Senin, 12 Oktober 2020

Belajar dari Kisah Dua Saudara

Benturan antara kebaikan dan keburukan sudah ada sejak jumlah manusia masih dalam hitungan jari. Ketika itu, Nabi Adam Alaihissalam (AS) dan istrinya, Hawa, telah diturunkan oleh Allah Ta'ala ke muka bumi. Mereka memiliki dua putra bernama Habil dan Qabil. Kisah kedua putra Adam AS ini diceritakan cukup panjang oleh Allah Ta'ala dalam surat Al Maidah [5] ayat 27-30.

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban. Maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima, dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima ..." demikian penggalan firman Allah Ta'ala membuka kisah tersebut. 

Kisah ini sebenarnya bermula dari keinginan Qabil untuk menikahi Iqlima, saudara kembarnya sendiri. Padahal, menurut para mufasir, perintah Allah Ta'ala tidak seperti itu. Qabil tak boleh menikahi saudara kembarnya sendiri. Ia hanya boleh menikahi Labuda, saudara kembar Habil. Adapun Habil, boleh menikahi Iqlima.

Qabil protes. Sebab, Labuda kurang cantik jika dibandingkan Iqlima. Qabil tak mau menuruti ketentuan Allah Ta'ala yang disampaikan oleh ayahnya, Adam AS. Rupanya, kecantikan Iqlima telah membutakan Qabil. Bisikan setan telah merasuk ke dalam hati Qabil. Ia menentang petunjuk Allah Ta'ala dan tidak memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala dari godaan setan. Ia bahkan menyimpan rasa dengki kepada saudaranya, Habil.

Allah Ta'ala lalu memberikan petunjuk kepada Adam AS agar memerintahkan kedua anaknya untuk berkurban. Adam AS lalu berkata kepada kedua putranya, "Persembahkanlah kurban kalian berdua. Lalu siapa yang kurbannya diterima (oleh Allah Taala), maka ia berhak menikah dengan Iqlima."

Qabil adalah pemilik kebun tanaman. Ia mengorbankan hasil tanaman yang paling buruk tanpa kerelaan hati. Sementara Habil sebagaimana dikatakan para ahli sejarah, adalah seorang pengembala. Ia mempersembahkan kambing paling besar dan paling baagus miliknya dengan kerelaan hati.

Allah Ta'ala rupanya lebih memilih kurban Habil. Maka Qabil pun murka dan berkata kepada Habil sebagaimana dikutip dalam lanjutan surat Al Maidah [5] ayat 27 yang sebelumnya telah dipaparkan sebagian, "Sungguh, aku pasti (akan) membunuhmu."

Mendapati ancaman ini, Habil malah berkata dengan tenang, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. Sungguh jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka, dan itulah balasan bagi orang yang zalim,” (Al Maidah [5]: 27-29).

Maka, nafsu (Qabil) telah mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun benar-benar membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. (Al Maidah [5]: 30)

Demikianlah kisah pertumpahan darah pertama di bumi. Pertumpahan darah antara dua kakak beradik, antara penyeru kebaikan dan perangkul kejahatan, antara pengikut jalan yang lurus dengan pengikut jalan setan yang bengkok. Qabil, yang telah terpedaya dengan bisikan setan, tak lagi menuruti nasehat saudaranya. Bahkan, ketika saudaranya mengingatkan soal dosa dan neraka yang akan membakarnya, tetap saja ia bergeming.

Kisah-kisah seperti ini akan terus ada sepanjang usia bumi. Pertentangan antara kebaikan dan kejahatan tak akan pernah berhenti. Bahkan di akhir zaman kelak, akan banyak manusia yang dibunuh di dalam rumahnya sendiri. 

Rasulullah SAW, sebagimana diutarakan oleh Saad bin Abi Waqqash, berkata, "Sungguh akan terjadi fitnah-fitnah. Orang yang duduk (ketika fitnah itu terjadi) lebih baik dari pada orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang berjalan cepat."

Para sahabat kemudian bertanya, "Bagaimana menurut pendapatmu ya Rasulullah jika seseorang masuk kedalam rumah kami lalu menggerakkan tangannya untuk membunuh kami?"

Rasulullah SAW menjawab, "Jadilah seperti yang terbaik di antara dua anak Adam." (Shahih, Riwayat Abu Dawud).

Wallahu alam. ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat