Senin, 08 Juni 2015

Al Aqsha, Aku Akan Datang!

Di tepi Laut Mati, di wilah timur Yordania, Jumat, 18 Mei 2010, ketika hari menjelang magrib, aku melemparkan pandangan nun jauh di seberang sana. Aku mencari sesuatu. Sesuatu yang ditunjuk oleh seorang laki-laki yang berdiri di sampingku. Sesuatu yang membuat aku selama ini amat ingin mengunjunginya

"Itu Masjid al-Aqsa," ungkap lelaki itu.

Aku berusaha menajamkan pandanganku. Tapi tetap tak kulihat sebentuk bangunan apa pun. Yang tampak hanya beberapa kerlipan cahaya di tengah warna kelabu yang hampir gelap. Sangat kecil. Mirip kerlipan bintang di langit.

Gelap memang tak lama lagi akan menyelimuti wilayah pinggiran Laut Mati. Jelas saja aku tak bisa melihat  bangunan apa pun di seberang sana. Jarak dari tempat aku berdiri dengan kerlipan lampu itu kira-kira 30 km. Manalah mungkin aku bisa melihat masjid al-Aqsha, sebagaimana ditunjuk oleh lelaki di dekatku ini.

Laut Mati di depanku yang memisahkan daratan Jordania dan Israel terlihat amat tenang. Tak ada ombak besar sebagaimana sering kita lihat di pesisir pantai selatan Indonesia. Hanya ada riak-riak kecil saja.

Aku tak berdiri di pinggir laut hingga kakiku basah terkena jilatan air. Tidak! Aku berdiri saja di dekat pagar setinggi pinggang yang memisahkan pantai  dan jalanan yang tadi kulewati. Pagar ini seolah-olah menghalangi langkahku untuk sedikit bermain-main dengan riak-riak air laut. Jarak air laut hanya sepelemparan batu dari tempatku berdiri.

Mungkin saja bila matahari masih terlihat jelas di ufuk barat, aku masih bisa bermain-main dengan lumpur dan air laut yang konon amat menyehatkan ini. Lumpurnya dipercaya mampu memperhalus kulit, bahkan memperlancar sirkulasi darah. Sedang air lautnya memiliki kadar garam amat tinggi, yakni 32 persen, tertinggi di seluruh laut di atas permukaan bumi. Bandingkan dengan rata-rata kadar garam di Laut Tengah yang hanya 3 persen saja.

Menurut sejumlah literatur, laut Mati sebenarnya bukan laut. Ia adalah danau besar. Ukuran panjangnya mencapai 76 km, sedang lebarnya 16 km. Danau raksasa yang diperkirakan terbentuk sekitar 3 juta tahun lalu ini terletak di tititk terendah di permukaan bumi, yakni  417,5 meter di bawah permukaan laut.

Letak goegrafisnya yang tertutup --bahkan tak ada satu pun sungai mengalir ke sana--- menyebabkan danau besar ini disebut Laut Mati. Nama ini kian tepat disematkan kepada danau besar ini karena tak ada satu jenis mahluk hidup pun yang mampu bertahan menghuni laut dengan kadar garam fantastis seperti ini.

Kedatanganku ke wilayah ini sebenarnya tidak secara khusus mengunjungi Laut Mati. Aku ke sini untuk menjemput sahabatku yang ikut pelayaran kapal Mavi Marmara pada penghujung Mei 2010, kemudian tertembak serdadu Israel ketika kapal yang ditumpanginya hendak memasuki perairan Gaza, Palestina.

Ia tertembak di atas dek kapal ketika hendak menolong penumpang lain yang telah tertembak lebih dulu. Peluru itu menghujam di dadanya, menyerempet jantungnya dan baru berhenti ketika menyentuh tulang dadanya. Ia kemudian diangkut -- lebih tepatnya ditawan-- oleh tentara Israel dalam keadaan terluka parah. Beruntung, atas desakan dunia, ia kemudian dibebaskan beberapa hari kemudian dan aku kini menjemputnya.

Rupanya, luka dalam yang ia derita memaksa kami harus beristirahat sebentar di Amman, Jordania. Di sela-sela waktu itulah, aku menyempatkan diri mengunjungi daerah ini, menembus bukit Nebo (jabal Nebo) yang berdebu, menuruni lembah dengan pepohonan yang khas, dan menghirup udara yang dulu pernah dihirup juga oleh Nabi Musa AS dan kaumnya.  Konon, Nabi Musa dan pengikutnya pernah melewati bukit ini saat hendak menuju Palestina, negeri para leluhurnya.

Baiklah! Mari kita putar waktu sejenak ke masa berabad-abad silam ke sebuah wilayah bernama Kan'an, atau kini bernama Palestina. Wilayah ini diberi nama demikian karena manusia tertua yang mendiami wilayah ini adalah orang-orang Kan'an. Mereka adalah kabilah yang hijrah dari semenanjung Arab di utara.

Sejarah Bani Israil bermula ketika Nabi Ya'qub tinggal di daerah ini. Lalu putra kesayangan beliau, Yusuf, ditawan dan dibawa ke Mesir. Kisah berlanjut dengan kehidupan Yusuf yang penuh lika-liku hingga akhirnya --berkat pertolongan Allah Ta'ala-- beliau berhasil menjadi raja di Mesir. Saat itulah Bani Israil mulai berkembang di negeri itu.

Akan tetapi, setelah Yusuf dan Ya'qub wafat, kekuasaan jatuh ke tangan Fir'aun. Ketika itulah Bani Israil mengalami penindasan luar biasa hebat. Begitulah skenario Sang Maha Pengatur hingga datanglah Nabi Musa.

Musa membawa Bani Israil menyeberangi Laut Merah dan Gurun Sinai menuju Baitul Maqdis di Yerusalem (al-Quds). Selama perjalanan panjang itu, berkali-kali kaum Yahudi atau Bani Israil membangkang perintah Musa. Sikap keras kepala mereka sulit sekali hilang. Padahal Allah Ta'ala telah berkali-kali pula memperlihatkan kekuasaan-Nya lewat mukjizat Nabi Musa. Namun kaum Yahudi tetap ingkar.

Allah Ta'ala mengabadikan sikap keras kepala mereka ini dalam al-Qur'an surat al-Baqarah [2] ayat 74. Kata Allah Ta'ala, "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan ia lebih keras."

Akhirnya, Allah Ta'ala menghukum Bani Israil dengan menyesatkan mereka selama 40 tahun di wilayah sekitar Baitul Maqdis. Dan, Jabal Nebo, berjarak sekitar 50 km dari Baitul Maqdis, dipercaya sebagai salah satu tempat hukuman itu.

Bukit Nebo kini telah ditumbuhi pepohonan meski kesan tandus tetap mendominasi. Di sepanjang jalan tak banyak dijumpai kendaraan. Sepi dan hening. Entah bagaimana keadaan bukit ini ketika dahulu dilalui oleh Nabi Musa dan kaumnya. Mungkin jauh lebih hening dan mencekam.

Adakah Nabi Musa AS dalam pengembaraannya tiba juga di Laut Mati di hadapanku ini? Rasanya ya, meski sulit sekali menemukan literatur tentang itu. Tak banyak cerita tentang Laut Mati dalam kisah-kisah para Nabi kecuali kisah kaum Nabi Luth yang dihancurkan oleh Allah Ta'ala di laut ini karena melakukan perbuatan terlaknat, menyukai sesama jenis.

Ketenangan Laut Mati lagi-lagi membuat pikiranku melayang-layang jauh ke sebarang sana, menjelajahi lampu-lampu kecil yang berkedip lemah seolah-olah berupaya keras mepertahankan cahayanya agar tidak tersapu kabut.

Pikiranku telah mengembara seakan lepas dari jasadku, terbang ke salah satu kota tertua di dunia itu. Kota tempat bermukim para Nabi. Kota tempat dibangunnya kiblat pertama umat Islam. Kota yang tak pernah berhasil dikunjungi Nabi Musa AS dalam pengembaraannya. Dialah kota al-Quds.

Sejarah panjang tentang kota ini dihiasi berbagai peperangan. Ia pernah dibangun, ditaklukkan, dihancurkan, lalu dibangun kembali berkali-kali.

Sejarah panjang tersebut bermula dari kisah Nabi Ibrahim ketika meninggalkan tanah kelahirannya , Kaldea di kawasan Babilonia, Irak, menuju Palestina untuk menghindari tekanan Raja Namruz. Mereka melintasi sungai Eufrat hingga tiba di tanah Palestina sekitar tahun 1900 SM.

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, Kota Al Quds pernah dikuasai oleh Raja Firaun dan bangsa Romawi. Dalam kurun itu, sejumlah Nabi keturunan Ibrahim pernah pula berdiam di tanah ini.

Al-Quds direbut oleh kaum Muslim pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab sekitar tahun 636 M. Sayangnya, saat kekuatan kaum Muslim lemah karena terpecah-pecah, pasukan Salib berhasil merebut kembali kota ini. Dalam peristiwa berdarah yang nyaris tanpa perlawanan tersebut, puluhan ribu kaum Muslim terbunuh, termasuk para pencari ilmu.

Pada tahun 1187 Masehi, pasukan Islam di bawah pimpinan Shalahuddin al-Ayyubi, berhasil merebut kembali al-Quds. Sayangnya ini tak berlangsung lama. Pada akhir masa perang Salib III, al-Quds jatuh kembali ke tangan pasukan dari Eropa.

Dan hingga kini, kota yang masih dikuasai Zionis Israel itu terus bergolak, amat kontras dengan ketenangan laut Mati yang ada di hadapanku ini.

Aku berharap suatu saat kelak Allah Ta'ala memberikan kesempatan kepadaku untuk menelusuri kerlap-kerlip lampu di kota itu dan berjumpa dengan sebuah masjid yang terletak di bagian timur kota tersebut.

Mesjid itu amat Istimewa karena Allah Ta'ala menganjurkan manusia untuk berpayah-payah menemuinya.

Ia pernah disinggahi Rasulullah SAW saat hendak naik ke Sidratul Muntaha. Ia juga disebut-sebut oleh Allah Ta'ala dalam al-Quran. Dan, ia  pernah menjadi arah kiblat pertama kaum Muslim.

Aku amat ingin mengunjunginya. Tunggulah, al-Aqsha, aku akan datang ... ***