Kamis, 04 Maret 2021

Menyesal Menjadi Manusia

Di antara kita mungkin ada yang merasa hidupnya tak beruntung. Rasa ini biasanya muncul manakala ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

Ada yang merasa jabatannya rendah sementara teman-teman sekelasnya dulu memiliki jabatan yang jauh lebih tinggi darinya. Ada yang merasa penghasilannya kecil sementara para tetangganya hidup bermewah-mewah. Ada pula yang merasa rupanya tak elok jika dibandingkan teman-teman sepermainannya.

Lama-kelamaan rasa tak beruntung ini menjadikan ia minder, tak lagi percaya diri ketika berada di tengah orang lain. Ia mulai banyak mengeluh. Bahkan, ujian hidup yang menimpanya disikapi dengan menyalahkan takdir Allah Ta’ala atas dirinya. Rasanya, seekor kucing lebih beruntung ketimbang dirinya. Kucing tak pernah merasa sakit hati karena hidupnya tak beruntung.  

Begitulah manusia. Terkadang ia merasa tidak seberuntung binatang. Andai dia tahu, perasaaan seperti itu kelak ---ketika semua mahluk hidup dibangkitkan kembali dari kematiannya dan dikumpulkan di Padang Mahsyar--- akan benar-benar terjadi. Saat itu, para binatang akan merasa beruntung telah diciptakan sebagai binatang, bukan sebagai manusia. Sebaliknya, manusia saat itu benar-benar merasa tidak beruntung. Bahkan, jika bisa diulang, manusia lebih ingin menjadi tanah.

Kisah tentang ini difirmankan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur’an surat an-Naba’ [78] ayat 40,  “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku jadi tanah’.”

Harun bin Abdullah telah meriwayatkan dari Sayyar, dari Ja'far bin Sulaiman, bahwa Abu Imran al-Jauni berkata, "Sesungguhnya binatang-binatang melihat anak-anak Adam pada Hari Kiamat sebagian dari mereka telah naik dari hadapan Allah Ta'ala ke surga dan sebagian lagi ke neraka. Ketika itu binatang-binatang berkata kepada mereka, 'Wahai anak-anak Adam, segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kami seperti kalian. Maka hari ini kami tidak mengharap surga dan tidak pula takut akan neraka."

Al-Qurthubi berkata dari Abu al-Qasim al-Qushairi dalam kitab Syarh al-Asma al-Husna mengenai berita tentang binatang liar dan hewan-hewan pada Hari Kiamat, bahwa mereka bersujud kepada Allah Ta'ala. Melihat kejadian ini malaikat menegur mereka, "Hari ini bukan Hari Sujud (hari untuk bersujud), melainkan hari pemberian atas pahala dan hukuman."

Mendengar teguran itu para binatang berkata, "Ini adalah sujud syukur karena Allah tidak menciptakan kami sebagai anak Adam."

Tentu saja tidak semua anak Adam merasa menyesal pada Hari Berbangkit kelak. Ada juga anak Adam  yang justru merasa senang karena menerima janji Allah Ta'ala berupa surga. Mereka adalah manusia yang selama di dunia telah menempuh jalan yang lurus dan bersabar untuk berada di jalan itu. 

Namun, bagi manusia yang memilih jalan bengkok, yakni jalan yang menyelisihi Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, maka penyesalan tiada akhir akan menimpanya. Untuk manusia seperti ini, menjadi binatang akan lebih baik karena tak akan merasakan panasnya neraka. Para binatang, menurut al-Qurthubi ketika menjelaskan maksud surat 'Abasa [80] ayat 40, setelah dihisab akan dihimpunkan kembali menjadi debu. 

Nah, jika di dunia saja manusia telah merasa tak seberuntung binatang, boleh jadi perasaan menyesal seperti ini akan bertambah-tambah ketika kelak mereka berada di akhirat. Jadi, syukurilah segala karunia yang Allah Ta'ala berikan kepada kita. Wallahu a'lam. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat