Kita telah bahas dalam artikel sebelumnya bahwa proses iqro’ atau "membaca" ada baiknya dimulai dari “bertanya”. Proses bertanya merupakan reaksi awal setelah kita membaca ayat-ayat Allah Ta’ala. Bahkan adakalanya proses bertanya mendahului proses iqro’.
Bertanya menjadikan proses membaca tak terputus. Setiap kali satu pertanyaan berhasil kita temukan jawabannya, selalu saja muncul pertanyaan baru yang harus kita cari lagi jawabannya. Begitulah seterusnya.
Ibarat tulisan, pertanyaan akan menyambungkan satu alinea kepada alinea yang lain. Begitu satu alinea telah selesai, muncullah pertanyaan baru yang jawabannya akan melanjutkan tulisan kita kepada alinea berikutnya.
Begitulah seterusnya hingga rangkaian alinea tersebut menjadi sebuah artikel yang menarik, bahkan bisa jadi sebuah kitab yang akan menjadi petunjuk buat kita.
Pertanyaan-pertanyaan ini semakin lama semakin dalam, bahkan akhirnya akan tiba pada pertanyaan paling mendasar. "Apakah Tuhan itu ada?", "Jika ada, siapakah Tuhan itu?"
Jika pada tahap ini kita terus melakukan proses iqro', maka sejatinya kita akan menemukan jawabannya, bahwa Tuhan itu ada dan Dia adalah Allah Ta'ala. Tak ada Tuhan yang lain kecuali Dia. Namun, tak semua orang akan sampai pada kesimpulan ini, bahkan tidak pula Socrates.
Siapakah Socrates? Ia adalah salah seorang filsuf terkenal dalam sejarah. Ia hidup di Athena (Yunani) pada sekitar abad ke-5 SM (± 469–399 SM).
Ia sering disebut sebagai “bapak filsafat Barat” dan memiliki banyak murid serta penerus yang juga terkenal. Dua di antaranya adalah Plato dan Aristoteles.
Yang menarik, Socrates sama sekali tidak meninggalkan tulisan. Semua yang kita tahu tentang dirinya berasal dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato.
Para sejarawan mencatat bahwa Socrates memiliki metoda menggali kebenaran secara unik (Socratic Method), yakni bertanya terus menerus. Seringkali, ia tidak langsung memberi jawaban, tapi membuat orang berpikir lebih dalam lewat dialog.
Socrates lebih memfokuskan pertanyaan-pertanyaannya pada etika dan kehidupan manusia. Misalnya: Apa itu keadilan? Apa itu kebaikan? Bagaimana hidup yang benar? Ia tidak terlalu tertarik pada pertanyaan seperti: Bagaimana asal-usul alam semesta? Unsur dasar dunia itu apa?
Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan ---baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain--- tidak sampai pada pertanyaan paling mendasar tadi. Kalau pun sampai, tidak mendalam! Bahkan, pengadilan Athena pada akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Socrates karena dianggap tidak meyakini dewa-dewa orang Athena.
Sebenarnya, Socrates bukan tidak percaya adanya Tuhan. Ia bukan seorang atheis. Ia percaya adanya Ilahi. Hanya saja, ia tak percaya kepada dewa-dewa yang disembah oleh orang-orang Athena ketika itu.
Socrates pernah mengatakan bahwa ada semacam suara Ilahi dalam dirinya yang ia sebut daimonion. Suara ilahi itu seolah-olah memberi peringatan ketika ia hendak berbuat salah. Bahkan, Socrates meyakini bahwa ada kebaikan objektif, kebenaran yang tidak relatif, dan manusia harus tunduk pada kebaikan itu.
Sayangnya, proses bertanya Socrates berhenti sampai di sini. Ia tidak bertanya lebih lanjut tentang: Siapa Tuhan itu? Apa yang dikehendaki Tuhan atas manusia? Apa konsekuensi bila kehendak tersebut dilanggar? Untuk apa Tuhan menciptakan manusia?
Di sisi lain, rasa ingin tahu Socrates kepada Tuhannya tidak sebesar rasa ingin tahu Salman al-Farisi kepada Tuhannya. Salman rela meninggalkan kampung halamannya di Isfahan, Persia, meninggalkan keluarganya yang masih menyembah api, meninggalkan kehidupannya yang mapan, pergi ke Negeri Syam demi mencari agama yang benar, hingga Allah Ta'ala mempertemukannya dengan Rasulullah SAW di Madinah.
Socrates tidak seperti itu. Ia merasa cukup dengan merenung dan berpikir berdasarkan logika manusia. Padahal kita tahu, tak semua permasalahan bisa dijawab oleh logika manusia.
Dalam konteks inilah kita seharusnya banyak bersyukur, karena saat ini, dengan perkembangan teknologi yang sangat maju, kita begitu mudah mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar sekali pun. Bukankah sudah ada al-Qur'an dan kitab-kitab ulama yang begitu mudah diakses?
Persoalannya hanya pada kemauan kita dan hidayah Allah Ta'ala saja. Jika Allah Ta'ala berkehendak memberi kita hidayah dan taufiq, niscaya kita akan sampai kepada iman sebagaimana Salman al-Farisi. Namun jika Allah Ta'ala tidak berkehendak, maka boleh jadi kita akan berakhir seperti Socrates. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat