Senin, 31 Oktober 2016

Masih Ada Rimpu di Bima

Benarkah jilbab tidak identik dengan budaya Nusantara? Jika Anda menjawab ya, sepertinya Anda perlu piknik ke Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sana ada pakaian adat yang persis menyerupai jilbab, bahkan juga cadar. Namanya rimpu.

Menurut Dr Siti Maryam Salahuddin, pemerhati sejarah Bima dan putri ke-7 Sultan Bima, Muhammad Salahuddin, rimpu adalah pakaian adat Bima yang sudah diwariskan turun temurun sejak berabad-abad silam.

“Rimpu erat kaitannya dengan ajaran Islam, yakni kewajiban menutup aurat pada wanita,” kata nenek berusia hampir 90 tahun ini ketika ditemui penulis di rumahnya di Bima, NTB akhir Agustus silam.

Pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin tahun 1930, penguasa terakhir kesultanan Bima, jelas Siti, pemakaian rimpu lebih diperketat. Para wanita harus mengenakan rimpu jika hendak keluar rumah. “Sultan sangat kuat menjaga syariat Islam,” kata doktor lulusan Universitas Pajajaran, Bandung ini.

Hal senada diungkap Ali Hanafiah, juga pemerhati sejarah Bima. Menurutnya, rimpu adalah pakaian khas suku Mbojo, suku asli Kabupaten Dompu dan Bima. Pakaian ini, kata Ali kepada penulis di Bima, akhir Agustus lalu, memiliki dua jenis.

Pertama, rimpu mpida. Rimpu jenis ini bentuknya mirip cadar, biasa dipakai para gadis yang belum berkeluarga.  Kedua, rimpu colo. Rimpu ini biasa dipakai wanita yang sudah menikah. Bentuknya mirip jilbab yang dikenakan muslimah saat ini.

Kekhasan rimpu, kata pria kelahiran 1946 ini lagi, terletak pada jenis dan corak kainnya. Penutup kepala pada wanita ini terbuat dari kain tenun (tembe) nggoli, khas Mbojo. Motifnya kotak-kotak dengan paduan dua warna atau lebih.

Selain itu, cara melipat atau menggulungnya juga berbeda dengan jilbab. Rimpu digulung pada bagian atas melingkari kepala. Gulungan ini bisa menyisikan mata dan alis saja, bisa juga wajah. Sedang kebanyakan jilbab cukup disorong ke kepala, tak perlu digulung-gulung.

Menurut  Hilir Ismail dalam bukunya Menggali Pustaka Terpendam (Butir-butir Mutiara Budaya Mbojo), Kesultanan Bima memang telah menerapkan Islam sejak berabad-abad silam. Adat istiadat mereka tidak ada yang bertentangan dengan norma Islam.

Rimpu sendiri merupakan budaya turun temurun yang diwasiatkan oleh nenek moyang Dou Mbojo (bangsa Bima) sejak tahun 1640, sebelum meletusnya Gunung Tambora.

Dijelaskan pula dalam buku tersebut bahwa Islam masuk ke tanah Bima melalui pelabuhan Sape, sebelah timur Bima, pada tahun 1617. Agama ini dibawa oleh para pedagang dari Demak dan Gowa.

Lalu bagaimana dengan gadis-gadis Bima sekarang? Apakah mereka masih gemar mengenakan rimpu? Apakah para ibu di Tanah Mbojo juga tetap mengenakan pakaian khas ini?

Pengamatan penulis di Bima dan Dompu, kebanyakan wanita Bima sudah tak lagi mengenakan rimpu. Sebagian besar mereka menggantinya dengan jilbab. Mengapa?

“Harga jilbab jauh lebih murah dibanding rimpu,” jelas Ahmad Yasin, warga Dompu yang keluarganya memiliki usaha menenun rimpu turun temurun dari dulu sampai sekarang. Jilbab bisa dibeli hanya dengan uang Rp 50 ribu. Sedangkan rimpu, kata Ahmad, bisa seharga Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

Selain itu, kata Ahamad lagi, jilbab lebih praktis dipakai. “Tinggal dipasang, tidak perlu dilipat dan digulung-gulung seperti rimpu,” katanya.

Namun, bukan berarti pakaian adat ini tak dipakai lagi di Bima. Rimpu masih ada di tanah Mbojo. “Jika kita berjalan-jalan ke pasar, kita masih bisa menemukan wanita yang mengenakan rimpu,” jelas Ahmad.

Bahkan, kata Ahmad lagi, kebanyakan wanita di Bima dan Dompu masih menyimpan rimpu di rumahnya. Jika ada acara-acara khusus seperti hajatan atau pernikahan, pakaian adat tersebut baru dipakai. Biasanya rimpu dikombinasi dengan hijab modern atau kain songket.

Hal ini diakui oleh Zubaedah, pedagang mie rebus di Mada Pangga, Kabupaten Bima. "Saya punya rimpu di rumah. Saya pakai kalau ada acara nikahan atau perayaan hari besar Islam," katanya kepada penulis akhir Agustus lalu.

Zubaedah juga mengaku, memakai jilbab lebih praktis. "Kalau sehari-hari saya memakai jilbab. Lebih praktis," jelas wanita paruh baya ini.

Ungkapan serupa juga dinyatakan Hafsah, warga Dompu, NTB, yang kini menginjak usia 70 tahun. Ia mengaku masih sering mengenakan rimpu sampai sekarang. Hanya saja, tidak mirip dengan rimpu wanita Bima dahulu.

"Rimpu sekarang mirip jilbab. Cuma bahannya yang khas, terbuat dari kain tenun berwarna warni," kata Hafsah.

Ketika masih gadis, Hafsah mengaku sering mengenakan rimpu yang tertutup seluruhnya, kecuali sekitar mata.

Ali Hanafiah juga menyatakan hal serupa. Menurutnya, di Desa Sambori, Kecamatan Wawo, Bima, masih sering dijumpai para wanita mengenakan rimpu. Demikian juga di Desa Sangga, kecamatan Lambu, Kabupaten Bima.

Rabu pagi (24/8), saat penulis berjalan-jalan di Desa Sangga, beberapa wanita terlihat mengenakan rimpu. Ada yang berjalan mengantar anaknya ke sekolah, ada pula yang menjemur padi di depan rumahnya.

Pemandangan serupa juga terlihat di Desa Kale'o, Kecamatan Lambu, tetangga Desa Sangga.

Tahun lalu, parade rimpu sempat pula digelar di Doro Ncanga, Kecamatan Pekat, Dompu. Tak kurang 13 ribu wanita berjalan kaki di jalan-jalan utama. Semua mengenakan rimpu.

Tak tanggung-tanggung. Perayaan yang digelar pada 11 April 2015 ini dihadiri juga oleh Presiden Joko Widodo. Perayaan ini untuk memperingati meletusnya gunung tambora dua ratus tahun yang lalu.

Konon, letusan gunung Tambora ini telah mengubur mimpi Napoleon Bonaparte untuk menaklukkan Inggris, Belanda, dan Jerman. Padahal, pasukan Napoleon ketika itu jauh lebih banyak dibanding lawannya.

Namun  letusan gunung Tambora rupanya tak mampu mengubur budaya rimpu masyarakat Bima yang telah berkembang sebelum itu. Budaya Islami ini tetap hidup sampai sekarang. Masih ada rimpu di Bima!*


(Rubrik Nasional, Suara Hidayatullah edisi Oktober 2016)