Minggu, 15 Februari 2026

Belajar dari Kisah Thufail bin Amr Ad-Dausy

Sudahkah sampai kepada Anda kisah tentang Thufail bin Amr Ad-Dausy? Ia adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Kisah bangsawan Arab tersebut amat menarik untuk kita tadabburi. 


Kita awali kisahnya saat ia pergi meninggalkan kampung halamannnya di Tihamah, dataran rendah sepanjang Laut Merah, menuju Makkah. Ketika itu, Rasulullah s.a.w. masih berdakwah di Makkah dan pertentangan antara Rasulullah s.a.w. dengan kafir Quraisy semakin nyata. 

Kaum kafir Quraisy merasa gelisah melihat kian bertambahnya pengikut Rasulullah saw. Mereka rela melakukan apa saja untuk mencegah hal tersebut meskipun sia-sia.

Sebenarnya, kedatangan Thufail ke Makkah bukan untuk melibatkan diri dalam kemelut yang dihadapi kaum kafir Quraisy. Namun, kaum kafir Quraisy tetap menyambut hangat kedatangan Thufail. Maklum, ia kepala kabilah. Kedudukannya tentu terhormat.

Ia diingatkan untuk tidak mendekati Nabi Muhammad SAW atau mendengar kaum Muslim mebaca al-Qur'an karena khawatir akan terkena pengaruh dan memeluk Islam. Kekhawatiran ini bukan tanpa bukti. Beberapa tokoh telah memeluk Islam setelah mendengar bacaan al-Qur'an atau perkataan Muhammad SAW. Salah satunya, Umar bin al-Khaththab.

Umar RA awalnya adalah musuh besar dakwah Nabi. Namun Beliau tiba-tiba tunduk setelah mendengar lantunan tilawah adiknya yang membaca al-Qur'an surat Thaha.

Contoh lain adalah Jubair ibn Muth’im, sang negosiator tawanan perang Badar dari pihak Quraisy. Ketika itu ia  sedang menunggu Nabi SAW shalat maghrib di masjid. Telinganya menangkap lantunan surat al-Thur yang dibacakan Nabi SAW dengan suara mengalun. Akal sehatnya tidak mampu menolak kebenaran wahyu yang meruntuhkan seluruh argumentasi kekafirannya. 

Itu juga yang dikhawatirkan kaum kafir Quraisy atas diri Thufail Ibn ‘Amr al-Dawsi. Mereka mengingatkan agar Thufail jangan sekali-kali mendengar langsung perkataan Muhammad SAW, hatta perkataan itu tidak diucapkan untuk dirinya. 

Thufail paham dengan peringatan kaum Quraisy tersebut. Karena itu ia lalu menyumpal telinganya dengan kapas saat memasuki Masjid al-Haram. Ia khawatir mendengar bacaan Nabi. 

Namun, kehendak Allah tidak dapat ditolak. Saat berhenti di area masjid, justru ternyata yang bersangkutan berdiri tepat di samping Nabi. Ia yang tadinya enggan, justru berbalik penasaran. Ia berpikir, otaknya yang waras tentu  bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, tak perlu telinga ditutup. Dengarkan saja apa yang dikatakan Rasulullah SAW dan tanyalah pada hati apakah yang dibawa tersebut sebuah kebenaran?

Setelah mendengar bacaan Nabi yang sedang shalat, ia tak kuasa untuk tidak menemui Nabi SAW dan meminta informasi tambahan. Dan, sebagaimana diceritakan oleh Jalal al-Din al-Suyuthi dalam al-Khashais al-Kubra (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,tt) I, 225), atas kuasa Allah Ta'ala, Thufail langsung mantap memeluk Islam. Tak ada yang bisa menghalangi kebanaran bila ALlah Ta'ala telah menghendaki. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat