Senin, 23 Maret 2026

Menunggu Reda di Timur Tengah

Pernahkah Anda berpikir mengapa ada istilah kawasan Timur Tengah, sedang istilah Barat Tengah tidak pernah kita dengar? Jawabnya sederhana. Sebab, istilah “Timur Tengah” atau Middle East bukan istilah geografis murni, melainkan istilah geopolitik dan historis yang lahir dari sudut pandang Eropa.


Dulu, pada masa kekuasaan kolonial Inggris sekitar abad ke-19, negara itu membagi dunia menjadi tiga bagia. Pertama, Timur Dekat atau Near East, yakni wilayah paling dekat dengan Eropa seperti Turki dan Balkan.

Kedua, Timur Tengah atau Middle East, yakni wilayah di antara Eropa dan Asia Timur seperti Arab, dan Persia (Iran, Irak). Ketiga, Timur Jauh atau Far East, yakni wilayah Asia Timur seperti China dan Jepang. Jadi, “Timur Tengah” artinya timur yang posisinya di tengah-tengah antara Eropa dan Asia Timur.


Lalu mengapa tidak ada istilah “Barat Tengah”? Sebab, arah yang dianggap penting oleh Inggris saat itu adalah timur. Wilayah yang masuk dalam arah ini menjadi jalur perdagangan terutama rempah-rempah. Sementara ke arah barat, tidak ada kepentingan Inggris di sana. Sehingga, wilayah di bagian barat dari Eropa langsung disebut “The West” atau Barat. Wilayahnya mencakup Eropa sendiri dan Amerika.

Nah, bila merujuk dari pemahaman ini bahwa Eropa dan Amerika disebut Barat, maka wilayah yang berseberangan dengannya lumrah bila kita sebut Timur. Daerah ini meliputi Cina, Jepang, Korea, dan lain-lain. 

Di antara dua wilayah ini --Barat dan Timur-- ada kawasan tengah. Kawasan ini mirip dengan wilayah Timur Tengah sebagaimana dipahami oleh Eropa di atas. Wilayah ini meliputi Arab, Iran, Irak, dan sekitarnya.

Yang menarik, pembagian seperti ini juga bukan sekadar "arah mata angin", tetapi juga istilah budaya, sejarah, bahkan politik. Wilayah Barat ---mencakup Eropa, Amerika Serikat, Kanada, bahkan terkadang juga Australia dan Selandia Baru--- lebih dipengaruhi oleh peradaban Barat (Western civilization). Sedangkan wilayah Timur ---mencakup Asia Timur (China, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara), Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh), bahkan Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand)---  lebih dipengaruhi oleh budaya Timur. 

Adapun di wilayah tengah --atau biasa disebut Timur Tengah-- lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Islam. Jadi, wilayah tengah ini tidak identik dengan Barat karena berbeda sejarah, agama, dan nilai, tapi tidak juga identik dengan Timur. Ia punya ciri budaya sendiri yang lebih dekat dengan budaya Islam..

Yang juga menarik, di Timur Tengah sendiri, ada wilayah yang lebih tengah, atau "yang paling tengah di antara yang tengah". Wilayah ini tak lain adalah Bilād asy-Syām atau Negeri Syam. Wilayah ini meliputi Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon. Di dalamnya ada Baitul Maqdis.

Wilayah Syam terletak di pantai timur Laut Mediterania, di antara Asia (sebelah timur), Afrika (sebelah selatan melalui Sinai), Eropa (sebelah barat, seberang Mediterania). Adapun di sebelah utara, terhampar dataran Rusia (Eurasia utara) yang luas. Dalam literatur klasik, Syam disebut berada di persimpangan tiga benua tersebut: Asia, Eropa, dan Afrika.


Jadi, jalur dagang dari Timur (India, Persia) ke Barat (Romawi, Eropa) pasti melewati Syam. Begitu pula sebaliknya. Kota seperti Damaskus dan Baitul Maqdis menjadi simpul penting jalur perdagangan dunia. 

Sudah menjadi Sunatullah bahwa sesuatu yang berada di tengah akan menjadi pusat dinamika. Begitu pula wilayah Timur Tengah, terkhusus Syam. ia menjadi simpul sekaligus penghubung semua wilayah di dunia. Ia juga menjadi tempat pertemuan berbagai peradaban. Ia menjadi sangat strategis karena menjadi gerbang sekaligus perbatasan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ia menjadi primadona, terlebih di sejumlah negara di Timur Tengah ditemukan adanya minyak bumi dan gas alam yang sangat banyak.

Tak heran bila dari dulu sampai sekarang wilayah ini terus bergejolak. Dan, menjadi wajar pula bila sebagian besar para Nabi lahir dan berdakwah di wilayah ini, bahkan al-Qur'an juga banyak berkisah tentang dinamika di wilayah ini.

Lalu sampai kapan gejolak di wilayah ini akan reda? Wallahu a'lam. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat