Jumat, 11 Oktober 2013

Menyelamatkan Bali

Dan hendaklah ada di atara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran [3]: 104)

Alhamdulillah, kontes para wanita sejagad bertajuk Miss World yang sedianya akan berlangsung di Sentul, Bogor, Jawa Barat, akhirnya batal. Masyarakat Jawa Barat yang agamis tak menghendaki kontes mudharat tersebut dilangsungkan di wilayah mereka. Azab Allah SWT lebih mereka takuti ketimbang sekadar keinginan mempromosikan pariwisata lokal.

Tak mudah memang meyakinkan pemerintah bahwa Miss World sesungguhnya bertentangan dengan peradaban Islam. Meski Majelis Ulama Indonesia telah menyerukan agar perhelatan ini dibatalkan saja, namun tak otomatis seruan ini digubris. Pesona yang ditawarkan pihak penyelenggara tetap lebih memikat ketimbang seruan para ulama.

Akibatnya, para tokoh Islam dan masyarakat Muslim terpaksa unjuk rasa dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang halus, ada juga yang agak kasar. Ada yang sekadar mengungkapkan pernyataan publik, ada juga yang ramai-ramai turun ke jalan.

Ibu-ibu pengajian memilih cara unjuk rasa simpatik. Sedangkan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) ---kelompok yang kerap diidentikkan dengan Islam garis keras--- memilih mendatangi langsung gedung MNC, kantor Hary Tanoesoedibyo, orang yang disebut-sebut paling berperan dalam perhelatan ini.
Lebih dari 60 ormas Islam telah menyatakan menolak penyelenggaraan Miss World di Indonesia. Bahkan, dua organisasi Islam paling berpengaruh di negeri ini, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, juga menyatakan penolakan.

Mulanya, aksi-aksi ini tak mengubah kebijakan pemerintah untuk tetap menyelenggarakan Miss World di dua tempat: Bali dan Jawa Barat.  Namun, lama kelamaan, pemerintah luluh juga. Jawa Barat akhirnya disetujui untuk dihapus sebagai tempat penyelenggaraan Miss World. Masyarakat Muslim bersyukur, setengah dari perjuangan mereka telah berhasil.

Namun, bila masyarakat Muslim Jawa Barat menolak penyelenggaraan Miss World, masyarakat Bali tidak. Mereka justru mendukung kontes lenggak lenggok para wanita sejagad ini. Tak terdengar ada demo di Bali menolak Miss World.  Bahkan, beredar kabar di media massa, masyarakat Bali sudah menyiapkan para pecalang (petugas keamanan desa adat) guna mengamankan perhelatan itu dari para perusuh.

Gerakan menolak Miss World yang dimotori kaum Muslim praktis terbendung, meski tak berhenti. Keinginan masyarakat Muslim untuk menyelamatkan Indonesia dari kontes mudharat ini terhambat. Ternyata, meskipun satu bangsa, masyarakat Bali ---yang sebagian besar beragama Hindu--- memiliki peradaban yang berbeda dengan masyarakat Jawa Barat.

Bagi masyarakat Bali, urusan Miss World tak ada kaitannya dengan agama. Ini sekadar masalah budaya. Agama jangan dibawa-bawa ke dalam urusan ini.

Sedang bagi kaum Muslim, budaya dan agama tak bisa dipisahkan. Islam adalah peradaban. Seluruh aspek kehidupan manusia diatur oleh Islam. Dan, adalah tugas kaum Muslim untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kejahiliahan.

Allah SWT telah mengirimkan pesan amat berharga kepada bangsa ini lewat peristiwa tersebut. Agama-agama di Indonesia memang berbeda-beda dan tak akan bisa dipaksakan sama.

Wallahu a'lam.


(Dipublikasikan oleh Majalah Suara Hidayatullah edisi Oktober 2013)