Minggu, 01 Maret 2026

Meneropong Dinamika Hubungan Iran-AS-Israel

Jika hari ini kita melihat hubungan Iran dan Amerika Serikat plus Israel sedang berada pada puncak ketegangan, maka itu tak terjadi secara tiba-tiba. Hubungan ketiga negara itu sebetulnya penuh dinamika dan banyak faktor yang mempengaruhi. Mulai dari perbedaan ideologi, kepentingan geopolitik, hingga persaingan di kawasan Timur Tengah. 


Kita bisa mulai meneropong hubungan ketiga negara tersebut sejak era tahun 1950-an, tepatnya pada Agustus 1953, di mana ketika itu AS membantu penguasa monarki Iran, Shah Mohammad Reza Pahlavi, untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mosaddegh. 

Penggulingan Mosaddegh dilakukan lewat operasi rahasia bernama Ajax, dipimpin oleh CIA (AS) dan didukung penuh oleh MI6 (dinas intelijen Inggris). Mosaddegh akhirnya tumbang dan Shah Reza Pahlavi yang pro-Barat berhasil menguasai Iran secara otoriter meskipun bentuk negara tetap monarki konstitusional. Itulah realitas politik di Iran setelah Pahlavi berkuasa. Kekuasaan raja sangat dominan, oposisi politik dibatasi secara ketat, dan arah kebijakan menjadi sangat pro-Barat sekaligus anti-komunis.

Lalu mengapa AS sangat mendukung --bahkan menjadi operator-- penggulingan Mosaddegh? Jawabnya, karena saat itu AS takut Iran akan mendekat ke Uni Soviet dan menguasai minyaknya sendiri. Apalagi ketika itu dunia sedang terpolarisasi menjadi dua kekuatan utama: Blok Barat dengan motor penggerak AS, dan Blok Timur dengan motor penggerak Uni Sovyet. Masa ini adalah puncak awal masa Perang Dingin.

Kembali ke Iran! Masyarakat Iran sebenarnya tidak sepenuhnya sepakat dengan arah kebijakan pemerintah yang pro-Barat yang digencarkan oleh Syah Pahlavi. Modernisasi yang cepat dan sikap pemerintah yang otoriter justru memicu reaksi balik yang akhirnya meledak dalam Revolusi 1979. Revolusi ini digerakkan oleh Ayatullah Khomeini. 

Dalam revolusi tersebut, Shah Pahlavi berhasil digulingkan dan sistem pemerintahan diubah menjadi Republik Islam Iran. Pemerintah baru ini sangat anti-Barat. Bahkan, mereka melihat AS sebagai kekuatan yang mencoba mengendalikan Iran dan wilayah Muslim. Ini sangat berbeda dengan pemerintahan sebelumnya yang sangat pro AS.

Di sisi lain, pemerintah AS memandang Iran sebagai ancaman karena mendukung kelompok atau milisi yang melawan sekutu AS di Timur Tengah, utamanya Israel. Bahkan, secara umum, bisa disimpulkan bahwa Iran dan Israel menjadi dua kekuatan besar yang mewakili kelompok pro AS dan anti AS di kawasan Timur Tengah ketika itu. 

Dari sinilah seteru Iran dan AS plus Israel dimulai. Iran tentu ingin "menyingkirkan" Israel dan menjadi "penguasa" di kawasan tersebut. Sedang Israel memerlukan bantuan AS agar bisa menguasai Timur Tengah, utamanya menduduki secara utuh Palestina dan Baitul Maqdis, sesuai agenda yang telah mereka rencanakan. Batu sandungan untuk memuluskan agenda ini siapa lagi kalau bukan Iran.

Lantas, apa kepentingan AS di kawasan ini sehingga mereka mati-matian membela sekutunya, Israel? Jawabnya, apalagi kalau bukan faktor ekonomi dan geopolitik. Bahkan, AS sudah mengincar negara-negara di Timur Tengah sejak Perang Dunia II.

Kita tahu bahwa Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Di sisi lain, stabilitas harga minyak global sangat berpengaruh bagi ekonomi AS dan sekutu-sekutunya di Eropa dan Asia. Singkatnya, AS merasa perlu mengendalikan harga dan distribusi minyak dunia. Dan, ini hanya terjadi bila mereka sudah menguasai wilayah Timur Tengah, khususnya Iran.

Selain itu, sejak Perang Dingin (pasca PD II), AS ingin membendung kekuatan rival terberatnya, yakni Uni Soviet yang sekarang menjadi Rusia. Karena itu, AS merasa perlu membangun sejumlah pangkalan militer di kawasan Teluk. Rencana ini sudah hampir berhasil mereka wujudkan. Mereka sudah membangun pangkalan militer dan fasilitas militer di Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Irak, Yordania, dan Uni Emirat Arab.

Yang menarik, AS sendiri tidak membangun pangkalan militer besar-besaran di Israel, sekutu dekatnya. Alasannya, AS merasa militer Israel sudah sangat kuat sehingga tak perlu lagi membangun pangkalan besar di sana. AS hanya membangun pangkalasan kecil di Negev yang berfungsi sebagai sistem radar peringatan dini terhadap rudal balistik dari Iran.

Demikian pula Iran. Meskipun mereka terlihat bersekutu dengan Rusia, namun tak ada pangkalan militer Rusia di Iran. Pangkalan militer Rusia di Timur Tengah hanya terdapat di Suriah. Namun, Rusia menjalin kerja sama militer dengan Iran.

Selain Rusia, Iran juga menjalin hubungan dagang dengan Cina, khususnya minyak. Bahkan, Cina adalah pembeli terbesar minyak mentah Iran. Pada tahun 2025, misalnya, lebih dari 80 persen dari total ekspor minyak Iran dilakukan ke Cina. 

Dengan demikian, ketergantungan Cina kepada Iran cukup tinggi. Cina, sebagai kekuatan ketiga dunia setelah AS dan Rusia, tentu tak akan tinggal diam jika Iran ingin dikuasai oleh AS. Cepat atau lambat --sepertinya-- mereka akan bergerak membantu Iran.

Jadi, kita tunggu saja bagaimana kesudahan kemelut tiga negara ini. * 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat