Laman

Senin, 22 Juni 2026

Hati-hati dengan Isti'jal

Menurut bahasa, kata isti'jal, i'jal, dan ta'ajul memiliki satu arti, yaitu menuntut sesuatu dikerjakan atau diselesaikan dengan cepat (segera). Bahasa sederhananya adalah tergesa-gesa atau terburu-buru. 


Istilah ini juga terdapat dalam al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman, "Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami bergelimang di dalam kesesatan mereka." (Yunus [10] ayat 11)

Ayat di atas maksudnya jikalau Allah Ta'ala bermaksud mempercepat pembalasan kejahatan manusia ketika mereka meminta dipercepat datangnya azab tersebut kepada diri mereka sendiri, atau istri mereka dan anak-anak mereka, seperti halnya ketika mereka meminta dipercepat datangnya kebaikan dan rahmat, niscaya Allah Ta'ala akan sampaikan ajal kepada mereka. 

Dalam istilah dakwah, isti'jal berarti mengubah kondisi atau realita kehidupan kaum Muslimin dalam waktu sekejap. Biasanya, isti'jal dilakukan tanpa memperhatikan akibat, kondisi, situasi, dan tanpa persiapan yang matang, apalagi mempertimbangkan cara dan sarana yang digunakan.

Sebenarnya, ketergesa-gesaan adalah tabiat manusia. Hal ini telah disampaikan Allah Ta'ala dalam firman-Nya, "Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak Aku akan memperlihatkan kepadamu (azab yang menjadi) tanda-tanda (kekuasaan)- Ku. Maka, janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya," (Al-Anbiya' [21]: 37).

Namun, tak semua ketergesa-gesaan berdampak negatif. Ada pula yang bersifat positif. Karena itu Islam memandang isti'jal secara adil dan moderat, tidak memujinya secara keseluruhan dan tidak mencelanya secara keseluruhan. Islam memuji sebagian dan mencela sebagian yang lain.

Isti'jal yang terpuji dilakukan setelah dipertimbangkan secara cermat akibat-akibatnya, setelah diketahui kondisinya, dan setelah dipersiapkan berbagai persiapan untuk menghadapinya.  

Adapun isti'jal yang tercela ialah bila dilakukan semata-mata berdasarkan keinginan tanpa mempertimbangkan akibat yang ditimbulkannya, kondisi yang melatarbelakangi, dan persiapan yang matang.

Bentuk-bentuk Isti'jal

Isti'jal dalam harakah Islamiyyah bisa kita bagi dalam beberapa bentuk, di antaranya, pertama, merekrut banyak orang untuk menjadi kafilah juru dakwah sebelum mengetahui kredibilitasnya, kemampuannya, persiapan serta kesiapannya.

Kedua, mengangkat sebagian kader ke posisi yang tinggi sebelum matang dengan sempurna dan sebelum lurus kepribadiannya. 

Sedang ketiga, melakukan tindakan-tindakan secara serampangan (gegabah) yang membahayakan dakwah dan tidak berfaedah.

Sebab-sebab Isti'jal

Adapun sebab-sebab seorang aktivis terserang penyakit isti'jal, di antaranya karena dorongan nafsu yang tidak terkendali. Bisa juga karena semangat yang menggebu-gebu atau iman yang menyala-nyala. 

Iman, bila sudah menghujam kokoh dalam hati, biasanya akan tumbuh kekuatan yang besar dan semangat yang menggebu-gebu. Apabila semangat ini tidak dikendalikan dan diarahkan maka bisa mendorong seseorang melakukan aktivitas yang kurang terkontrol. Akibatnya, akan timbul madharat yang lebih banyak ketimbang manfaatnya.

Rasulullah SAW sendiri, pada periode Makkah, tak bosan-bosannya meminta kepada para sahabatnya agar bersabar dan menahan diri untuk tidak terjebak pada sikap isti'jal meskipun mereka terpaksa menanggung beban dan penderitaan yang berat. 

Hal ini dikisahkan dalam al-Qur'an, "Bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (Al-Muzzammil 10).

Adakalanya ulah musuh-musuh Islam memicu terjadinya isti'jal. Saat ini tiada hari tanpa gangguan musuh-musuh Islam. Mereka berupaya membungkam suara-suara dakwah yang hendak menegakkan kebenaran. Jika tak hati-hati maka para aktivis akan tergoda untuk merespon gangguan tersebut secara cepat, tergesa-gesa, dan tanpa perhitungan matang. Apalagi bila kita tak mengetahui taktik musuh dalam merobohkan Islam.

Begitu juga ketika kita melihat banyak sekali kemungkaran namun tidak mengerti bagaimana memperbaikinya. Perlu dipahami bahwa tidak setiap kemungkaran harus diberantas sekaligus dan serta-merta. Jika harus diberantas maka pastikan bahwa upaya tersebut tidak mendatangkan kemungkaran atau kerusakan yang lebih besar. 

Jika mendatangkan kerusakan yang lebih besar maka cepatlah dihentikan meskipun hati tetap membencinya dan memutuskan hubungan dengannya sambil mencari metode yang paling tepat untuk memberantasnya. 

Sebab lainnya adalah tabiat waktu. Kita tahu bahwa manusia diberi jatah hidup oleh Allah Ta'ala dalam waktu yang tidak lama. Sering kali kita merasa waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru kemarin kita duduk di bangku sekolah dasar, rupanya sekarang sudah kuliah di perguruan tinggi. Begitulah tabiat waktu, terasa berjalan begitu cepat.

Tabiat waktu seperti ini seringkali mendorong para aktivis untuk bersikap isti'jal. Mereka merasa berlomba-lomba dengan waktu sehingga terpaksa harus "berlari kencang".

Sebab lain yang tak kalah berbahaya dari isti'jal adalah rasa tidak mampu menanggung beban dan penderitaan. Seringkali sebagian aktivis memiliki keberanian dan semangat yang tinggi untuk melakukan amalan yang bersifat insidentil (berkala), namun ketika menghadapi bahaya maut, mereka tak siap menanggung beban dan penderitaan. Akibatnya, mereka bertindak terburu-buru agar bisa segera terlepas dari beban. Mereka tak ingin menanggung beban dalam waktu yang lama.

Seharusnya, pejuang sejati tetap kuat meski berpuluh-puluh kali disakiti dan mengalami penderitaan. Mereka tetap bersabar menanggung semua beban karena tahu keadaan mereka belum memungkinkan untuk banyak berbuat, waktunya belum tepat, persiapan masih matang, hasilnya nanti tidak akan terpuji. 

Wallahu a'lam.


BACA JUGA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat