Laman

Kamis, 02 April 2026

Jurnalis dan Keberpihakan

Awalnya, tugas seorang wartawan adalah memberikan informasi tentang apa yang ia lihat dan ia dengar. Dari informasi inilah masyarakat yang semula tidak tahu menjadi tahu.


Namun, seiring berjalannya waktu, seorang wartawan dituntut untuk lebih dari sekadar melaporkan. Ia juga harus mampu memilih sudut pandang yang benar tentang suatu peristiwa atau fakta. Ini yang membuat seorang wartawan pada akhirnya tidak netral.

Lalu, apakah ini salah? Tidak! Harus dipahami bahwa pekerjaan wartawan adalah pekerjaan intelektual. Sebagai pekerja intelektual, harus ada ide dan gagasan. Ini menuntut keberpihakan, tak mungkin sekadar memaparkan fakta apa adanya. Dan, keberpihakan itu melahirkan idealisme, sehingga lahirlah individu yang punya integritas yang baik.

Lagi pula, tidak ada di dunia ini yang netral. Semuanya ada misi, ada pemihakan. Bahkan, karena keberpihakan itulah maka fungsi jurnalisme sebagai pilar keempat demokrasi akan berjalan dengan baik, sebagaimana disebutkan oleh Edmund Burke pada abad ke-18 di depan sidang parlemen Inggris. Menurutnya, negara seharusnya dikontrol oleh idealisme seorang wartawan.

Hanya saja saat ini pers menjadi korporat. Individu seorang wartawan tak lagi diperhitungkan. Ia tenggelam dalam roda bisnis yang menggelinding. Ia hanya menjadi bagian kecil dari sebuah perusahaan yang punya kepentingan. Kekuatan keempat sudah dirampas oleh bisnis dan kepentingan.

Tapi kini dunia kembali berubah. Perkembanga teknologi informasi melaju melampaui harapan sebagian orang. Monopoli informasi tak lagi dipegang oleh para wartawan, apalagi perusahaan pers. Tapi, disaingi secara ketat oleh aplikasi ngobrol bernama media sosial. 

Artinya, siapa saja kini bisa membuat kabar sekaligus mempublikasikannya. Bahkan, seringkali kabar dari masyarakat ---lewat media sosial--- lebih cepat, lebih banyak, lebih lengkap, dan lebih bombastis dan emosional. Tak heran bila survei menunjukkan 59 persen masyarakat mendapatkan informasi bukan lagi dari kerja-kerja jurnalistik, namun dari media sosial. Hanya 6,3 persen saja masyarakat yang masih mencari informasi lewat media pers.

Ini semua memberikan gambaran kepada kita bagaimana pergeseran media informasi, baik pembuat informasi maupun penikmat informasi. Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi semua ini? Kita akan kupas nanti! ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat