Senin, 24 Oktober 2016

Menanti Azan di Pulau Longos

Jarum jam sudah menunjuk angka 5 lewat 15 menit. Suara azan subuh belum juga terdengar dari Masjid Nurul Taqwa, satu-satunya masjid yang terdapat di Kampung Baru, Pulau Longos, pulau kecil yang terletak di sebelah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Padahal waktu subuh di pulau itu jatuh pada pukul 04.50. Berarti sudah lewat setengah jam dari waktu fajar menyingsing.

Mengapa azan tak berkumandang di pulau yang dihuni oleh 100 persen Muslim ini? Bagaimana pula kaki-kaki kaum Muslim bisa melangkah ke “Rumah Allah” sedangkan panggilan itu tak terdengar?

Wartawan Suara Hidayatullah, Mahladi pada penghujung Agustus lalu berkesempatan mengunjungi pulau yang dihuni sekitar 1.400 orang ini atas undangan Pos Dai Hidayatullah, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Berikut laporannya. Selama mengikuti!  ***

o0o


Habis Gelap Menanti Terang


"Berat rasanya pergi ke masjid kalau shalat subuh. Gelapnya wuuiih ... gelap sekali!" cerita Andri, remaja yang belum setahun mondok di Pesantren Hidayatullah di Pulau Longos, Nusa Tenggara Timur.

Meski gelap, siswa kelas 1 madrasah aliyah ini tetap melangkah menyusuri gang sempit sejauh 200 meter dari kediamannya menuju Masjid Nurul Taqwa, satu-satunya masjid yang ada di Kampung Baru Pulau Longos.

Tak ada cahaya lampu di sekitar jalan setapak tersebut. Satu-satunya penerang yang bisa diharapkan hanyalah cahaya bintang di langit. Ketika cuaca cerah, langit subuh memang sedikit terang.

Muhammad Nurung, imam masjid Nurul Taqwa, bercerita bahwa dulu ia sering ketakutan setiap kali menunaikan shalat subuh di masjid. Ia khawatir bertemu ular.

"Kelihatannya semua jenis ular ada di sini. Mulai dari ular hitam sampai ular belang,” cerita Nurung kepada Suara Hidayatullah. Bahunya sedikit terangkat pertanda ia tengah bergidik membayangkan masa itu.

Untunglah kini ular-ular tersebut jarang muncul lagi. Hanya saja, kata Nurung, kala jengking masih banyak. Hewan berbisa ini biasa tinggal di sisa-sisa papan dan kayu yang teronggok di pekarangan rumah.

Selain kala jengking, ada juga monyet, burung kakak tua, dan kelelawar. Bahkan, pulau ini dikenal sebagai “sarang” kelelawar terbanyak di Indonesia.

Yang tak kalah unik, di pulau ini juga ada komodo. Haryanto, salah seorang warga Kampung Baru, mengaku beberapa kali melihat komodo. "Bentuknya seperti biawak. Panjangnya sekitar 2 meter," katanya.

Memang, pulau Longos tak terlalu jauh dari Pulau Komodo. Sama-sama berada di sisi barat Nusa Tenggara Timur. Namun, menurut Haryanto, komodo di pulau Longos berbeda dengan komodo di Pulau Komodo.

"Komodo di sini panjang dan agak kurus. Di sana (Pulau Komodo) lebih gemuk," cerita Haryanto. Ia menebak, perbedaan bentuk ini disebabkan komodo di Pulau Longos masih liar, sedang di Pulau Komodo sengaja dipelihara.

Listrik PLN Belum Masuk

Pulau Longos belum tersentuh listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Itu sebabnya, pulau ini gelap gulita pada malam hari.

Menurut Kepala Dusun Kampung Baru, Abu Bakar, 95 persen penduduk Kampung Baru masih menggunakan lampu minyak tanah sebegai penerang. Sisanya, menggunakan listrik tenaga surya atau genset berbahan bakar solar.

Jumat, 26 Agustus 2016, menjelang subuh, saat Suara Hidayatullah berada di pulau tersebut, tak terdengar suara azan menggema. Yang terdengar hanya suara jangkrik yang sesekali diselingi suara kodok. Hari tentu masih gelap.

Benarkah tak ada azan di Masjid Nurul Taqwa? “Tidak,” jelas Haryanto, yang rumahnya tak jauh dari masjid berkapasitas sekitar 100 jamaah tersebut.

Di masjid tersebut ada azan, namun sering tak terdengar sampai ke luar masjid. Azan dikumandangkan tanpa melalui pengeras suara. Jadi, mana mungkin azan bisa terdengar hingga seluruh kampung? Jangankan seluruh kampung, dari rumah sekitar masjid saja tak terdengar.

Lalu, apakah di masjid tersebut tak ada pengeras suara? Ada! Cuma, kata Haryanto, seringkali tak terpakai. “Bahkan beberapa hari ini sempat rusak,” jelasnya.

Maklum, bila menggunakan pengeras suara, harus menghidupkan mesin genset terlebih dahulu.  Nah, bukan perkara gampang menghidupkan mesin berbahan bakar solar ini. Di samping perlu tenaga, juga boros bahan bakar.

Lagi pula masyarakat merasa tidak efisien bila harus menghidupkan mesin genset setiap kali akan azan. Akibatnya, para muazin lebih suka mengambil jalan pintas: azan tanpa pengeras suara.

Jika shalat Jumat tiba, pengeras suara baru difungsikan, baik untuk azan maupun untuk ceramah. Begitu mesin genset dinyalakan, khatib naik mimbar, suara mesin pun beradu kencang dengan suara sang penceramah.

Pulau yang Memanjang

Pulau Longos memiliki empat kampung. Pertama, Kampung Baru. Kedua, Raja Mina. Kedua kampung ini bergabung dengan Desa Nangakantor, Kecamatan Macang Pacar. Adapun dua kampung lagi, Mangge dan Bajo, bergabung dengan Desa Pontianak, Kecamatan Boleng. Pulau Longos sendiri masuk dalam kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Untuk mencapai pulau ini, kita perlu menempuh perjalanan 2 jam berlayar dari Labuhan Bajo, ibukota kabupaten Manggarai Barat. Cukup banyak kapal-kapal kecil yang bersedia mengantar kita ke pulau ini. Satu orang dihargai Rp 50 ribu.

Pulau Longos memanjang dari timur ke barat. Panjangnya sekitar 9 kilometer. Mungkin karena itu pula, kata Abu Bakar, pulau ini dinamakan Longos. “Longos berasal dari kata long. Kata orang, artinya panjang,” cerita Abu Bakar menebak-nebak.

Jumlah penduduk Pulau Longos sekitar 1.400 orang. Sebanyak 80 persen mendiami Kampung Bajo. Jadi, kata Abu Bakar, bisa dikatakan Kampung Bajo menjadi pusat keramaian di pulau ini. Berbeda dengan Kampung Baru yang hanya dihuni 170 orang.

Selain pusat keramaian, Kampung Bajo juga tertua di Pulau Longos. Menurut Muhammatullah, imam masjid sekaligus tokoh di Kampung Bajo, nenek moyang masyarakat Pulau Longos berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka juga membawa Islam masuk ke wilayah barat propinsi Nusa Tenggara Timur ini.

Abu Bakar sepakat dengan cerita Muhammatullah. Katanya, ketika Belanda menyerbu Gowa pada awal abad 18, banyak masyarakat Bugis yang lari ke Flores, termasuk Pulau Longos. Mereka menjelma menjadi suku Bajo, suku yang dikenal mampu menangkap ikan hanya dengan menggunakan tombak.

Keseluruhan wilayah Pulau Longos belum dialiri listrik bersumber PLN. Jadi bisa ditebak, keadaan masjid di pulau ini ---keseluruhan masjid ada empat--- bernasib tak jauh berbeda dengan Masjid Nurul Taqwa yang ada di Kampung Baru: sepi dari suara azan.

Hanya masjid di Kampung Bajo sedikit beruntung. Menurut Muhammatullah, masjid di kampungnya punya pembangkit listrik tenaga surya dengan panel berukuran sekitar 7 x 1,5 meter persegi. Listrik yang dihasilkannya bisa menyalakan lampu dan speaker masjid sepanjang hari. Namun, di tiga masjid lainnya, azan kadang terdengar, kadang juga tidak.

Sumber Masalah

Ketiadaan listrik dari PLN rupanya menjadi sumber persoalan utama di Kampung Baru, juga di Pulau Longos. Bukan sekadar suara azan yang tak bebas membahana, juga anak-anak tak bisa bebas belajar pada malam hari. Cahaya dari lampu minyak tanah jelas tak memadai untuk membaca buku pelajaran mereka.

"Lama-lama mata perih kalau membaca pada malam hari," tutur Azmir, santri Hidayatullah, seraya mengaku hanya kuat membaca selama 1 jam saja.

Setiap malam, Azmir dan santri-santri Hidayatullah harus mengikuti daurah al-Qur’an. Daurah dimulai sehabis shalat magrib, dan hanya bisa bertahan hingga waktu shalat isya tiba.

Selain tak bebas memabaca, ketiadaan listrik juga tak bisa menghidupkan sejumlah mesin dan peralatan elektronik. Air tanah tak bisa dipompa. Televisi dan kulkas tak bisa menyala.  Ponsel jugatak bebas dicas ulang.

Bahkan, menurut Saharudin, kepala sekolah Madrasah Aliyah Bahrul Ulum sekaligus pengasuh pondok pesantren Hidayatullah, mereka tak bisa menggunakan komputer dan printer. “Setiap kali mau buat laporan, kami kesulitan,” jelas Saharuddin.

Bantuan Panel Surya

Jumat terakhir di bulan Agustus 2016 adalah hari yang dinanti-nanti oleh para santri Hidayatullah pulau Longos dan warga Kampung Baru. Sebab pada hari itu, Pos Dai Hidayatullah bekerjasama dengan salah satu perusahaan penyedia pembangkit listrik tenaga surya dari Surabaya, Jawa Timur, memasang enam panel surya di pesantren tersebut.

Menurut Hadi Purwoto, salah seorang pemasar pembangit listrik tersebut, keenam panel ini berkekuatan 3 ribu watt. "Ini setara dengan jenset berkapasitas besar," jelasnya kepada Suara Hidayatullah. Daya sebesar itu diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan listrik di madrasah aliyah, pesantren, masjid, dan beberapa ruas jalan.

Masing-masing panel bekuran 6,8 x 1,5 meter persegi. Setiap dua panel mampu megeluarkan listrik 1.000 watt. Harga satu paket panel surya (6 panel) beserta aki dan kabelnya, kata Hadi lagi, sebesar Rp 65 juta. Ini sudah termasuk biaya pemasang dan pengangkutan.

Proses pemasangan butuh waktu sekitar 2 hari. Sedang proses pengangkutan, tergantung letak wilayah yang akan dipasangi listrik. "Pengiriman ke Longos membutuhkan waktu 3 hari dari Surabaya," jelas Hadi.

Bantuan pengadaan listrik tenaga surya ini, menurut Shohibul Anwar, Ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, tak hanya untuk Pulau Longos.

“Bantuan ini akan terus kita lanjutkan untuk daerah-daerah terpencil lainnya di Indonesia. Ini sudah menjadi program Pos Dai Hidayatullah,” kata Shohibul yang ikut serta melihat proses pemasangan listrik di Pulau Longos ini.

Jumat terakhir bulan Agustus itu, sebagian kecil Pulau Longos telah dibebaskan dari gulita. Namun, sebagian besar lainnya belum! Mereka masih menanti terang! ***

o0o


Mereka Pelita dalam Kegelapan

Saharudin tak pernah menyangka ia akan ditugaskan di sebuah pulau kecil di utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Hari itu, Ahad, 10 Nopember 2013, keputusan telah dibuat. Laki-laki lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Lukmanul Hakim Hidayatullah Surabaya tahun 2011 ini harus berangkat ke Longos, pulau yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Sejak kecil saya tinggal di Sumenep (Madura). Di sana banyak pulau. Jadi saya sebenarnya sudah terbiasa dengan pulau,” jelas Saharudin dalam obrolan dengan Suara Hidayatullah pada penghujung Agustus lalu.

Namun betapa kagetnya lajang berusia 26 tahun ini. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Longos, gambaran yang ada di benaknya tentang pulau-pulau di Sumenep sontak buyar. Longos ternyata amat berbeda.

Tak banyak manusia tinggal di pulau ini. Tak juga banyak rumah, apalagi kendaraan. Yang banyak di pulau ini justru pepohonan dan hewan liar. “Ini bukan pulau, ini hutan,” kata Saharudin mengenang masa lalunya. 

Tapi keterkejutan itu tak berlangsung lama. Saharudin sadar bahwa ia tidak sedang bertamasya di Pulau Longos. Ia sedang mengemban tugas mulia dari Hidayatullah, organisasi tempat ia bernaung, untuk mengajarkan Islam kepada penduduk pulau terpencil ini.

“Kami diajarkan untuk sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami patuh). Jadi saya terima keadaan ini dengan lapang dada,” kata Saharudin. Ia tidak mau mengeluh, apalagi protes.

Saharudin tidak sendirian. Sejumlah anak muda lainnya juga mendapat tugas yang sama di pulau ini. Sebutlah, misalnya, Muhammad Nasir Lingge (31 tahun) dan Muhammad Gaos (30 tahun). Nama yang terakhir baru beberapa bulan ditugaskan ke pulau Longos, tepatnya bulan Maret 2016.

“Sebelumnya saya bertugas di Kupang (NTT),” kata Gaos, sapaan pemuda ini saat berbincang-bincang dengan Suara Hidayatullah akhir Agustus lalu. Terhadap tugas baru ini, Gaos berujar ringan sembari tersenyum, “Saya nikmati saja.” 

Namun, berbeda dengan Saharudin, Gaos mengaku tak terlalu kaget ketika pertama menginjakkan kaki ke Pulau Longos. Maklum, pria yang menikah pada 2012 ini juga berasal dari Nusa Tenggara Timur, propinsi yang sama dengan Longos. Tepatnya, di Pulau Lembata, sebelah timur pulau Flores.

Tantangan dakwah di pulau Lembata, kata Gaos, juga berat. Masyarakat di sana tidak semua Muslim. Banyak yang non-Muslim. Ini berbeda dengan Longos yang dihuni 100 persen pemeluk Islam.

Saat pertama menginjakkan kaki di Pulau Longos, Saharudin mengaku menghadapi masalah yang tak ringan. Setidaknya ada dua persoalan besar di pulau ini yang harus ia taklukkan.

Pertama, kata Saharudin, alamnya yang menantang. Binatang berbisa masih banyak di pulau tersebut. Pernah suatu ketika, cerita Sahar, sapaan akrab Saharudin, ia tertidur sehabis gotong royong membangun madrasah. Rasa capek membuat ia tak sempat lagi memilih-milih tepat tidur yang aman dan nyaman. Ia tidur di sembarang tempat.

Tiba-tiba ia merasakan ada benda panjang merayap di atas tubuhnya. Sahar terbangun dan melihat seekor ular telah melintas di kakinya. Ia bergidik tapi tak berani bergerak. Baru setelah setengah dari tubuh ular tersebut melewatinya, ia sontak mengibaskan kaki kuat-kuat. Ular sepanjang lebih dari 1 meter itu pun terpelanting jauh. "Saya berani bertindak setelah kepala ular tersebut jauh dari kaki saya," cerita Sahar.

Tantangan kedua, penduduknya yang masih awam dalam ber-Islam serta kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Sahar mengenang masa tiga tahun lalu, ketika Madrasah Aliyah Bahrul Ulum baru berdiri. Ia datangi satu per satu penduduk kampung, membujuknya agar mau melepas anaknya sekolah di madrasah.

Pilihan masyarakat sebenarnya hanya ada dua: menyekolahkan anaknya ke madrasah Bahrul Ulum atau membiarkan anaknya putus sekolah. Sebab, tak ada sekolah setingkat SMA lain di pulau itu kecuali madrasah tersebut.

Tapi anehnya, kebanyakan masyarakat lebih memilih yang pertama: membiarkan anaknya putus sekolah.  Padahal, pihak madrasah tidak memungut biaya dari anak-anak itu. Alasan masyarakat sederhana saja. Jika sekolah, anaknya tak bisa produktif mencari uang.

“Kalau anak saya sekolah, siapa yang bantu saya cari uang?” kata Sahar menirukan alasan sebagian masyarakat kampung ketika itu.

Namun Sahar dan teman-temannya tak patah arang. Bujuk rayu mereka lama-lama berbuah hasil. Kini, sebanyak 62 siswa sudah menuntut ilmu di madrasah Bahrul Ulum. Bahkan, 12 di antaranya bermukim di pesantren Hidayatullah yang masih berada satu kompleks dengan madrasah tersebut.

Kegiatan di pesantren Hidayatullah pun mulai beragam. Menurut Muhammad Gaos, selain belajar-mengajar di madrasah, setiap malam sehabis magrib, digelar halaqoh Quran. “Para santri dan masyarakat sekitar belajar bagaimana memperbaiki bacaan Qur’an,” jelas Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Manggarai Barat ini. Jumlah pengikut dauroh mencapai 20 orang.  Selaain itu, setiap habis shalat zuhur berjamaah, ada tausiyah singkat.

Kompleks pesantren Hidayatullah Pulau Longos menempati areal wakaf seluas 1,5 hektar, persis di pinggir pantai. Bila diukur dari tepi pantai hingga menjorok ke daratan, bisa mencapai 100 meter. Sedang ukuran memanjang dari timur ke barat mencapai 150 meter.

Di kompleks tersebut ada satu bangunan sederhana untuk tempat tinggal santri putri, satu bangunan untuk santri putra dan para pengasuh, serta satu bangunan memanjang tempat belajar.

Jangan bayangkan kompleks tersebut mewah. Tidak! Bahkan jauh dari kesan itu. Dinding sekolah sebagiannya terbuat dari gebang, mirip daun kelapa yang dianyam, sebagian lagi terbuat dari tripleks. Sedang tembok semen hanya setinggi 1 meter saja.

Ruang kelas ada tiga dengan bangku memanjang. Kelas 1 berjumlah 31 siswa, kelas 2 ada 12 siswa, dan kelas 3 ada 19 orang. Dinding kelas baru selesai setengah. Lantainya semen kasar. Sedang atapnya terbuat dari seng.

Saat membangun sekolah dan pesantren tersebut, cerita Saharudin, banyak masyarakat ikut membantu. Para santri dan siswa juga ikut bergotong royong. Ada yang menyumbang kayu, papan, dan gebang, ada juga yang menyumbang tenaga. “Tidak ada yang menyumbang uang,” kata Sahar berkelakar. Maklumlah, masyarakat di kampung tersebut bukan tergolong berada.

Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan lama-kelamaan tumbuh. Muhammatullah, imam masjid di Kampung Bajo, misalnya, telah memondokkan anaknya ke pesantren Hidayatullah. Kampung Bajo sendiri berjarak 2,5 km dari Kampung Baru, tempat dimana pesantren tersebut berdiri.

“Anak saya harus sekolah. Jika pendidikan anak saya sama dengan saya, itu artinya “kembali modal”. Rugi saya! Jika anak saya lebih hebat dari saya, itu baru namanya untung,” jelas Muhammatullah saat Suara Hiadayatullah bertamu ke rumahnya akhir Agustus lalu.

Kepala Kampung Baru, Abu Bakar, mengakui kehadiran dai-dai muda ke Pulau Longos amat dirasa manfaatnya oleh masyarakat. “Penduduk di sini sadar betapa pentingnya agama dan pendidikan bagi masa depan mereka. Saya salut dengan kegigihan dai-dai muda itu,” jelas Abu Bakar.

Bagi pulau-pulau terpencil seperti Longos, kedatangan dai-dai muda itu laksana pelita dalam kegelapan. Mereka tak sekadar mampu menerangi pulau, tapi juga menerangi kalbu penduduknya. ***



(Ihwal, Suara Hidayatullah, Oktober 2016)