Minggu, 21 November 2021

Teroris

Ini sekadar masalah bahasa. Sekali lagi, bahasa!

Belakangan, kata "teroris" ramai dibicarakan di media massa. Para penyiar menyebutnya di televisi, orang-orang membahasnya di media sosial, dan para pengamat mengupasnya di situs-situs berita.


Karena penasaran, saya mencari apa definisi kata "teroris". Saya khawatir salah memaknainya. Saya takut keliru menuduh seseorang sebagai teroris meskipun sekadar persoalan bahasa. Dan, tempat paling pas untuk mencari definisi kata teroris adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau disingkat KBBI. 

Zaman now, tak sulit menemukan arti kata di KBBI. Tinggal search di mesin pencari internet, lalu ketikkan kata "teroris" dan "KBBI" maka keluarlah arti kata tersebut lengkap dengan contohnya.

Teroris, menurut KBBI, adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut. Biasanya (digunakan) untuk tujuan politik.

KBBI memberikan contoh penggunaan kata "teroris" dalam kalimat berikut: Gerombolan teroris telah mengganas dengan membakar rumah penduduk dan merampas hasil panen.

Dari definisi ini, saya menjadi paham bahwa teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan dengan tujuan menakut-nakuti. Kata dasarnya "teror", artinya menakut-nakuti

Lalu, bagaimana bila seseorang tak pernah dalam hidupnya menggunakan kekerasan? Apakah ia terkategori teroris? Jika menilik dari definisi ini, tentu saja bukan!

Bagaimana pula dengan orang yang tak pernah menimbulkan rasa takut pada orang lain, malah kebanyakan orang merasa nyaman berada di dekatnya? Apakah ia juga terkategori teroris? Tentu juga bukan!

Bagaimana bila seseorang tak pernah menggunakan kekarasan dan tidak juga membuat orang lain merasa ketakutan? Bertambah pasti, ia bukan teroris. Ini menurut KBBI!

Barangkali ada juga yang bertanya, bagaimana bila seseorang yang tak pernah menggunakan kekerasan namun terlibat dalam sekelompok orang yang gemar menimbulkan rasa takut? Apakah ia bisa dikategorikan teroris. 

Boleh jadi ya, tapi bisa juga tidak. Ini masih harus dikaji seperti apa keterlibatannya. Artinya, tidak bisa seketika ia dituduh teroris. Harus diteliti dulu.

Ah, barangkali Anda berpikir, ini bukan persoalan penting! Toh ini sekadar tinjauan bahasa.

Perlu Anda ketahui bahwa bahasa bisa membentuk kesan, bahkan stigma. Jika salah, konsekuensinya berat. Tak akan sanggup kita pikul di akhirat kelak. Jadi, berhati-hatilah. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat