Kamis, 17 Maret 2022

Ayo Kita Berjalan, Jangan Tetap Diam

Setelah kita menjalani proses iqro' dengan belajar tentang ayat-ayat Allah Ta'ala, lalu mengimani bahwa semua fenomena di alam ini pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya, yang tiada lain adalah Allah Azza wa Jalla, maka pengembaraan hati dan fisik kita tak boleh berhenti sampai di sini. 

Melangkah seirama

Sebab, jika kita berhenti, kita tak ubahnya seperti orang yang sadar betul bahwa ia harus pergi karena tempat yang ia pijak bukanlah rumah dan kampung halamannya melainkan sekadar persinggahan sementara, namun ia tetap diam saja. Jika demikiam maka ia tak akan sampai ke tempat tujuannya, yakni kampung dan rumahnya. Ia harus melangkah sembari mencari jalan pulang. 

Tentang ini, Allah Ta'ala berfirman dalam al-Qur'an surat Al-Ma'idah [5] ayat 35, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung." 


Dalam ayat tersebur Allah Ta'ala menyeru kepada orang-orang yang telah yakin akan Islam agar segera mencari jalan (wasilah) untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Ta'ala. Inilah yang harus kita lakukan. Kita harus mencari jalan yang lurus yang akan mengantarkan kita ke kampung halaman kita di surga, sekaligus mulai berjalan mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala.

Bukankah setiap hari kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar ditunjukkan jalan yang lurus? Ihdinash shiraathal mustaqiim. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus (Al Fatihah [1]: 6). Setidaknya 17 kali kita meminta hal tersebut dalam shalat.

Makna permintaan itu, menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bukan sekadar permintaan agar Allah Ta'ala memberikan hidayah berupa ilmu tentang jalan yang lurus. Namun, lebih dari sekadar itu, permintaan agar Allah Ta'ala berkenan memberikan hidayah taufik agar kita mau menerima kebenaran (jalan yang lurus) dan mau menaatinya (menapakinya).

Apa itu jalan yang lurus? Dijelaskan dalam ayat selanjutnya, “(Yakni) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka. Bukan (jalan) mereka yang dimurkai. (Dan bukan pula jalan) mereka yang sesat." (Al-Fatihah [1]:7)


Para ahli tafsir dari kalangan ulama Salaf bersepakat dalam memaknai kata sirat, yakni mengikuti perintah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Namun, secara lebih spesifik, sejumlah ulama membuat kesimpulan bahwa sirat adalah Kitabullah atau al-Quran. Beberapa ulama lain menyimpulkan bahwa sirat adalah Islam.

Sirat, bila berpedoman dari surat al-Fatihah ayat terakhir, tentu saja bukan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang dimurkai (al-maghdhuub) dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (ad-dhoooliin). 

Al-magdhuub, menurut ulama, adalah orang-orang yang paham tentang jalan yang lurus namun menolak untuk mengikutinya. Sedangkan ad-dhoooliin adalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki ilmu dan pemahaman tentang jalan lurus tersebut. 

Ada juga yang menafsirkan bahwa orang-orang yang dimurkai adalah kaum Yahudi, sedang orang-orang yang sesat adalah kaum Nasrani.

Yang jelas, jalan yang lurus adalah jalan yang dilalui oleh Rasulullah SAW, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang'," (Ali 'Imran [3]: 31).

Hal senada juga difirmankan oleh Allah Ta'ala dalam surat Yusuf [12] ayat 108, "Katakanlah (Muhammad), Inilah jalanku! Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan yakin...."

Jadi, ayo kita berjalan mendekat kepada Allah Ta'ala agar kita sampai ke kampung halaman kita di surga. 

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat