Laman

Senin, 22 Juni 2026

Hati-hati dengan Isti'jal

Cepat belum tentu baik. Apalagi bila kita memaksakan diri untuk menyelesaikan tugas secara cepat agar segera memperoleh hasil, lantas bertindak tergesa-gesa atau terburu-buru.  


Hati-hati! Tindakan seperti ini, dalam beberapa hal, justru bisa menimbulkan dampak buruk. Bahkan, dalam waktu yang lama dan skala yang lebih besar, bisa membelokkan arah tujuan hidup dari jalan yang lurus ke jalan yang bengkok. Islam mengistilahkan ketergesa-gesaan seperti ini dengan isti'jal.

Isti'jal tidak hanya menyerang orang-orang awam. Para aktivis dakwah pun bisa terjebak dalam perbuatan isti'jal. Misalnya, mereka ingin sekali mengubah kondisi atau realita kehidupan kaum Muslimin dalam waktu cepat. Mereka tidak memperhatikan akibat, tidak pula melihat situasi dan kondisi. Mereka bertindak tergesa-gesa tanpa persiapan yang matang.

Sering kali pula para aktivis dakwah merekrut banyak orang untuk menjadi juru dakwah sebelum mengetahui kredibilitasnya, kemampuannya, persiapannya, serta kesiapannya. Dalam pikiran mereka, bila jumlah orang yang berdakwah banyak maka tujuan dakwah akan cepat terlaksana. Atau, mereka mengangkat sebagian aktivis ke posisi yang tinggi sebelum matang dengan sempurna dan sebelum lurus kepribadiannya. Semua ini adalah bentuk ketergesa-gesaan.

Kata isti'jal terdapat juga dalam al-Qur'an. "Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan (yu'ajjilu) keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan (isti'jal) kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami bergelimang di dalam kesesatan mereka
." (Yunus [10] ayat 11)

Ayat di atas maksudnya jikalau Allah Ta'ala bermaksud mempercepat pembalasan kejahatan manusia ketika mereka meminta dipercepat datangnya azab tersebut kepada diri mereka sendiri, atau istri mereka dan anak-anak mereka, seperti halnya ketika mereka meminta dipercepat datangnya kebaikan dan rahmat, niscaya Allah Ta'ala akan sampaikan ajal kepada mereka.

Sebenarnya, ketergesa-gesaan adalah tabiat manusia. Hal ini telah disampaikan Allah Ta'ala dalam firman-Nya, "Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa ('ajali). Kelak Aku akan memperlihatkan kepadamu (azab yang menjadi) tanda-tanda (kekuasaan)- Ku. Maka, janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya," (Al-Anbiya' [21]: 37).

Memang, tak semua ketergesa-gesaan berdampak negatif. Ada pula yang bersifat positif. Yakni ketika ketergesa-gesaan itu telah mempertimbangkan secara cermat akibat-akibatnya, dan telah diketahui kondisinya, serta telah dipersiapkan berbagai hal untuk menghadapi dampaknya.

Karena itu Islam memandang isti'jal secara adil dan moderat, tidak memujinya secara keseluruhan dan tidak pula mencelanya secara keseluruhan. Islam memuji sebagian dan mencela sebagian yang lain.

Sebab-sebab Isti'jal

Mengapa seseorang bisa terjebak dalam perbuatan isti'jal? Jawabnya, karena dorongan nafsu yang tidak terkendali, atau semangat yang terlalu menggebu-gebu. Biasanya, tindakan seperti ini menyebabkan seseorang kurang terkontrol sehingga timbulah mudharat yang lebih banyak ketimbang manfaatnya.

Rasulullah SAW sendiri, pada periode Makkah, tak bosan-bosannya meminta kepada para sahabatnya agar bersabar dan menahan diri untuk tidak terjebak pada sikap isti'jal meskipun mereka terpaksa menanggung beban dan penderitaan yang berat.

Hal ini dikisahkan dalam al-Qur'an, "Bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (Al-Muzzammil 10).

Adakalanya ulah musuh-musuh Islam memicu terjadinya isti'jal. Saat ini tiada hari tanpa gangguan musuh-musuh Islam. Mereka berupaya membungkam suara-suara dakwah yang hendak menegakkan kebenaran.

Jika tak hati-hati maka para aktivis akan tergoda untuk merespon gangguan tersebut secara cepat, tergesa-gesa, dan tanpa perhitungan matang. Apalagi bila kita tak mengetahui taktik musuh dalam merobohkan Islam.

Begitu juga ketika kita melihat banyak sekali kemungkaran namun tidak mengerti bagaimana memperbaikinya. Perlu dipahami bahwa tidak setiap kemungkaran harus diberantas sekaligus dan serta-merta. Jika harus diberantas maka pastikan bahwa upaya tersebut tidak mendatangkan kemungkaran atau kerusakan yang lebih besar.

Jika mendatangkan kerusakan yang lebih besar maka cepatlah dihentikan meskipun hati tetap membencinya dan memutuskan hubungan dengannya sambil mencari metode yang paling tepat untuk memberantasnya.

Sebab lainnya, menurut DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah Atas Penyakit Mental dan Sosial Kontemporer Para Dai, adalah tabiat waktu. Kita tahu bahwa manusia diberi jatah hidup oleh Allah Ta'ala tidak lama. Sering kali kita merasa waktu berjalan sangat cepat. Akibatnya, kita terdorong untuk "berlari kencang" alias bertindak tergesa-gesa.

Sebab lain yang tak kalah berbahaya dari isti'jal adalah rasa tidak mampu menanggung beban dan penderitaan. Seringkali sebagian aktivis dakwah memiliki keberanian dan semangat yang tinggi untuk melakukan amalan yang bersifat insidentil (berkala), namun ketika menghadapi bahaya maut, mereka tak siap menanggung beban dan penderitaan. Akibatnya, mereka bertindak terburu-buru agar bisa segera terlepas dari beban. Mereka tak ingin menanggung beban dalam waktu yang lama.

Seharusnya, pejuang sejati tetap kuat meski berpuluh-puluh kali disakiti dan mengalami penderitaan. Mereka tetap bersabar menanggung semua beban karena tahu keadaan mereka belum memungkinkan untuk banyak berbuat, waktunya belum tepat, persiapan masih belum matang, dan bila dipaksakan maka hasilnya tidak akan terpuji.

Wallahu a'lam.


BACA JUGA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat