Kamis, 17 September 2026

Solo, Semarang, Yogyakarta dan Terpecahnya Kerajaan Mataram Islam

Awalnya, di Jawa Tengah, berdiri Kerajaan Mataram Islam pada abad ke 16. Raja yang paling terkenal adalah Sultan Agung. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Pulau Jawa, terutama di bagian tengah.

Salah satu bangunan tua di Kota Semarang.

Pada akhir abad ke-16, pusat pemerintahan Mataram Islam ada di Kotagede (Yogyakarta). Lalu pindah ke Karta, kemudian Plered, dan setelah terjadi pergolakan politik, pindah lagi ke Kartasura.

Pada tahun 1745, Pakubuwono II  memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram dari Kartasura ke Desa Sala. Inilah asal mula kota Solo. Desa ini berkembang menjadi kota Surakarta. Sejak itu Surakarta menjadi pusat pemerintahan Mataram, yang kemudian dikenal sebagai Kasunanan Surakarta.

Kerajaan Mataram Islam kemudian terpecah menjadi dua wilayah melalui Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Pertama, Kasunanan Surakarta (Solo) yang berpusat di Kota Solo dan dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono III. Kedua, Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Dengan demikian, sejak Perjanjian Giyanti tersebut, Kerajaan Mataram sudah tidak lagi dikenal secara resmi, berganti menjadi dua kerajaan pecahannya. 

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1757, melalui Perjanjian Salatiga, Kasunanan Surakarta terpecah lagi dengan mulculnya Kadipaten Mangkunegaran. Pusat pemerintahan kadipaten ini juga berada di Solo, sedang wilayah kekuasaannya tersebar di daerah pedalaman Jawa Tengah. Pemimpin sekaligus pendiri kadipaten ini adalah Raden Mas Said atau dikenal juga dengan Pangeran Sambarnyawa.

Jadi, Solo pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam, dan pernah pula menjadi kerajaan sendiri dengan sebutan Kesunanan Surakarta, dan ketika Kadipaten Mangkunegaran berdiri, Solo menjadi pusat pemerintahan dua kerajaan sekaligus, yakni Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Karena itulah sampai sekarang terdapat dua keraoton atau istana di Solo, yakni Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.  

Lalu bagaimana dengan Semarang? Apakah wilayah ini masuk ke dalam Kasunanan Surakarta, atau Kadipaten Mangkunegaran? Ternyata tidak keduanya. Memang, wilayah ini, pada masa awal Kesultanan Mataram, pernah berada di bawah kekuasaan Mataram. Namun, pada tahun 1678, saat Mataram dipimpin oleh Amangkurat II (1677-1703), Semarang diserahkan kepada VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebagai imbalan atas bantuan militer dan pelunasan utang kepada Belanda. Dan, ketika itu, Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran belum berdiri.

Saat Semarang diserahkan kepada VOC ini, bupati Semarang yang menjabat kala itu bernama Kyai Mas Tumenggung Judonegoro atau disebut juga Adipati Suromenggolo. Ia menjadi bupati ke-10. 

Yang menarik, Belanda tidak mengganti penguasa lokal ini dengan orang Belanda.  Adipati Suromenggolo ini menjabat hingga tahun 1713.  Begitu pun setelah Kerajaan Mataran terpecah menjadi dua kerajaan, Semarang tetap berada di bawah kekuasaan VOC, tidak berada di salah satu pecahan Mataram Islam. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat