Minggu, 21 Juni 2026

Yakin Hari Esok Milik Islam

Jika Anda ditanya, "Apakah engkau yakin bahwa kelak Islam akan memenangkan pertarungan atas semua agama dan ideologi di muka bumi ini?" Apa jawab Anda?


Seharusnya, Anda tak sekadar menjawab ya, tapi lebih dari itu, Anda harus mengimani bahwa hari esok milik Islam. Mengapa? Sebab, Allah Ta'ala telah memberi isyarat tentang ini dalam beberapa ayat al-Qur'an. Satu di antaranya adalah:

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At-Taubah [9]: 33).

Ayat lainnya dengan redaksi yang mirip ada pada Al-Fath [48] ayat 28 dan As-Saff [61] ayat 9

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh urusan ini (Islam) akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Allah tidak akan meninggalkan satu rumah dari batu maupun bulu kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya..." (Riwayat Ahmad, dinilai shahih oleh sejumlah ulama hadis).

Dalam hadis yang lain yang diriwayatkan oleh Ahmad Ibn Hanbal dalam al-Musnad, Rasulullah SAW bersabda, "Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki. Lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia kehendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kekhalifahan menurut sistem kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki. Lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian, berlangsung kerajaan yang bengis (mulkan adhdhan) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki. Lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung pemerintahan yang menindas (mulkan jabbar) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki. Lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian akan berlangsung kembali kekhalifahan menurut sistem kenabian."

Islam adalah din yang paling layak mengatur seluruh aspek kehidupan dan memimpin serta membimbing umat manusia. Hal ini karena Islam berasal dari Dzat Yang Maha Mengetahui. Tak mungkin keliru. Fakta sejarah dari dulu sampai sekarang telah membuktikan tak ada yang keliru dengan sumber rujukan Islam, yakni al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. 

Allah Ta'ala berfirman:
الا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ 

"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu lahirkan dan kamu sembunyikan), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk [67]: 14)

Islam adalah satu-satunya agama yang sesuai dengan kebutuhan fitrah manusia. Karena sifatnya yang Rabbaniyyah maka Islam memiliki karekteritstik yang tidak dimiliki oleh agama lain. Salah satunya, sesuai dengan problematika manusia sepanjang zaman dan di semua tempat. 

Namun di sisi lain, Islam bersifat fleksibel. Ia membuka luas kesempatan untuk berijtihad dalam meng-istinbath hukum-hukum yang tidak ada nash-nya, baik dengan cara qiyas (analogi) memandang maslahah mursalah, istihsan, atau dengan dalil syar'i lainnya. Islam juga bukan agama yang memiliki tujuan terbatas. Islam bersifat integral. 

Atas alasan itulah maka Islam adalah satu-satunya din yang sanggup memenuhi seluruh kebutuhan hidup manusia, baik individual maupun komunal, baik menyangkut hukum maupun panduan hidup, baik bersifat internal maupun eksternal.

Allah Ta'ala berfirman:

صِبْغَةَ اللّٰهِۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةًۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ

(Peliharalah) sibgah Allah. Siapa yang lebih baik sibgahnya daripada Allah? Hanya kepada-Nya kami menyembah. (Al-Baqarah [2]: 138)

Di sisi lain, bukti-bukti kegagalan aturan hidup buatan manusia seperti demokrasi, liberalisme, sosialisme, kapitalisme, komunisme, tak bisa lagi dipungkiri. Semua produk tersebut memiliki cacat, sehingga tak layak menjadi solusi atas segala permasalahan manusia.

Namun, membangun kembali peradaban Madinah sebagaimana dulu dibangun oleh Rasulullah SAW tentu butuh proses. Dan, proses tersebut akan melewati beberapa tahapan. 

Boleh jadi tahapan demi tahapan akan berlangsung sangat lama. Perlu bersabar, karena melewati tahapan demi tahapan tersebut tidak mudah. Akan selalu ada orang yang akan menghalanginya, dan akan selalu ada pula orang yang terus menerus memperjuangkannya.

Mungkin saja saat ini jumlah orang yang berjuang untuk tegaknya peradaban Islam masih sedikit. Tapi, sebagaimana hadits Rasulullah SAW tadi, lama-lama jumlahnya akan semakin banyak, membesar, hingga terbuktiklah apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW tersebut.

Pertanyaannya, ada di mana kita saat gerakan membangun peradaban Islam itu berlangsung? Apakah kita termasuk kelompok mereka yang berjuang? Atau, setidaknya, kita ikut mendukung gerakan tersebut dengan ikut terlibat aktif dalam harakah Islamiyyah? 

Atau, apakah kita malah menjadi penghambat?  Atau, kita termasuk golongan orang yang tak peduli sama sekali? Apa pun pilihan kita, semua akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala kelak di Hari Bebangkit.

Kita juga tak bisa memaksakan diri secara berlebihan dalam ikut serta menegakkan peradaban mulia itu. Boleh jadi, peradaban mulia itu belum berdiri sepanjang usia kita, atau usia anak cucu kita. Boleh jadi tugas kita hanyalah menjadi bagian dari orang-orang yang mengantarkan saja.

Namun, bila kita sungguh-sungguh ingin menggapai ridho Allah Ta'ala dengan tetap berada dalam barisan jamaah, terus berjuang menyeru kepada jalan yang lurus, lalu istiqomah berada di jalan tersebut, maka itu sudah cukup meskipun peradaban Islam belum tegak. Para malaikat akan mencatatkan dalam buku amal kita sebagai para pemenang.

Allah Ta'ala berfirman:

فَلِذٰلِكَ فَادْعُۚ وَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَۚ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْۚ وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍۚ وَاُمِرْتُ لِاَعْدِلَ بَيْنَكُمْۗ اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۗ لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۗ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَاۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُۗ

Oleh karena itu, serulah (mereka untuk beriman) dan istiqomahlah (tetaplah berada dalam agama Islam dan lanjutkan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Nabi Muhammad), dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Katakanlah, “Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu. Tidak (perlu) ada pertengkaran di antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.” (Asy-Syura [42]: 15). 

Wallahu a'lam. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat