Laman

Senin, 22 September 2025

Ketika Titus Hampir Menyerah Menghadapi Tembok Yerusalem

Titus, yang sebelumnya tidak pernah berkunjung ke Yerusalem, merasa terkejut. Kota yang dikelilingi tembok tinggi berlapis ini ternyata mempesona. Putra Kaisar Romawi, Vespasianus, ini memandang Yerusalem dari atas Bukit Scopus (Mount Scopus) yang terletak di sebelah timur Kota Tua Yerusalem. Ia tertegun.


Namun, kedatangan Titus bersama 70 ribu pasukan Romawi bersenjata lengkap ke Yerusalem pada 14 April 70 M tersebut bukan untuk berlibur. Mereka mendapat tugas dari Sang Kaisar, ayah dari Titus, untuk menaklukkan Yerusalem. 

Hari itu, Kota Yerusalem lebih ramai dibanding biasanya. Peringatan Paskah Yahudi tak lama lagi akan dilangsungkan. Para peziarah Yahudi sudah mulai memadati kota. Saat itulah Titus dan pasukannya datang, mengamati kota tersebut dari atas Bukit Scopus.  


Bagi Titus, bukan perkara mudah menaklukkan Yerusalem. Sebab, pertahanan Yerusalem sangat kuat. Menurut catatan sejarawan Yahudi-Romawi, Flavius Yosefus, kota itu dikelilingi tiga lapis tembok. Pertama, lapisan paling dalam sekaligus paling kuno atau paling awal dibangun. 

Lapisan kedua mengelililingi area baru di bagian utara kota. Ketiga, berdiri di bagian terluar kota, dibangun pada zaman Raja Herodes Agrippa I (41-44 Masehi),

Di dalam tembok lapisan pertama terdapat benteng Antonia. Tak jauh dari Benteng Antonia ada Bait Suci ---yang sering disebut Bait Suci Kedua karena Bait Suci Pertama telah dirubuhkan oleh pasukan Nebukadnezar pada tahun 586 SM--- berdiri sangat kokoh. Ini adalah pusat ibadah kaum Yahudi pada masa itu.

Tembok yang mengelilingi Kota Tua ini sebenarnya sudah dibangun sejak masa Nabi Daud, atau abad ke-10 SM. Hanya saja, kala itu, masih sederhana. Kota Daud yang dikelilingi oleh tembok pertama masih lebih kecil dibanding Kota Tua. Posisinya di sekitar bukit sempit di sebelah selatan Yerusalem.

Pada abad ke-8 SM, Raja Hizkia, penguasa kerajaan Yehuda, membangun tembok tebal (The Broad Wall) di bagian barat Yerusalem. Tebalnya mencapai 7 meter. Tujuannya untuk melindungi Yerusalem dari serangan pasukan Asyur. Para sejarawan kemudian menyimpulkan bahwa tembok ini menjadi cikal bakal berdirinya tembok kedua dalam sistem pertahanan Yerusalem, meskipun secara umum tembok kedua berada di sebelah utara kota setelah era perluasan.  

Kemudian, sebelum masa Titus, Kaisar Herodes Agung, yang menguasai Yerusalem pada abad ke-1 SM, memperkuat kedua tembok ini dengan menara-menara penjagaan. Setelah itu, Raja Herodes Agripa I (41-44 M) membangun tembok ketiga. Namun pembangunan ini sempat terhenti dan diteruskan oleh orang-orang Yahudi ketika ketegangan antara mereka dengan pasukan Romawi semakin meningkat.

Sambil memandang ke arah kota al-Quds di atas Bukit Scopus, Titus berpikir bagaimana cara menaklukkan kota itu? Tembok-tembok itu terlalu tinggi dan berlapis-lapis. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk membangun tanggul dan mempersiapkan mesin pelontar batu untuk menghantam tembok.


Pada akhir April tahun 70 M, menurut catatan Yosefus, Romawi mulai melancarkan serangan. Serangan bertubi-tubi tersebut hanya bisa menembus tembok paling luar (tembok ketiga) pada awal Mei 70 M. 

Pada bulan itu juga Romawi kembali melancarkan serangan hebat. Kali ini yang dituju adalah tembok kedua atau tembok lapisan tengah. Namun, serangan ini dibalas oleh pasukan Yahudi dengan perlawanan sengit. Menjelang akhir Mei, barulah tembok kedua bisa ditembus. Tapi, mereka belum berhasil membobol tembok paling dalam, yakni tembok pertama.

Selama bulan Juni, tentara Romawi mencoba melakukan pengepungan secara total, namun tetap saja tembok pertama tak bisa dibobol. Titus hampir saja putus asa melihat begitu kuatnya pertahanan tembok pertama ini sementara kerugian di kubu Romawi sudah begitu banyak. Beberapa mesin perang Romawi berhasil dibakar oleh tentara Yahudi. Jika perang tak segera dimenangkan, boleh jadi Romawi akan pulang sebagai pecundang karena "kehabisan nafas".

Titus paham betul akan hal ini. Karena itu, ia berpikir ulang untuk kembali melakukan serangan besar-besaran. Ia mengubah taktik serangan. Kali ini ia memerintahkan pasukannya membangun tembok pengepung (circumvallation) mengelilingi seluruh Yerusalem (panjang ±7 km). Tujuannya agar tidak ada warga Yahudi yang bisa keluar dari benteng dan kabur, atau sebaliknya, tak ada juga yang bisa masuk. Cara ini otomatis memutus jalur pasokan makanan ke dalam kota.

Maka, menurut catatan Flavius Josephus, pasukan Romawi membangun tembok pengepungan sepanjang 7 km mengelilingi Kota Yerusalem, plus 13 menara pengawas, pos penjagaan, dan parit, hanya dalam waktu tiga hari saja. Ini dilakukan sekitar akhir Juni 70 M.

Pekerjaan cepat seperti ini bisa mereka lakukan karena di dalam pasukan Romawi bukan sekadar berisi para petarung saja, tetapi juga terdapat tukang bangunan, insinyur lapangan, dan pekerja logistik.

Lagi pula, bukan sekali ini saja mereka lakukan. Flavius Josephus mencatat beberapa kali pasukan Romawi membuat bangunan besar dalam waktu singkat saat berperang. Salah satu contoh di dalam Perang Galia di masa Julius Caesar, pasukan Romawi sanggup membangun dua lapis tembok pengepungan di Alesia sepanjang puluhan kilometer hanya dalam beberapa hari saja.


Kembali ke cerita pengepungan oleh pasukan Titus. Taktik blokade ini rupanya berhasil. Tentara Yahudi bersama warga yang tinggal di dalam tembok mengalami kelaparan hebat. Suplai makanan dan air terputus. Mereka terkurung di dalam kota tanpa bisa berbuat apa-apa. Apalagi di internal Yahudi di dalam kota juga terdapat konflik. Kelompok Zealot dan berbagai faksi yang lain justru saling bertikai. Ini semakin memperlemah pertahanan Yahudi.

Ketika tentara dan warga Yahudi sudah lemah, pada bulan Juli 70 M, tentara Romawi baru melancarkan serangan kembali. Serangan kali ini diawali oleh aksi heroik dan dramatis sekelompok kecil tentara Romawi pada malam hari. Flavius Josephus menulis, sekelompok kecil ini memanjat reruntuhan, menyusup tanpa terdeteksi, membunuh para penjaga, menguasai posisi atas benteng Antonia, lalu berusaha menghancurkan bagian benteng untuk membuka jalan pasukan yang lebih besar agar bisa masuk.

Kemudian, awal Agustus 70 M, tak ada lagi halangan untuk menyerbu ke dalam benteng. Terjadilah pembunuhan besar-besaran. Flavius Josephus mencatat jumlah total Yahudi yang dibunuh dari perang ini mencapai 1,1 juta orang. Sisanya, sekitar 97 ribu orang, ditawan. Bahkan, Haikal Sulaiman yang sempat dibangun kembali pada masa Raja Darius, tempat yang paling dianggap suci oleh kaum Yahudi, berhasil dibakar.

Tanggal 8 September 70 M, seluruh Yerusalem jatuh ke tangan Romawi. Setelah sebagian besar tembok runtuh, dan kota Yerusalem rata dengan tanah, Romawi tak pernah membangunnya kembali. Titus hanya membiarkan sebagian kecil dari tembok tersebut tetap berdiri. Yakni, tembok di sisi barat yang kemudian dikenal dengan Tembok Ratapan (Western Wall), bukan untuk menghormati, melainkan sekadar penanda bahwa kota itu telah mereka taklukkan.  Inilah awal diaspora Yahudi yang lebih luas. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat