Jumat, 12 Desember 2025

Muhammad Jusuf Kalla:
Hidayatullah Harus Berada di Antara NU dan Muhammadiyah

Sedianya Suara Hidayatullah sudah dijadwalkan wawancara dengan Muhammad Jusuf Kalla pada Jumat, 10 Oktober 2025 pukul 10.00 WIB. Karena itulah, beberapa saat sebelumnya, dua wartawan dan seorang videografer sudah siap di rumahnya, Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.



Namun, sampai pukul 10.00, Wakil Presiden RI periode 2004-2009 dan 2014-2019 ini belum tampak juga.

"Mohon maaf, bapak sebenarnya sedang sakit. Jadi, bapak perlu waktu agak lama untuk bersiap-siap," kata seorang ajudan dengan ramah.

Menurut sang ajudan, Pak JK --sapaan akrab Jusuf Kalla-- beberapa waktu sebelumnya melakukan lawatan ke Malaysia untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan negara-negara ASEAN. Sepulang dari lawatan itu, ia jatuh sakit.

Tepat pukul 11.00 JK baru keluar. Wajahnya tersenyum meski tampak letih.

"Saya habis dirawat di rumah sakit selama sepekan," katanya sambil menyalami awak Suara Hidayatullah satu per satu. Ia lantas mempersilakan kami duduk.

"Kita hanya punya waktu setengah jam untuk wawancara, karena harus siap-siap shalat Jumat," JK memulai pembicaraan.

Berlangsunglah perbincangan yang santai dan akrab. Banyak hal yang disampaikan oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) tersebut, juga pandangannya tentang organisasi Hidayatullah, tentang kondisi umat Islam di tanah air yang sering kali kalah bersaing di bidang ekonomi, dan tentang kemandirian masjid.

Berikut ini petikan perbincangan dua wartawan, Mahladi Murni dan Ahmad Damanik, serta videografer Ismatullah. Selama mengikuti.*

o0o

Anda sangat sering membahas kemandirian ekonomi umat berbasis masjid. Itu maksudnya seperti apa?

Saya selalu punya visi: Memakmurkan dan dimakmurkan masjid. Bukan hanya membangun dan mengurus masjid, tapi juga memakmurkan masyarakat di sekitarnya lewat gerakan ekonomi umat, UKM di masjid.

Kita sarankan pengurus masjid berpikir ekonomi agar masyarakat menjadi mampu. Kalau tidak, masyarakat tidak bisa bayar zakat atau haji.

Dari lima rukun Islam, dua membutuhkan kemampuan ekonomi, yaitu zakat dan haji. Jadi, membangun kemandirian ekonomi masyarakat adalah bagian dari melengkapi rukun Islam.

Zakat itu berasal dari kemampuan. Kalau masyarakat tidak mampu, zakat tidak akan maksimal. Jangan hanya bicara bayar zakat tapi tidak menggerakkan ekonomi masyarakat. Kita harus mendirikan sekolah, usaha sosial, bahkan bengkel atau restoran. Semua itu bagian dari ekonomi syariah selama tidak melanggar larangan.

Saya bilang, jangan menganggap ekonomi syariah itu membatasi diri. Semua boleh kecuali yang dilarang. Prinsipnya Islam itu modern, mengikuti zaman. Boleh bikin bengkel, restoran, usaha apapun selama halal.

Bagaimana agar masjid tidak hanya jadi tempat shalat semata dan bisa produktif secara ekonomi?

Banyak masjid mendorong kerja sama dengan bank syariah untuk memberdayakan jamaah. Di Makassar, misalnya, kami punya masjid yang membangun kios di halaman masjid, dan saat Jumat orang boleh berdagang di sana.

Zaman Rasulullah SAW, aktivitas ekonomi dekat dengan masjid. Sekarang masjid harus mendorong masyarakatnya untuk produktif, bukan hanya jadi tempat ibadah.

Masjid juga bisa menjalankan ide kreatif, seperti menyalurkan air wudhu ke pembibitan tanaman di halaman masjid, lalu bibit itu dibagikan kepada jamaah. Itu contoh sederhana tapi inspiratif. Saya belajar dari Masjid al-Akbar Surabaya yang melakukan hal serupa.

Kalau di masjid diajarkan nilai zuhud, hidup sederhana, bagaimana korelasinya dengan kemandirian ekonomi?

Bukan hanya kemandirian, tapi juga kemajuan. Kemandirian artinya cukup, sedangkan kemajuan artinya berkembang.

Contoh, Cina bisa maju karena kerja keras dan semangat wirausaha. Kita harus belajar itu. Saya ingin mengubah pikiran umat bahwa surga dicapai bukan hanya dengan zikir, tapi juga dengan usaha. Dunia dan akhirat harus berjalan seimbang.


Berarti persoalan utama kita adalah mindset umat yang harus berubah?

Iya, cara berpikir tentang surga pun harus realistis. Kita selalu berdoa dunia hasanah, akhirat hasanah. Dunia disebut dulu, karena tanpa dunia yang baik, kita sulit menuju akhirat. Karena itu kita harus bekerja keras, bukan hanya berdoa.

Ketidakadilan ekonomi adalah sumber keresahan sosial. Waktu demo-demo kemarin, saya bilang terbuka: masalahnya ketidakadilan ekonomi.

Di Jakarta, yang kaya banyak non-Muslim, yang miskin mayoritas Muslim. Itu bukan salah etnis lain, tapi karena semangat dan daya saing kita kurang. Pemerintah tidak berpihak, tapi izin dan peluang lebih mudah bagi yang punya modal. Jadi solusinya: umat Islam harus menguasai ilmu perdagangan, muamalah, dan teknologi.

Apa harapan besar Anda yang belum terlaksana saat ini?

Saya akan terus berjuang melawan ketidakadilan dengan cara memajukan umat. Saya bikin sekolah-sekolah teknologi di Makassar, tanpa biaya untuk anak-anak, agar mereka siap bersaing.

Umat Islam harus bicara tentang muamalah dan kemajuan, bukan hanya aqidah saja. Saya sering diundang di pertemuan ekonomi syariah, dan selalu saya bilang: Jangan hidup kembali ke abad sistem perdagangan masa lalu. Sekarang zaman teknologi. Kalau ingin maju, kita harus adaptif.

Sekarang kita beralih ke Hidayatullah yang pada Oktober 2025 menggelar Musyawarah Nasional dan sudah memasuki usia setengah abad. Bagaimana kesan Anda selama berinteraksi dengan organisasi ini?

Pertama saya ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan selamat untuk Hidayatullah, seluruh pengurus serta guru-guru yang telah berjuang selama ini di tanah air.

Kalau kita bandingkan dengan banyak orang Islam, Hidayatullah termasuk yang sangat aktif dalam waktu yang cukup lama, setengah abad, dan mempunyai gerakan dakwah amal ibadah ke seluruh Indonesia. Hanya organisasi yang pengurusnya ulet, mempunyai niat yang baik, amal ibadah yang baik, dan sistem yang baik yang dapat menjalankan amal ibadah seperti itu.

Anda banyak menjadi penasihat dimana-mana, banyak usulan para senior agar Anda bisa menjadi penasihat di Hidayatullah. Bagaimana?

Penasihat itu tentu kita jalankan dalam posisi apapun. Saya banyak menjadi penasihat. Dulu di NU menjadi Mustasyar, di Muhammadiyah pun saya banyak bergaul, dan memberikan pandangan di beberapa perguruan tinggi Islam dan nasional. Akhirnya tanpa resmi pun saya selalu memberi nasihat. Tidak perlu masuk dalam struktur. Karena itu saya kebanyakan ikut organisasi tapi tanpa hubungan formal, tetap tampak dalam kontribusi.

Melihat pengalaman Anda sebagai penasihat di banyak ormas Islam, apa perbedaan paling mencolok antara Hidayatullah dengan ormas-ormas Islam lain?

Hidayatullah harus berada antara NU dan Muhammadiyah. Artinya, dakwahnya jalan sampai ke pelosok, sekaligus pendidikan dan usaha sosialnya berjalan dengan baik seperti Muhammadiyah.

Kita umat Islam sekarang harus memikirkan ulang apa yang kita lakukan. Waktu kedatangan pengurus Hidayatullah beberapa waktu lalu, saya sampaikan bahwa kita harus menggabungkan keimanan dan keislaman dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dua-duanya harus berjalan bersamaan. Tanpa itu dakwah kita tinggi, tapi bangsa ini tidak akan cepat maju.

Pengalaman di berbagai negara Islam menunjukkan ketertinggalan dan sangat tergantung pada negara-negara non-Islam. Negara-negara di Timur Tengah pun sangat ketinggalan dan tergantung pada Amerika atau Eropa.

Genosida di Gaza menunjukkan bahwa teknologi menjadi senjata besar untuk menghancurkan Palestina. Karena itu gerakan Islam harus seimbang — dakwah dan ilmu pengetahuan.

Harus seimbang antara iman dan kemajuan?

Saya bilang, setiap pesantren atau sekolah-sekolah Islam harus menyeimbangkan dua hal: Penguasaan ilmu dan keagamaan. Tanpa penguasaan ilmu, kita tidak bisa maju. Tapi tanpa keagamaan, akhlak kita akan berkurang. Jangan hanya bicara keimanan dan akhlak, tapi juga bicara muamalah. Ketertinggalan kita salah satunya di bidang ekonomi.

Kita boleh besar dalam organisasi, tapi kalah di bidang ekonomi dan kemajuan generasi. Selama ini kita selalu berbicara masa lalu saja — dulu Islam hebat dalam kedokteran, dalam kimia — tapi kita lalai menatap masa depan.

Saya selalu menerima Majalah Suara Hidayatullah setiap bulan. Media itu sekarang berubah cepat. Dulu kita dengar hanya radio, lalu radio dimatikan oleh TV, lalu TV dimatikan oleh medsos.

Jadi, majalah tentu masih bisa karena bisa dibaca berulang-ulang. Tapi isi majalah harus menunjukkan kemajuan umat. Bukan hanya bicara aqidah dan ibadah, tapi juga muamalah dan kemasyarakatan. Kalau media majalah kita rutin sampai semua bagus, itu luar biasa.

Anda pernah mengatakan Hidayatullah itu ormas Islam yang cukup cepat perkembangannya. Maksudnya apa?

Iya, saya mengikuti dari awal saat didirikan di Kota Makassar. Ustadz pendirinya melakukan perlawanan terhadap kemerosotan moral. Walaupun bentuknya keras, tapi semangatnya menunjukkan nahi munkar.

Perkembangan Hidayatullah cepat karena militansinya. Ia mengisi kekosongan dakwah di daerah-daerah terpencil, di mana ruang kosong dakwah terbuka luas. Dari situ Hidayatullah tumbuh cepat, berbeda dengan ormas yang hanya fokus di kota.

Kita beralih lagi ke kiprah Anda di Dewan Masjid Indonesia (DMI). DMI berencana membangun masjid di Gaza, Palestina. Bagaimana target dan realisasi program ini?

Jadi, kita berencana membangun sampai 100 masjid (di Gaza), apabila semua masjid Indonesia mendukung program ini (lewat donasi). Masjid-masjid (yang akan dibangun) itu memang sekarang belum utuh (baru sebagian yang dibangun), karena belum sempat. Tapi jutaan orang (di Gaza telah) mengungsi, tidak punya masjid, sedangkan 1000 masjid telah dihancurkan. Oleh karena itulah maka kita targetnya 100. Dalam waktu singkat ini kita kirim tim untuk bersama-sama.

Anda menyebutkan target 100 masjid, sementara di awal ada 10 masjid semi permanen. Apakah ini artinya fokus DMI sekarang adalah membangun masjid-masjid darurat untuk para pengungsi?

Ya, betul sekali. Sekarang ini situasinya sangat darurat. Prioritas utama kita adalah menyediakan tempat shalat yang layak bagi para pengungsi. Itulah mengapa kita menargetkan 10 masjid semi permanen ini bisa berdiri cepat selama Ramadan. Ini adalah bentuk respons segera. Setelah situasi lebih tenang, barulah kita akan lanjutkan dengan pembangunan permanen.

Bagaimana mekanisme penyaluran dana dari Indonesia agar dipastikan aman dan tepat sasaran sampai ke Gaza?

Kita telah menjalin komunikasi intensif dengan pihak-pihak terpercaya di Gaza. Kita tidak bekerja sendirian, tetapi bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki akses dan jaringan di sana, yang mampu memastikan material dan tenaga kerja bisa masuk. Tim dari DMI juga akan terus memantau pelaksanaannya. Tujuannya jelas, dana dari infak dan sedekah jamaah di Indonesia harus 100% tersalurkan untuk pembangunan tempat ibadah.

Apa harapan terbesar Anda dari program pembangunan 100 masjid ini bagi hubungan Indonesia dan Palestina?

Harapan kami, ini adalah simbol solidaritas umat Muslim Indonesia yang sangat kuat. Masjid bukan hanya tempat shalat, tapi pusat komunitas dan semangat. Dengan membangun kembali masjid, kita tidak hanya memberikan tempat ibadah, tetapi juga membangun kembali harapan dan kekuatan spiritual bagi saudara-saudara kita di Gaza. Ini adalah pesan bahwa Indonesia selalu bersama Palestina.*

(Diterbitkan oleh Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2025)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat