Senin, 25 Agustus 2025

The Dark Ages di Eropa, Era Keemasan di Wilayah Arab

Ketika imperium Bizantium berjaya di wilayah timur, dan Persia mampu menjadi penyeimbang kekuatan Bizantium, lantas bagaimana kabar wilayah Barat? 

Ketika Makkah dan Madinah mulai bercahaya dengan kehadiran Islamdi antara dua adi daya: Bizantium dan Persia, di wilayah timur, lalu bagaimana dengan Eropa di wilayah Barat? Apa yang terjadi dengan mereka?

Kita mundur sejenak ke masa ketika Imperium Romawi terpecah menjadi dua: Barat dan Timur. Peristiwa terjadi pada tahun 395 M (setelah wafatnya Kaisar Theodosius I), atau dua abad sebelum masa Rasulullah saw. Di timur, berkembang menjadi Bizantium atau Romawi Timur. Sedang di barat menjadi Romawi Barat.

Bila di timur Bizantium berkembang pesat, maka sebaliknya di barat, Romawi runtuh. Tahun 476 M, kaisar terakhir Romawi Barat, Romulus Augustulus, diturunkan oleh Odoacer, seorang pemimpin barbar dari suku Heruli (Germanik). Peristiwa ini dianggap sebagai titik awal era kegelapan (the Dark Ages) di Eropa Barat. Era ini juga disebut Abad Pertengahan.

Era kegelapan di Eropa Barat ini berlangsung dari abad ke-5 sampai abad ke-10 atau awal abad ke-11. Kala itu  kota-kota besar hancur, birokrasi runtuh, perdagangan menurun drastis, ekonomi morat-marit, banyak infrastruktur Romawi terbengkalai, dan yang lebih parah lagi, akhlak dan moral hilang. 

Era kegelapan ini dimulai dari merebaknya kekuasaan suku-suku barbar setelah kaisar terakhir Romawi Barat diturunkan. Beberapa suku barbar tersebut adalah Visigoth di Hispania (Spanyol), Ostrogoth di Italia, Frank di Galia (Perancis), dan Vandal di Afrika Utara. Mereka juga berperang satu sama lain.

Tahun 493 M, Odoacer dibunuh oleh Theodoric Agung (raja Ostrogoth). Ini menandai awal Kerajaan Ostrogoth di Italia. Abad ke-6 terjadi invasi Lombard (568 M) atas Italia sehingga membuat kekacauan baru.

Pada masa Rasulullah saw. masih remaja, Kerajaan Frank (Galia/Perancis) menjadi kekuatan dominan di Eropa Barat. Kerajaan ini dipimpin oleh Dinasti Merovingian, keturunan Raja Clovis I yang wafat pada tahun 511 M.

Sekitar tahun 600 M, kerajaan Frank terpecah-pecah di bawah raja-raja lemah. Kekuasaan nyata lebih banyak di tangan pejabat yang disebut mayor domus (kepala istana). Selain itu, di masa Rasulullah saw masih hidup, ada pula Kerajaan Visigoth (Spanyol) yang berdiri sejak abad ke-5, serta bangsa Lombard yang berkuasa di Italia. Adapun Britania (Inggris), saat masa Nabi saw., dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Anglo-Saxon.

Di tengah kecamuk perang dan perpecahan ini, Gereja menjadi satu-satunya institusi kuat yang bertahan. Tahun 496 M, Raja Frank, Clovis I, memeluk Kristen Katolik, menjadikan bangsa Frank sekutu penting bagi Gereja.

Namun, Kristen di Eropa Barat tidak sama dengan Keristen di Romawi Timur (Bizantium). Di barat, pusat Kekuasaan Gereja dipimpin oleh seorang Paus yang berkedudukan di Roma. Gereja di barat ini lebih sering disebut Gereja Latin (Katolik). Sedang di timur, gereja dipimpin oleh Patriark Konstantinopel meskipun Kaisar Bizantium sangat dominan, bahkan ikut campur dalam urusan gereja (caesaropapisme).

Bahasa yang dipakai kaum agamawan juga berbeda. Di Barat, mereka menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa liturgi, hukum gereja, dan teologi. Sedang di Timur, memakai Bahasa Yunani, yang juga dipakai dalam filsafat dan budaya Bizantium.

Selain itu, di Barat, setelah runtuhnya Romawi Barat (476 M), Gereja Roma menjadi sangat independen dan kuat. Bahkan, pada tahun 800 M, Paus bisa menobatkan Charlemagne (Karl Agung) sebagai Kaisar Romawi Suci. Ini karena, setelah runtuhnya Romawi Barat (476 M), hanya Gereja Katolik yang dipimpin Paus di Roma yang masih punya organisasi kuat. Namun di Timur, gereja tidak sekuat di Barat. Gereja sangat dekat dengan kekaisaran. Kaisar Bizantium sering ikut campur dalam keputusan gereja.

Yang menarik, dominasi gereja pada kekuasaan dan penentuan nasib rakyat di Barat ini juga menjadi penyebab semakin gelapnya Eropa Barat. Gereja bukan hanya memimpin agama, tapi juga mengatur politik, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Gereja menentukan apa yang boleh dipelajari, dipikirkan, bahkan diperdebatkan oleh masyarakat. Akses belajar hanya ada di biara dan terbatas untuk kalangan rohaniawan saja.

Masyarakat Eropa Barat juga tersusun atas kelas-kelas sosial (feodalisme). Raja, bangsawan (pemilik tanah), para pemuka gereja (biarawan, imam, paus, uskup), tergolong kelas atas. Para kesatria (pelindung dan militer) tergolong kelas menengah. Sedang para petani dan rakyat jelata hampir tak punya kebebasan. Celakanya, sistem feodal seperti ini dijustifikasi oleh Gereja sebagai “ketetapan Tuhan.”

Masyarakat Eropa hidup dalam tekanan gereja yang bekerja sama dengan penguasa dan kaum bangsawan. Gereja dan penguasa tak boleh dikritik, apalagi dibantah. Perintah raja adalah perintah Tuhan, aturan raja juga aturan Tuhan.

Keadaan Eropa Barat yang gelap dengan dominasi gereja seperti ini berkebalikan dengan wilayah Arab setelah datangnya Islam. Arab yang awalnya berperadaban jahiliah, pada saat yang bersamaan, berubah menjadi berperadaban mulia setelah Islam datang. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat