Kamis, 22 Januari 2015

Umat Perlu Bersinergi untuk Membangun Peradaban Islam

Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah mewawancarai Kepala Biro Humas PP Hidayatullah terkait strategi membangkitkan kembali umat Islam Indonesia dari keterpurukan pada medio November 2014.

Ada empat pertanyaan yang diajukan. Yakni, pertama, mengapa umat yang mayoritas ini tak mampu berbuat banyak (kalah dengan umat lain)? Kedua, bagaimana cara membangun basis kekuatan umat kembali? Ketiga, apa agenda strategis yang bisa dilakukan saat ini? Dan keempat, bagaimana agenda itu bisa berjalan?

Berikut jawaban atas keempat pertanyaan tersebut.


Pertama. Saat ini umat Islam di negeri ini tak lagi percaya diri dengan Islam yang mereka anut. Mereka menjadikan Islam hanya sebagai ritual ibadah, bukan sebagai solusi atas semua permasalahan hidup, bahkan juga permasalahan bangsa. Padahal sejarah masa lalu telah membuktikan bahwa Islam mampu membawa peradaban manusia yang gilang gemilang. Kekhilafahan Islam mulai mundur justru ketika mereka perlahan-lahan telah meninggalkan Islam.

Jadi, dengan kondisi tersebut, tak heran bila kita sering menyaksikan dan mendengar banyaknya tindak kriminal dan asusila di negeri ini yang jauh dari nilai-nilai Islam. Tindakan tersebut tak sekadar dilakukan oleh masyarakat kebanyakan, bahkan juga pejabat pemerintah. Dan, kebanyakan mereka adalah Muslim.

Selain itu, sejalan dengan persoalan di atas, umat Islam di negara ini tidak memiliki cita-cita bersama yang perlu diwujudkan. Yakni, cita-cita menegakkan kembali peradaban Islam. Peradaban gemilang yang pernah dibangun oleh Rasulullah SAW.

Umat Islam di negara ini justru telah terkotak-kotak oleh kelompok dan organisasi. Masing-masing kelompok memiliki cita-citanya sendiri-sendiri, utamanya cita-cita jangka pendek.

Sebagian besar kelompok-kelompok itu asyik mempejuangkan kepentingan kelompoknya. Bahkan tak jarang masing-masing kelompok itu saling menjagal, menjatuhkan, dan mencaci-maki. Padahal seharusnya mereka saling bersinergi untuk mewujudkan cita-cita bersama, cita-cita jangka panjang, cita-cita membangun peradaban Islam.


Kedua. Kekuatan umat tak mungkin terbangun tanpa terbangunnya kesadaran akan tugas mulia menegakkan kembali peradaban Islam. Tugas mulia ini harus diemban bersama-sama, bukan tugas sekelompok orang saja.

Namun, membangun kesadaran tersebut tentu saja tidak mudah. Perlu waktu yang lama dan kesabaran yang tinggi, sebagaimana sabarnya para Nabi dan Rasul dahulu kala.

Jika kesadaran itu telah tumbuh, maka gerakan membangun kembali peradaban Islam baru bisa dimulai.

Gerakan ini bisa dimulai dari individu, keluarga, kelompok atau organisasi, bahkan ---jika memungkinkan--- negara.

Sinergi gerakan antar satu individu dengan individu yang lain, atau antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, pun tak akan sulit jika kesadaran itu telah tumbuh. Sinergi tersebut pada prinsipnya saling menguatkan, bukan menjatuhkan, lebih mendekatkan umat pada cita-cita bersama, bukan malah menjauhkan.

Nah, jika kesadaran telah tumbuh, sinergi telah tercapai, maka insya Allah, kaum Muslim akan kembali memimpin peradaban.


Ketiga. Tentu saja tak semua kaum Muslim di negara ini seperti apa yang digambarkan di atas. Masih ada segelintir orang yang peduli dengan cita-cita membangun peradaban Islam sebagaimana dulu pernah dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah. Mereka ini ada di semua kelompok/organisasi Islam. Dari merekalah gerakan penyadaran ini bisa dimulai.

Sinergi gerakan bisa dilakukan dengan saling bersilaturahim, berkumpul untuk membicarakan problematika umat, atau melakukan program bersama.

Satu hal lagi. Kaum Muslim yang telah tersadarkan tadi harus mampu melahirkan beberapa tokoh yang bisa menjadi tauladan umat: tegas, sederhana, berakhlak mulia, sejalan antara ucapan dan tindakan.

Hal ini perlu karena saat ini kaum Muslim di negara ini benar-benar krisis figur. Sulit sekali mencari figur sebagaimana gambaran di atas, apalagi figur yang mampu menyatukan umat.


Keempat. Jika ditanya bagaimana ini semua bisa dijalankan, maka jawabnya "jalankan saja," tanpa harus menunggu perintah terlebih dahulu. Tak perlu juga harus menang dalam pemilu terlebih dahulu, atau menunggu khilafah tegak dulu. Jalankan saja!

Hidayatullah telah memulainya dengan mendirikan kampus-kampus peradaban di seluruh Indonesia. Kampus-kampus ini tak sekadar sebuah pesantren, sekolah, atau perguruan tinggi, namun di dalamnya juga ada masyarakat yang telah menegakkan peradaban Islam, meski dengan skala yang amat kecil.

Organisasi Islam yang lain mungkin juga telah melakukan gerakan yang sama meski dengan cara yang berbeda. Muhammadiyah juga telah membangun komunikasi dengan seluruh ormas Islam di Indonesia dalam wadah SOLI (Silaturahim Ormas dan Lembaga Islam). Hidayatullah masuk dalam salah satu anggotanya.

Gerakan ini memang belum kencang. Ibarat angin, hanya sekadar semilir. Meski terasa menyejukkan, namun belum mampu menggerakkan apa pun. Kita tinggal pertebal rasa sabar, tetap istiqomah di jalan dakwah, berani berinisiatif, dan perbanyak silaturahim. Mudah-mudahan Allah SWT mengembalikan kita pada kejayaan masa lalu, yakni ketika Islam bisa menguasai peradaban dunia.