 

Begitu pun masyarakat Kota Dobo, mayoritas beragama Kristen. Jumlah pemeluk Protestan sebesar 58,40 persen, Katolik 10,05 persen, dan Islam 31,39 persen, sisanya beragama Hindu (0,08 persen), Budha (0,06 persen), dan Konghucu (0,02 persen). 

Jika melihat komposisi ini wajarlah bila jumlah masjid di Kepulauan Aru juga tidak banyak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kepulauan Aru, terdapat 82 masjid di kabupaten ini. Sedangkan jumlah gereja, baik Katholik maupun Protestan, 152 buah. 

Keadaan yang hampir sama juga terdapat pada Dobo. Jumlah masjid di kota ini hanya 13 buah, sedang jumlah gereja 29 buah.

Yang menarik, masyarakat Kepulauan Aru yang majemuk ini tidak hidup terpisah berdasarkan agama sebagaimana terjadi di Ambon pasca kerusuhan tahun 1999. Masyarakat di Kepulauan Aru --termasuk di Dobo-- berbaur dalam satu kawasan dan hidup rukun.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kepulauan Aru, Abdul Haris Elwahan, ketika kami temui di kediamannya di Kota Dobo (25/9), jarang sekali terjadi konflik antar pemeluk agama di Kepulauan Aru. 

Masyarakat Dobo, jelas tokoh Nahdlatul Ulama ini, memang sempat terpengaruh dengan berita konflik di Ambon ketika itu. Tapi, konflik di Dobo tidak berlangsung lama. "Hanya satu atau dua minggu saja. Setelah itu reda," jelas Abdul Haris lagi.

Mengapa konflik di Dobo bisa diredam dengan cepat? Abdul Haris menduga, karena sejak lama masyarakat Kota Dobo hidup berdampingan secara damai. Kalau pun ada gesekan, bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

"Setiap kali ada gesekan, semua pemuka agama di Kota Dobo segera turun tangan," tutur Abdul Haris. 

Ada tiga tokoh agama berpengaruh di Dobo. Pertama, Ketua MUI yang diamanahkan kepada Abdul Haris. Kedua, Pastor Katolik. Dan, ketiga, Ketua Klasis Protestan. "Orang-orang menyebut kami bertiga Trio Macan," cerita Abdul Haris. Ia sendiri tak tahu mengapa masyarakat memberi sebutan seperti itu.

Setiap kali ada gesekan berbau SARA, masyarakat akan memanggil-manggil, "Mana Trio Macan, mana Trio Macan!" Lalu, ketiga tokoh agama ini akan segera datang untuk meredam gesekan tersebut agar tidaj berkembang menjadi konflik.

Saat kerusuhan di Ambon tahun 1999, ketiga tokoh agama ini membuat rekonsiliasi di Dobo, dibantu tokoh-tokoh adat. Setelah itu, kerusuhan selesai. Konflik bisa diredam dan kehidupan masyarakat kembali normal. 

Bahkan, cerita Abdul Haris, hubungan antar pemeluk agama pasca kerusuhan terasa lebih akrab dibanding sebelum konflik.

Trio Macan juga menjadi mitra pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan yang berpotensi menimbulkan gesekan. Setiap kali pemerintah mau membuat kebijakan, Trio Macan selalu dimintai pandangannya terlebih dahulu. 

Dalam sebulan, kata Abdul Haris, ketiga tokoh agama ini setidaknya bertemu tiga kali untuk membahas hal-hal yang berpotensi merusak kerukunan. 

Yang unik, kemajemukan di Kepulauan Aru tidak sekadar terjadi di satu pulau atau kawasan saja, namun juga di satu keluarga. Ada orang tua yang berbeda keyakinan dengan anaknya. Ada pula kakak yang berbeda keyakinan dengan adiknya. Namun, mereka tidak saling mengusik. 

Sebenarnya, masyarakat asli Kepulauan Aru berasal dari suku Aru. Suku ini memang khusus mendiami wilayah Maluku bagian Tenggara. Agama asal mereka adalah Agama Tua atau agama adat. Ketika pemerintah Orde Baru menetapkan hanya ada lima agama yang boleh dianut di Indonesia, mereka berpindah agama. 

Hal ini diakui oleh Mannan Selfara, penduduk asli Kampung Jerukin, Pulau Maikoor, Kepulauan Aru. "Dulu saya menganut agama Tua. Tahun 1971, saya baru masuk Islam," cerita Mannan yang lahir di Jerukin pada tahun 1952 tersebut.  

Akan tetapi, hambatan utama dakwah di Kepulauan Aru bukanlah kemajemukan masyarakatnya, melainkan transportasi antar pulau yang tidak mudah. Jika tidak memiliki kapal, kata Abdul Haris, mana mungkin bisa mengunjungi pulau demi pulau di kabupaten ini dengan mudah.

Di sisi lain, jumlah dai di Kepulauan Aru sangat kurang. Banyak sekali pulau yang tak memiliki ustadz atau guru ngaji.  Tak heran bila dakwah di kepulauan ini masih belum menyentuh semua pulau.  

Dai di Kabupaten Aru masih sangat langka, sebagaimana mutiara alami yang jarang sekali ditemukan kini.


Pesantren di Tengah Hutan

Sulaiman Ismail, dai muda Hidayatullah, sempat bingung ketika pertama kali bertugas di Dobo, Kepulauan Aru. Ia ingin sekali mendirikan pesantren Hidayatullah di ibukota kabupaten tersebut, tapi dari mana harus memulainya? Ia tak punya modal untuk membeli lahan. Jangankan modal membangun pesantren, sekadar biaya keseharian saja masih harus berpikir keras.  


Namun tekad Sulaiman sudah bulat. Ia yakin pesantren adalah solusi mengatasi persoalan dakwah di kabupaten seratus pulau ini. Jika pulau-pulau di Aru sulit dijangkau, pikir Sulaiman, mengapa tidak dicetak saja para dai muda di pesantren Hidayatullah, lalu kelak mereka disebar ke pulau-pulau tersebut? 

Sebenarnya, berdakwah di sejumlah pulau di Maluku, bukanlah hal baru bagi Sulaiman. Ia pernah tinggal dan berdakwah di Kampung Jerukin, Pulau Maikoor, selama 1 tahun. Ia juga pernah menetap di Bula selama 7 tahun, dan di Pulau Key Besar selama 1 tahun, serta Key Kecil selama 2 tahun. Tapi, ia belum pernah ditugaskan di Dobo, kota kecil di Pulau Warmar. 

Tahun 2018, sebuah SK (Surat Tugas) diterima Sulaiman dari Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku. Ia diperintahkan untuk pindah dari kampung Jerukin di Pulau Maikoor ke Dobo. Maka, berangkatlah ia ke kota kecil tersebut.

Tiba di Dobo, Sulaiman tak punya tempat menginap. Untunglah Allah Ta'ala mempertemukannya dengan seorang pengusaha sayuran bernama Baso Daeng. 

Baso mempersilahkan Sulaiman tinggal di rumahnya. Ia juga mengajarkan bagaimana caranya bertanam kangkung. Berjualan sayuran di Dobo, kata Baso saat kami kunjungi di kediamannya di Selayar (25/9/2021), memang menjanjikan. Harga 150 ikat kangkung saja bisa mencapai Rp 500 ribu.   

Kembali kepada kisah Sulaiman. Langkah pertama yang ia lakukan untuk mewujudkan mimpinya adalah memperbanyak silaturahim. Ia datangi siapa saja yang mau membantunya mendirikan pesantren Hidayatullah di Dobo. Alhamdulillah, Allah Ta'ala pertemukan ia dengan Sukahar, pengusaha perikanan asal Pati, Jawa Timur.

"Saya ini tidak banyak paham soal agama. Tapi saya ingin berbuat sesuatu untuk Islam. Saya ingin bermanfaat bagi orang lain," kata Sukahar ketika selepas isya, Ahad (24/9), kami berkunjung ke rumahnya di Dobo.

Lalu, Sulaiman dan Sukahar mulai mencari lahan yang cocok untuk tempat berdirinya pesantren. Rupanya realitas tak semudah rencana. Selama beberapa hari berkeliling Kota Dobo, mereka tak menemukan lahan yang bisa dijadikan pesantren. 

Saat rasa frustasi mulai muncul, Allah Ta'ala pertemukan mereka dengan seorang ibu mualaf yang memiliki lahan seluas 2 hektar di Desa Durjela, kira-kira 7 kilometer dari pusat Kota Dobo. 

Akan tetapi, lokasi lahan tersebut bukan berada di pinggi jalan besar, melainkan di tengah hutan belukar. Untuk sampai ke lokasi ini, kita harus berjalan kaki selama setengah jam melewati jalan setapak dari tanah. Bila hujan turun, jalanan menjadi becek.

Mendapati keadaan ini, Sulaiman tidak mundur. Tekadnya tetap bulat untuk mendirikan pesantren di atas lahan tersebut. 

Ujian kembali datang. Sejumlah masyarakat di sekitar lahan merasa curiga dan bertanya-tanya, mengapa pesantren harus berdiri di tengah hutan? Apakah pesantren ini membawa ajaran sesat? 

Di sisi lain, Sulaiman juga bingung bagaimana caranya membersihkan semak belukar di lahan seluas 2 hektar tersebut? Ia sendiri jelas tak akan sanggup. 

Sulaiman teringat kepada komandan Batalyon Infantri 734 yang beberapa kali mengundangnya menjadi khatib Jumat di markas batalyon tersebut. Barangkali, pikir Sulaiman, sang komandan bisa membantu mengatasi persoalan yang ia hadapi.     

Tanpa disangka, sang komandan bersedia mengirimkan 20 tentara untuk membersihkan lahan pesantren. Hanya butuh waktu dua hari, semak belukar langsung bersih. "Alhamdulillah, Pak Komandan sendiri yang memimpin pembersihan itu," cerita Sulaiman mengenang masa lalunya. 

Kecurigaan masyarakat mulai sirna setelah melihat para tentara ikut membantu membersihkan lahan pesantren. Apalagi Kepala Desa Durjela, Markus Kobrua, ikut mendukung pembangunan pesantren ini. "Pak Markus banyak membantu kami mengurus akte tanah," jelas Sulaiman.

Setelah lahan siap, pembangunan pesantren dimulai. Sebuah masjid panggung berukuran 8 x 8 meter persegi berdiri di dekat jalan masuk pesantren. Masjid itu bernama Ibadurrahman. Dindingnya terbuat dari papan. Begitu juga lantainya.

Asrama santri dan pengasuh berdiri di sisi berseberangan dengan masjid. Di sampingnya ada bak air dan sumur bor, tempat para santri mandi dan berwudhu. Sebuah gazebo berdiri di tengah-tengah antara asrama dan masjid, tempat para santri belajar atau menghapal al-Qur'an.

Jumlah santri baru tujuh 7 orang. Mereka berasal dari pulau-pulau kecil di Kepulauan Aru. Usia mereka masih belasan tahun. Namun mereka sangat antusias belajar. Beberapa di antara mereka sudah hafal beberapa juz al-Qur'an.

Ada juga tiga dai muda yang didatangkan dari Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur. Dai pertama bernama Jumadil Akhir. Usianya 24 tahun dan baru beberapa bulan lalu lulus dari Sekolah Tinggi Agama Islam Lukmanul Hakim Hidayatullah, Jawa Timur.  

"Awalnya saya ditugaskan ke Ambon. Tapi, DPW Hidayatullah Maluku meminta saya bertugas di Dobo," kata Jumadil saat kami temui di Pesantren Hidayatullah Dobo. 

Jumadil mengaku senang bertugas di Dobo. Banyak pengalaman yang ia dapat. Selain mengajar para santri, ia juga sering diminta mengisi khutbah di beberapa instansi di Kota Dobo, termasuk Kantor Polres Kepulauan Aru. 

Dai muda kedua adalah Evan Alfarisi. Ia juga baru lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Muhammad Natsir, Jakarta. Usianya 26 tahun. 

Sedang dai muda ketiga adalah Ari Tuhutelo, lulusan Mahad an-Nuaimy, Jakarta. Ia belum diwisuda, namun sudah ditugaskan ke Dobo. Ia sudah  8 bulan tinggal di pesantren Hidayatullah Dobo. 

Selama menetap di Dobo, Jumadil, Evan, dan Ari, belum pernah mengunjungi berbagai pulau di Kepulauan Aru. "Transportasi di sini susah," kata Jumadil. Padahal, Jumadail ingin sekali mengajak para remaja di berbagai pulau tersebut untuk belajar mengaji di Pesantren Hidayatullah, Dobo. Namun, ia tak punya kapal untuk menemui mereka.

Hari Sabtu, 23/9/2021, Allah Ta'ala mengabulkan keinginan Jumadil.  Hari itu Pesantren Hidayatullah Dobo menerima bantuan sebuah perahu dakwah berukuran 11x 2 meter persegi dari beberapa orang muhsinin. Perahu seberat 5 ton tersebut mampu mengangkut sekitar 15 orang.

Kini, Pesantren Hidayatullah dengan segala keterbatasannya telah berdiri di Kepulauan Aru. Inilah satu-satunya pesantren di kabupaten seratus pulau tersebut. Memang belum sempurna. Tapi setidaknya telah membuka harapan munculnya mutiara-mutiara baru penyeru agama tauhid di Kepulauan Aru. 


Jerukin yang Terasing

Jerukin artinya cemara. Namun, ia bukan sebuah pohon, melainkan sebuah kampung kecil yang terletak di Pulau Maikoor, Kabupaten Kepulauan Aru. 


Di kampung ini tinggal sekitar 60 kepala keluarga. Setengah di antara mereka beragama Islam.  Setengahnya lagi Kristen.

Rumah-rumah penduduk di kampung ini kebanyakan berdinding papan dan berlantai tinggi. Sebagian rumah beratap daun rumbia, sebagian lagi seng.

Jalan yang menghubungkan satu rumah dengan rumah yang lain hanya berupa setapak. Sebagian sudah disemen, sebagian lagi masih tanah bercampur pasir. Tak terlihat mobil atau motor di kampung ini.

Sekolah hanya ada satu, yakni Sekolah Dasar Negeri Jerukin. Hanya tiga guru yang mengajar di sekolah ini. Semua beragama Kristen. Sebuah gereja berdiri juga di dekat sekolah itu.

Hampir semua penduduk Jerukin berprofesi sebagai nelayan dan pencari kepiting bakau. Dalam satu malam, mereka bisa menemukan 5 ekor kepiting bakau yang besar. Beratnya bisa lebih dari 1 kg.

Pada Sabtu menjelang ashar (25/9), kami berlayar dari pelabuhan Dobo menuju Jerukin. Perlu waktu tiga setengah jam terombang-ambing di Laut Arafuru untuk sampai ke kampung ini. 

Saat magrib, perahu kecil yang kami tumpangi merapat ke pantai Jerukin. Kami langsung menuju masjid kecil berukuran 4x6 meter persegi yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Itulah satu-satunya masjid di kampung tersebut.

Sebagian masyarakat baru saja selesai menunaikan shalat magrib berjamaah di masjid tersebut. Mereka belum beranjak keluar. Mereka masih melantunkan doa dan zikir. 

Pakaian mereka rapi: kemeja tangan panjang dipadu dengan kain sarung dan peci. Sebagian di antara mereka adalah anak-anak. Sedang para wanita shalat di bagian belakang masjid, dipisahkan oleh kain hijab berwarna putih.

Menurut Ahmad Djamiri, imam masjid tersebut, jumlah penduduk yang shalat pada magrib itu terbilang banyak. "Biasanya tidak sampai seperti ini," jelasnya.

Ahmad sebetulnya belum lama menjadi imam di masjid tersebut. Sebelumnya, ia tak pandai membaca al-Qur'an. Bahkan, masjid tersebut juga belum ramai dikunjungi jamaah. Bahkan, shalat Jumat tak pernah ada di kampung tersebut. Apalagi shalat Idul Fitri atau Idul Adha.

Lalu, sekitar tahun 2017, datanglah Sulaiman Ismail, dai muda Hidayatullah, ke kampung tersebut. Sulaiman tak sekadar mampir, namun menetap di kampung itu. Dialah yang mengajar Ahmad mengaji dan memimpin shalat Jumat.  Sekarang, cerita Ahmad, di masjid tersebut sudah digelar shalat Jumat. 

Sulaiman membenarkan cerita Ahmad. "Saya bertugas di Jerukin selama satu tahun," cerita Sulaiman. Ketika tiba di kampung ini, tak ada shalat Jum'at sama sekali. Sulaiman lalu mengajak masyarakat Muslim di sana untuk menunaikan shalat Jum'at. Mereka menyambut antusias. "Kapan kita mulai, ustad?" tanya mereka. "Pekan ini juga," jawab Sulaiman dengan yakin.    

Setelah itu, masyarakat mulai ramai mengunjungi masjid kecil itu. Sulaiman juga mengajarkan kepada mereka tata cara ibadah Jumat. Lama kelamaan mereka bisa menunaikan shalat Jumat sendiri ketika Sulaiman berhalangan hadir karena harus berpergian ke luar kampung.

Sulaiman juga mengajar ngaji di masjid tersebut. Ia kerap disapa "Bapak Ustadz" oleh masyarakat kampung, baik mereka yang beragama Islam maupun Kristen. Sedang anak-anak menyapanya dengan panggilan "abi".

Hubungan antar pemeluk agama berbeda di kampung tersebut memang berjalan baik. Sulaiman berupaya menjaga keharmonisan tersebut. 

Pernah suatu ketika, cerita Sulaiman, ia diundang menghadiri pemakaman salah seorang pengurus gereja di kampung tersebut. Ia berdiri di barisan paling belakang karena khawatir ada ibadah-ibadah yang tidak tepat untuk dia ikuti.  

Saat acara tabur bunga, semua pemuka kampung dipanggil untuk memberikan semacam penghormatan terakhir. Nama Sulaiman juga disebut. "Silahkan Pak Ustadz," kata pendeta yang memimpin acara itu.

Sulaiman tak punya pilihan lain. "Saya maju sambil terus beristighfar," cerita Sulaiman. 

Sering Sulaiman diajak oleh masyarakat Jerukin mencari kepiting bersama-sama. Saat tiba waktu shalat, Sulaiman pamit kepada masyarakat non Muslim untuk menunaikan shalat terlebih dulu dan mengajak masyarakat Muslim untuk shalat bersama-sama. "Mereka tak pernah keberatan," jelas Sulaiman.

Yang unik, saat masyarakat Jerukin berencana membangun masjid yang baru dan lebih luas, beberapa panitia pembangunan justru beragama Kristen. 

Sayangnya, cerita La Ganti, salah seorang pengurus masjid, kendala biaya dan ketiadaan tukang menyebabkan proses pembangunan tersendat-sendat. "Tukangnya sering pergi ke luar kampung dalam waktu lama," kata La Ganti.

Akibatnya, ketika kami datang ke kampung tersebut, masjid baru berukuran 7x10 meter persegi itu belum selesai juga. Padahal sudah lebih satubtahun. Sebagian dinding dan atap sudah berdiri, namun belum bisa difungsikan.

Lalu, tahun 2018, datang surat tugas baru untuk Sulaiman dari Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku. Ia diminta pindah ke Kota Dobo, ibukota Kabupaten Kepulauan Aru.

Masyarakat Jerukin tentu merasa kehilangan. "Sudah lebih dari 2 tahun kampung kami tidak memiliki ustadz," keluh Ahmad, sang imam masjid, saat kami datangi akhir September 2021 lalu.

Padahal, jelas Ahmad lagi, kebanyakan masyarakat di kampung tersebut belum lancar mengaji. Ibu-ibu juga belum.bisa membaca Qur'an. Ahmad sendiri baru mampu mengajari anak-anak. Sementara mengajar warga dewasa, ia belum mampu. 

"Kampung ini sangat membutuhkan kehadiran ustadz. Tolong kirimkan (ustadz) kepada kami," jelas Ahmad.

Sebenarnya, di Dusun Bangsal, yang terletak di berseberangan dengan Dusun Jerukin di teluk Pulau Maikoor, ada seorang dai muda bernama Nasri. Usianya masih 30 tahun. Ia telah menetap dan berdakwah di dusun itu selama lima tahun.

Tapi, jarak Jerukin dan Bangsal lumayan jauh bila ditempuh lewat darat. Jika ditempuh lewat laut butuh perahu untuk menyeberang. Nasri tak mungkin hilir mudik berdakwah di kedua dusun itu bila tak memiliki perahu.

Ketika saya menawarkan kepada mereka untuk mengirimkan beberapa remaja agar dididik di pesantren Hidayatullah, Dobo, atau belajar di Sekolah Dai milik PosDai Hidayatullah di Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Ahmad tak yakin bisa. "Kebayakan orang tua di sini tak mengizinkan anaknya pergi merantau," kata Ahmad. Mereka lebih suka bila anak-anaknya belajar menangkap ikan atau mencari kepiting bakau.

Padahal, anak-anak yang telah dididik di Sekolah Dai Hidayatullah akan dikembalikan ke kampungnya untuk berdakwah di sana. Masa belajar tidak lama, biaya pun ditanggung para mukhlisin.

Beberapa bulan lalu pernah ada beberapa aktivis Jamaah Tabligh datang ke Kampung Jerukin. Tapi mereka tidak menetap lama. Mereka hanya berdakwah beberapa hari saja. Setelah itu mereka pergi ke kampung yang lain.

"Yang kami perlukan adalah ustadz yang mau tinggal di kampung inj bersama kami," kata Ahmad. 

Sulaiman berjanji akan berupaya memenuhi permintaan masyarakat Jerukin. "Insya Allah jika nanti jumlah dai kita sudah cukup, akan kita kirimkan dai ke kampung ini," jelas Sulaiman.

Begitu langka para dai di kepulauan ini. Sama seperti mutiara alami yang sekarang nyaris hilang. Mudah-mudahan ikhtiar Sulaiman dan PosDai Hidayatullah menyemai mutiara-mutiara di sekolah dan dan pesantren Hidayatullah akan segera berbuah hasil sehingga masyarakat Jerukin dan pulau-pulau lain di Aru bisa menikmati kemilaunya. ***


(Laporan ini diterbitkan pula oleh Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2021)

2 komentar:

  1. MasyaAllah Ustadz saya terharu sekali baca kisah ini dari awal sampai akhir 😭✨

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga menginspirasi untuk terus berdakwah

      Hapus

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat