Sungai Zab Besar yang membentang dari kawasan pegunungan di Turki sebelah timur, mengalir ke wilayah Kurdistan di Irak utara, lalu bermuara ke Sungai Tigris di sebelah selatan Mosul, menjadi saksi bagaimana dua pasukan Muslim bertemu.
![]() |
| Foto ilustrasi Sungai Mahakam |
Pertemuan itu bukan untuk melepas kangen. Kedua pasukan tersebut justru saling menghunus pedang. Namun, Sungai Zeb Besar telah menciptakan jeda. Pasukan yang satu berada di sisi barat sungai, sedang pasukan yang lain berada di sisi timur.
Pasukan di sebelah barat adalah tentara Dinasti Umayyah, dipimpin langsung oleh Khalifah Marwan II. Jumlahnya sangat banyak, kira-kira 120 ribu orang.
Sedang pasukan di sebelah timur adalah tentara Dinasti Abbasiyah, dipimpin oleh Abdullah bin Ali, putra Ali bin Abdullah bin al-Abbas, keturunan paman Rasulullah SAW.
Meski jumlahnya kalah banyak dibanding pasukan Umayyah, namun tetap saja besar, yakni sekitar 20 ribu orang.
Sungai Zab bukan sungai kecil yang mudah diseberangi di sembarang tempat. Ia merupakan salah satu anak sungai utama Tigris. Namanya saja diembel-embeli kata "Besar" yang dalam bahasa Arab disebut al-Zāb al-Kabir atau dalam Bahasa Inggris disebut Great Zab.
Hari itu matahari sudah pergi meninggalkan ufuk barat. Malam telah datang. Kedua pasukan telah mendirikan tenda di masing-masing sisi sungai. Perapian sudah dinyalakan guna mengusir dingin yang mulai menusuk tulang.
Sebelumnya, pasukan Abbasiyah telah berupaya menyeberangi Sungai Zab Besar dengan mencari bagian sungai yang airnya dangkal. Namun, upaya ini gagal. Jumlah pasukan Abbasiyah yang berhasil menyeberang terlalu sedikit. Hanya 5 ribu orang. Terlalu berisiko jika pertempuran dilanjutkan. Akhirnya mereka mundur dan kembali ke sisi semula.
Malam kian meninggi, menemani hati yang bergemuruh menunggu esok. Bila malam ini pedang telah disimpan kembali di sarungnya, maka esok pedang-pedang itu akan beradu kencang, menimbulkan suara berdenting, mengoyak tubuh, memuntahkan darah, merenggut nyawa.
Kisah yang diambil dari catatan sejarawan ath-Thabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk ini adalah sejarah kelam kaum Muslim. Tak bisa kita bayangkan, dua kelompok besar yang saling bersaudara dalam iman justru menghunus pedang saling menumbangkan.
Terlebih lagi pada zaman itu masih ada para tabiin di kedua belah pihak. Rasulullah SAW belum terlalu lama meninggal dunia. Hanya terpaut 1 abad dengan masa beliau.
Bisakah kita bayangkan pada malam itu beberapa orang dari kedua pasukan menengadahkan tangan ke langit, memohon kepada Tuhan yang sama dengan tangan gemetar dan mata berlinang agar Allah Ta'ala menganugerahi mereka kemenangan? Apa alasan yang keluar dari mulut mereka ketika masing-masing menginginkan kehancuran lawannya?
Tapi rangkaian sejarah tidak sesederhana itu. Ada latar cerita yang rumit. Ada alur kisah yang panjang meliuk-liuk laksana aliran Sungai Zab. Rangkaian kisah tersebut mencapai puncaknya ketika kedua pasukan bertemu di tepi Sungai Zab Besar di wilayah Irak utara, tak jauh dari Mosul, sekitar bulan Januari 750 M.
Malam telah berganti pagi. Setelah pasukan Umayyah --yang jumlahnya jauh lebih besar-- berhasil membangun jembatan darurat antara kedua sisi, pertempuran besar tak bisa dielakkan lagi. Korban mulai berjatuhan. Jumlahnya sangat banyak, terutama dari kubu Umayyah.
Menurut catatan William Muir dalam The Caliphate: Its Rise, Decline, and Fall, banyak pasukan Umayyah yang melarikan diri dengan menyeberangi kembali jembatan darurat. Tapi jembatan tersebut diputus oleh pasukan Abbasiyah. Akibatnya banyak yang jatuh dan tenggelam di sungai.
Pasukan Bani Umayyah akhirnya kalah. Sang Khalifah, Marwan II, melarikan diri ke Suriah, lalu ke Mesir, dan terbunuh di sana. Semua keluarga Umayyah kemudian dibunuh. Sebuah dinasti Islam yang dulu sangat besar, hancur oleh saudara seimannya sendiri.
Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa ini. Sejarah memang selalu memberikan kita cermin agar kita tak mengulangi kesalahan di masa mendatang. *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar yang bermanfaat