Laman

▼

Minggu, 20 September 2026

Syirik Kecil Bernama Riya', Hati-hatilah!

Ketika Anda shalat sendirian di rumah, pernahkah Anda tergoda untuk cepat-cepat menyelesaikannya tanpa tuma'ninah, bahkan mengenakan pakaian seadanya sebagaimana Anda kenakan saat tidur?


Lalu, saat Anda shalat di masjid, apakah Anda berlaku sebaliknya: mengenakan pakaian yang bagus dengan gerakan yang terlihat khusuk?

Jika ya, maka hati-hatilah! Boleh jadi tindakan seperti ini adalah isyarat bahwa di dalam jiwa Anda mulai tumbuh bibit-bibit penyakit. Jika dibaiarkan terus maka ia akan menjelma menjadi penyakit yang sangat serius bernama riya'.

Seberapa serius penyakit ini? Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengidentikkan penyakit ini dengan syirik. "Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada kalian semua adalah syirik kecil," kata Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabatnya pada suatu ketika.

Para sahabat bertanya, sebagai mana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad (nomor 23630), dari Mahmud bin Labid, "Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya".

Riya' berasal dari kata araa (melihat) dan riya 'un (memperlihatkan). Dengan begitu riya' berarti memperlihatkan atau memamerkan amal shaleh kepada orang lain dengan maksud untuk mencari kedudukan (pamrih) di antara mereka. 

Allah Ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Az-Zuhd bab: Ar-Riya, wa As-Sum'ah, "Aku tidak perlu didukung oleh sekutu. Barangsiapa yang mempersekutukan Aku dalam beramal, maka Aku berlepas diri darinya. Dan amal tersebut hanya tercurah pada kesyirikan (tidak untuk-Ku)."

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa pada hari kiamat ketika Allah 'Azza wa Jalla membalas (amal) hamba-hamba-Nya, Dia berfirman kepada orang-orang yang berbuat riya', "Pergilah kalian kepada orang yang kalian pameri amal-amalmu, adakah kalian mendapat imbalan dari mereka?" Betapa rugi orang-orang yang dijangkiti penyakit ini.

Penyakit lain yang serumpun dengan riya' adalah sum'ah. Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bary juz 11, sum'ah berasal dari kata sami'a yang berarti "mendengar". Jadi, bila riya' berarti memperlihatkan amalnya, maka sum'ah berarti memperdengarkan apa yang telah diamalkan, yang sebelumnya tersembunyi atau rahasia.

Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya (sum'ah) dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia." (Al-Baqarah [2]: 264),

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa memperdengarkan amalnya (agar dipuji), Allah akan memperdengarkan aibnya; dan barang siapa berbuat riya’, Allah akan menampakkan riya’-nya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Menurut DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya berjudul Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah Atas Penyakit Mental dan Sosial Kontemporer Para Dai, ada beberapa tanda yang harus diwaspadai seseorang yang telah terjangkiti riya'. 

Pertama, bila disanjung ia akan bersemangat beramal, tapi bila dicela atau tidak ada sanjungan sama sekali, ia tidak akan beramal.

Kedua, bila ada di tengah orang, dia giat beramal. Namun, bila sendirian, dia menjadi malas. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, "Tanda-tanda orang berbuat riya' adalah malas (beramal) bila dia sendirian, dan bersungguh-sungguh bila ada di tengah-tengah orang. Dia akan menambah amalannya bila dipuji, dan akan melanggar larangan bila sendirian." (Al-Ghazali dalam Al-Ihya').

Ketiga, berpura-pura shaleh dan menjauhi larangan Allah bila berada di tengah-tengah orang lain, dan melanggar larangan bila sendirian. Rasulullah SAW bersabda, "Aku beritahukan tentang kaum-kaum umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan seperti gunung-gunung Makkah yang putih. Namun Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu sebagai debu yang berhamburan. Bukankah mereka saudara-saudaramu juga? Mereka bangun di tengah malam sebagaimana kalian beribadah di tengah malam. Akan tetapi bila mereka sendirian, mereka akan melanggar larangan Allah." (Riwayat Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab Az-Zuhd, bab: Dzikru Adz-Dzunub).

Perbuatan riya' dan sum'ah bisa terjadi pada siapa saja, bahkan seorang aktivis dakwah sekalipun bisa tanpa sadar terjebak melakukannya. Mari kita ambil pelajaran dari kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, Kitab Al-Imarah, bab: Man qatala li Ar-Riya' wa as-Sum'ah isfahaqqa an-nar dari hadits Abu Hurairah.

Sesungguhnya, tulis Imam Muslim, manusia yang pertama kali mendapat keputusan hukum dari Allah Ta'ala adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Ketika amal syahidnya diperlihatkan kepadanya, dan ia mengetahui bahwa itu adalah amalnya sendiri, maka Allah Ta'ala bertanya kepadanya, "Apa yang telah engkau perbuat (niatkan dalam hatimu)?"  Orang tersebut menjawab, "Aku turut berperang karena Engkau ya Allah, sehingga aku mati syahid." 

Allah Ta'ala kemudian berkata, "Dusta engkau. Sesungguhnya engkau berjuang tidak lain agar engkau disebut pemberani." Maka, Allah Ta'ala pun memerintahkan agar orang tersebut dilemparkan ke dalam neraka.

Setelah itu orang yang mencari ilmu dan mengajarkannya serta gemar membaca al-Qur'an dihadapkan kepada Allah Ta'ala, lalu ditunjukkan kepadanya amal-amalannya. Orang itu pun mengenal bahwa itu amalnya sendiri. Lalu Allah Ta'ala bertanya kepadanya, "Untuk apa engkau melakukan itu semua?" la menjawab, "Saya melakukan amal tersebut demi Engkau Ya Allah." 

Allah Ta'ala berkata, "Dusta engkau. Dirimu mencari ilmu agar disebut sebagai alim, dan engkau membaca al-Qur'an agar engkau disebut qari' yang baik." Maka diperintahkan oleh Allah Ta'ala agar dia dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian ada pula orang yang diluaskan rezekinya dan diberi berbagai macam nikmat, lalu orang tersebut pun ditanya oleh Allah Ta'ala , "Apa yang telah kau perbuat dengan nikmat tersebut?" Orang itu menjawab, "Hamba tidak pernah meninggalkan perbuatan baik yang Engkau sukai, kecuali aku infakkan demi (mencari ridha) Engkau." 

Allah Ta'ala berkata, "Dusta engkau. Engkau lakukan hal itu agar disebut dermawan." Maka Allah Ta'ala perintahkan agar orang tersebut dijebloskan ke dalam neraka.

Demikianlah nasib orang-orang yang dihinggapi penyakit riya' dan sum'ah. Orang yang berbuat riya' dan sum'ah sesungguhnya telah menjadikan amalnya tersebut terbagi dua: bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain, bukan Lillahi Ta'ala (bagi Allah semata). 

Lalu bagaimana mungkin Allah Ta'ala menerima amaliah orang-orang semacam itu? Bagaimana mungkin Allah Ta'ala akan memberikan pahala kepadanya, jika itu semua bukan ditujukan untuk Allah Ta'ala?

Allah Ta'ala berfirman, "Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Maha Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman." (Thaha [20]: 111)

Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah. Karena itu, semua amal semestinya diniatkan secara ikhlas untuk-Nya semata. 

Merugilah orang-orang yang berbuat riya' dan zalim dalam amalnya. Dia akan merugi lantaran amalnya akan menjadi seperti abu yang berhamburan, hilang ditiup angin atau terbawa hujan. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar yang bermanfaat