Minggu, 27 September 2026

Ketika Pertanyaan Kian Kritis, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bayangkan bila suatu ketika ada seorang remaja putri bertanya kepadamu, "Mengapa Islam tak menghendaki wajah wanita dipajang di media sosial, sedang wajah laki-laki boleh? Apakah karena khawatir laki-laki yang melihat wajah wanita akan tergoda?"


"Jika begitu..." kata remaja putri lagi, "... bagaimana dengan kisah Nabi Yusuf? Bukankah para wanita terpesona melihat ketampanan Nabi Yusuf sampai tak sadar melukai tangannya sendiri? Lalu mengapa tak ada yang merasa khawatir wanita akan terpesona melihat wajah laki-laki di medsos sebagaimana laki-laki juga terpesona melihat wajah wanita?"

Pertanyaan kritis seperti ini akan sering kita temui dalam kehidupan nyata. Perkembangan teknologi komunikasi yang kian dahsyat dewasa ini menjadikan masyarakat kian kritis, terlebih anak-anak muda. Lalu bagaimana kita menyikapi pertanyaan-pertanyaan kritis seperti ini?

Dulu, pertanyaan-pertanyaan kritis seperti itu cukup dijawab dengan dalil dalam al-Qur'an dan Hadis. Kita akan langsung mengangguk ketika guru ngaji kita sudah mengutip al-Qur'an dan Hadis. Tak perlu penjelasan njelimet. Kalau Islam sudah berkata "jangan" ya sudah, "jangan".  Kalau dilanggar, maka kita akan mendapat bala'. 

Sebenarnya, bagi orang-orang yang beriman, kutipan al-Qur'an dan hadits memang sudah cukup untuk menjelaskan sebuah fenomena. Kalaupun ada pertanyaan, paling yang dipersoalkan apakah hadis yang dikutip tersebut shahih? Atau, apakah tafsir tentang ayat al-Qur'an yang dikutip memang menjelaskan seperti itu? Kalau ya, berarti selesai! Sami‘nā wa aṭa‘nā (kami mendengar dan kami taat).

Mengapa? Sebab, bagi orang-orang yang beriman, Islam itu agama fitrah. Menyelisihi Islam berarti menyelisihi fitrah manusia. Jika menyelisihi fitrah maka cepat atau lambat sudah pasti celaka. Celaka di dunia, sengsara di akhirat! 

Tapi, bagi kebanyakan para remaja dan anak-anak muda zaman sekarang, tidak semudah itu memahamkannya. Mereka perlu penjelasan yang logis dan realistis. Mereka perlu "sesuatu yang masuk di akal mereka", barulah mereka akan mengiyakan.

Itu berarti, berdakwah di zaman now tak cukup hafal dalil saja. Para juru dakwah harus memiliki wawasan yang luas, daya nalar yang kuat, dan kemampuan komunikasi yang baik. 

Allah Ta'ala sebenarnya sudah memberi sinyal sejak awal lewat kata iqra'. Kita harus memaknai perintah iqra' tersebut secara luas, bukan dalam pengertian sempit.

Lantas, terhadap pertanyaan di atas tadi, bagaimana menjelaskannya? Kita akan bahas dalam sambungan artikel ini. Ikuti terus ya! *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat